Flashback
Malam ini tugas William menjaga sahabatnya yang kacau karena minggatnya sang istri setelah hari pernikahan mereka.
Lelaki itu sebenarnya tahu apa yang terjadi dengan Bimo, hanya saja dirinya ikut memberi pelajaran kepada lelaki ceroboh itu yang terlalu mudah terperangkap godaan wanita lain.
Ck, meskipun William seorang b******n. Tapi ia bersumpah tak akan menduakan wanita yang akan menjadi istrinya nanti.
Ngomong-ngomong membahas seorang istri, ia sangat merindukan seorang gadis gila yang telah ia renggut mahkotanya karena berani menyebutnya seorang gay.
Sedang apa ya dia?
William membuka laptopnya untuk melihat kegiatan apa saja yang dilakukan gadis itu.
"Lihatin apa lo?"
William menoleh ke arah Bimo, sahabatnya itu tampak lebih segar dari kemarin-kemarin.
"Lo mandi lama bener sih bro..." gerutunya.
Bimo mendecak sebal melihat William yang terus saja membuntutinya.
"Lo nggak pengen pulang bro? Gue pengen sendiri."
Nah ini yang mereka takutkan, William sudah sepakat bersama sahabat lainnya untuk menjaga Bimo agar tak melakukan hal yang di luar nalar.
"Gue nginep lagi, rumah gue mati lampu."
Bimo memutar bola mata malas, ketiga sahabatnya itu mendadak bertingkah menjadi sosok manusia yang menyebalkan. Kemana-mana Bimo pergi pasti akan ada yang mengikutinya.
"Gue nggak bakal bunuh diri tenang aja." ujarnya enteng.
"Lo lupa siapa minggu lalu yang mabuk sampai tak sadarkan diri?" jawab William mengingatkan tingkah Bimo.
"Hey, come on... Gue sudah tau apa yang menyebabkan istri gue kabur dari gue."
"Maksud lo?"
Bimo menghela nafas panjang, ia duduk di sebelah William lantas menyodorkan berkas padanya.
"Jadi Ranti?" Bimo mengangguk.
"Terus apa hubungannya dengan dia?"
William mengamati wajah lelaki pada foto yang Bimo berikan padanya.
"Mereka berdua sekongkol buat jebak gue." ujarnya geram.
William melotot, matanya menyipit sepertinya ia pernah melihat lelaki itu. Tangannya kembali membuka laptopnya dan benar lelaki itu sedang duduk lesu di depan apartemen Cindy.
"Lo lihat apa sih bro?" Bimo ikut mengamati layar laptop William.
Rahangnya mengeras, lantas menyahut laptop William dan me'zoom gambar cctv tersebut. Ia dapat melihat dengan jelas sosok Mario disana.
"b*****h ini...!" seru Bimo.
William panik melihat Bimo memukul meja begitu keras, ia segera menyimpan kembali laptopnya sebelum menjadi sasaran Bimo selanjutnya.
"Beritahu gue dimana bajingann itu sekarang." mata William melirik layar laptopnya lagi, ia bahkan tak menjawab Bimo.
Melihat Cindy memapah tubuh Mario susah payah membuat hatinya entah kenapa terasa sakit. Ia meraba dadanya yang mendadak nyeri sambil mengamati Cindy yang sibuk mondar-mandir di depan ruang tamu.
"Bro...!"
"Apa sih..." William kesal Bimo menyentak pundaknya keras sampai dirinya terkejut.
"Kasih tau gue dimana dia sekarang." serunya tