Sembuhlah.

1381 Kata
Cindy mengeliat merasakan tubuhnya berada dalam dekapan seseorang. Meskipun tak senyaman saat ia memeluk gulingnya sendiri, gadis itu semakin mendusel ke sesuatu yang keras tapi hangat saat wajahnya semakin menempel padanya. Andai saja suara alarm tak berbunyi, maka hal ini tak akan cepat berlalu. Ia membuka mata, mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Sungguh pemandangan pagi yang indah, dari dulu dirinya memimpikan ini. Tidur dan bangun di pagi hari dengan sambutan sebuah senyuman manis dari kekasih pujaan hatinya. Lelaki yang sedari mereka duduk di bangku SMA selalu ada untuknya, lantas mereka harus bubar karena merasa itu hanyalah cinta monyet belaka. Namun, kembalinya Mario di saat dirinya wisuda dalam pendidikannya, benih-benih cinta dalam hatinya itu tumbuh lagi. Mario, ya lelaki itu. Sosok lelaki hangat yang selalu ada dan mewarnai hari-harinya. Hingga sebuah kejadian dirinya merasa bodoh karena Cindy bahkan tak tahu apapun dengan latar belakang lelaki itu. Kekasih yang dia cintai layaknya separuh nyawanya. Kekasih yang dia kasihi sepenuh hati. Kekasih yang menjadikan dirinya tetap hidup dan bangkit saat Cindy terpuruk akan suatu hal. Tapi Mario... Dia bahkan membanting semua harapan gadis itu layaknya kaca cermin yang hancur berkeping-keping menjadi ribuan bagian. Semua hilang, semua luruh, semua tak bisa Cindy raih karena dia memiliki istri. Dia, kekasihnya... Adalah suami orang. Cindy menghela nafas panjang, ia bangkit dari ranjang dan duduk membelakangi lelaki yang terkejut dengan penolakannya. Mario hampir saja menciumnya, andai gadis itu tak langsung menyingkir dari hadapannya. "Cindy..." "Pulanglah, istrimu pasti mencarimu." ujar Cindy lirih lantas berlalu masuk ke kamar mandi dengan sakit hati yang membuatnya ingin menangis di bawah siraman air shower, agar tak ada seorangpun tahu akan air matanya. Setelah selesai mandi, melihat ranjang sudah kosong. Matanya sudah tak menemukan Mario yang tadi masih terbaring di sana. Kenapa hatinya merasa kehilangan? Kenapa ia masih berharap lelaki itu tetap tinggal meskipun gadis itu memintanya pergi? Apa yang dia harapkan? Memangnya tak cukup dirinya menangis meratapi kebodohannya selama ini? Cindy dengan gontai keluar dari dalam kamar mandi, tanpa hal yang ribet tanpa bersolek. Ia mengambil acak baju dari dalam lemari, tanpa niat membuat sarapan dirinya langsung berangkat kerja. Drrttt... "Halo." Cindy memasang earphone dan berbicara dengan seseorang yang sudah meneleponnya pagi ini. Mbak kapan sampai, pak Bimo di sini menunggu mbak. Dan ekhem... pak Mario mereka berkelahi. "Apa?" serunya. Baru saja lelaki itu pulang dari apartemennya, kenapa dia lebih dulu sampai ke butiknya. Apa Mario tak pulang ke rumahnya menemui istri atau bersiap kerja ke kantornya? Cindy melajukan mobilnya begitu kencang mendengar kabar dari Tere, ia takut sesuatu terjadi menimpa kedua lelaki itu. "Bajingann seperti anda memang tak pantas mendapatkan cinta yang tulus dari Cindy..." Cindy yang baru saja sampai dan membuka pintu butiknya. Matanya langsung di suguhnya pemandangan yang membuat hatinya terasa miris. Mario sudah babak belur dan tergeletak tak berdaya di lantai. Gadis itu berlari lantas memeriksa keadaan lelaki itu begitu panik, ia khawatir setengah mati. Kenapa Bimo menjadi kesetanan seperti ini? Bahkan ia tak sadar menangis saat membantu Mario duduk dan mengusap ujung bibirnya yang berdarah. "Kakak gilaa!" serunya. "Kakak melukainya...!" Cindy marah. "b*****h ini memang pantas mendapatkan itu." ujar Bimo dingin. Cindy menatapnya garang, nafasnya memburu tak mengerti dengan sesuatu yang terjadi pada Bimo. "Apa alasan kakak memukulnya?" Bimo mengatur nafasnya, lelaki itu menunjuk wajah Mario yang setengah duduk dalam dekapan Cindy penuh permusuhan. "Gara-gara dia, istriku pergi setelah malam harinya kami resmi menikah." geram Bimo, ia menatap Mario penuh amarah tanpa mempedulikan wajah bingung Cindy. "Gara-gara dia Cindy, gara-gara dia Riana pergi." ujarnya lagi, Cindy dapat menangkap ujung mata Bimo basah dan penuh penyesalan saat mengucapkan nama Riana. Cindy menatap Mario, mantan kekasihnya itu meringis kesakitan dengan wajah penuh lebam. "Apa yang kamu lakukan pada istri kak Bimo, Mario?" Cindy bisa menangkap gestur tubuh lelaki itu mulai gugup dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. "Cindy tolong dengarkan aku dulu sayang." "Apa yang kamu perbuat, hingga kak Bimo marah padamu?" tanyanya lagi dengan suara gemetar. Bimo menarik kasar kerah Mario, hingga membuat Cindy terkejut lantas ia memegang lengan kekar Bimo. "Kak tolong..." "Jangan di pukul lagi." Cindy bisa mendengar detak jantung Bimo yang tak beraturan, hembusan nafas menggebu, mata tajam seolah ingin membunuh Mario dan itu membuatnya takut. "Please kak, aku mohon." pintanya lirih menatap Bimo. Lelaki itu menghembuskan nafas panjang, ia menyentak keras Mario hingga lelaki itu kembali terjungkal di lantai. "Dengar, kalo saya tak segera menemukan istri saya. Maka saya pastikan hidup anda hancur tuan." ujar Bimo dingin, lantas berlalu dari hadapan mereka semua. Cindy memejamkan mata sesaat menghirup nafas dalam-dalam lantas menoleh ke samping melihat Mario yang tak berdaya itu. Dengan bantuan beberapa karyawannya, Mario di bopong masuk ke ruangannya dan sekarang Cindy mengobati luka-luka di wajah tampannya bogeman mantan calon suaminya itu. "Cindy..." Gadis itu diam, ia begitu telaten mengoleskan salep pada ujung bibir Mario yang sobek. Lelaki itu meringis merasakan perih tapi hanya sebentar karena Cindy dengan segera meniup pelan lukanya. "Maaf membuat kamu khawatir." Cindy menghela nafas panjang, sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang lelaki itu perbuat kepada istri Bimo. Tapi melihat kondisinya yang membutuhkan perawatan medis dirinya memutuskan mengantar Mario pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. "Nanti aku akan hubungi Gandi agar memberitahu keadaanmu pada dia. Bagaimanapun harus ada yang menjagamu di sini." dia yang di maksud Cindy adalah istri Mario. "Kenapa bukan kamu saja yang di sini Ndy?" ujar Mario lemah, ia menggenggam erat jemari gadis itu. Kesadarannya mulai memudar, mungkin karena dokter memberinya obat yang mampu membuatnya tertidur pulas. Cindy tersenyum tipis melihat lelaki yang terbaring di ranjang pasien itu, Mario harus di rawat karena tulang rusuknya retak karena Bimo memukulnya begitu keras. Pihak rumah sakit sempat mencurigai adanya pengeroyokan dan lain-lain tapi berkat bantuan karyawan Cindy lainnya mereka kompak bersuara bahwa Mario jatuh dari tangga hingga menyebabkan banyaknya luka di wajah serta bagian tubuh lainnya. "Cepat sembuh." Cindy mengecup ringan pelipis lelaki itu, ia mengusap kepalanya lantas bangkit dari duduknya. "Wow, romantis juga ternyata." Gadis itu tersentak, kepalanya menoleh ke sumber suara dan ia semakin terkejut melihat siapa seseorang berdiri di ambang pintu ruangan Mario di rawat. Tepuk tangan terdengar nyaring di udara saat dia melangkah masuk dan berdiri di hadapan Cindy. "Cindy, Cindy... Sebenarnya hatimu lembut, tapi sayang kau bodoh." ujarnya. Cindy masih setia akan keterkejutannya, matanya mengerjap berkali-kali menatap orang yang tersenyum jelas mengejeknya. "A-ap-apa yang-" "Ssstttt...." sahutnya sambil menutup bibir Cindy dengan jari telunjuknya agar gadis itu diam tak melanjutkan ucapannya yang gagap. "Jangan berisik, dia sedang tidur." Cindy menelah ludah dengan susah payah, tubuh gadis itu gemetar menatapnya. "Lama tak jumpa, sekarang semakin besar ya..." Cindy mengikuti arah pandangnya, sontak tangannya menyilang di depan dadanya setelah ia menyadari ucapan m***m lelaki itu. "Kau...Kau..." lagi-lagi Cindy tergagap, padahal dirinya merasa di lecehkan dengan sikap lelaki itu. "Apa yang kau lakukan disini...? Kau mengikutiku?" serunya setelah ia mengumpulkan seluruh kekuatannya. "Sssttt... Aku bilang jangan berisik, kau menganggu ketenangan pasien." Cindy ingin sekali mencakar wajah lelaki yang menatapnya penuh arti itu, seringai di wajahnya membuat gadis itu muak. "Katakan apa maumu?" tanya Cindy tanpa basa-basi. "Mau memeriksa pasienku." jawabnya lugas. Tubuh Cindy menyingkir setelah William mendorongnya kesamping. Setelah beberapa detik dirinya baru menyadari bahwa lelaki itu memakai seragam putihnya yang menyimbolkan bahwa lelaki itu adalah seorang dokter. Cindy hanya mengamati sedikit jauh dari tempat Mario berbaring, karena banyaknya perawat yang masuk menyusul William untuk memeriksa keadaan Mario. "Apa keadaannya baik-baik saja?" tanya Cindy lirih, ia begitu ragu menatap wajah William jadi yang gadis itu lakukan hanya menatap Mario yang masih terlelap. "Keadaannya baik-baik saja, untung Bimo tak menghajar bagian vitalnya. Dan retak di rusuknya perlahan akan kembali membaik bila dia beristirahat dengan cukup." Cindy sontak menoleh kearahnya, alisnya mengerut mendengar William begitu enteng menyebut nama Bimo. "Bagaimana tuan tau kalo kak Bimo yang memukulnya?" tanyanya heran. William hanya terkekeh tak berniat menjawab, ia beranjak dari hadapan Cindy setelah merasa cukup memeriksa keadaan pasien. "Jaga kesehatan, istirahat yang cukup dan jangan lupa makan makanan yang bergizi dan makan tepat waktu. Ingat kamu sekarang tak sendiri." ujarnya di ambang pintu, namun Cindy tak mengerti dengan ucapannya. Ia kembali duduk di sebelah ranjang pasien memutuskan menemani Mario sebentar, sementara menunggu sampai asisten lelaki itu datang. Setidaknya ia masih punya hati nurani, walaupun setelah ini mungkin Cindy akan pergi menjauh dari hadapan lelaki itu. "Sembuhlah..." gumamnya, sambil mengusap ringan luka lebam di pipi Mario.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN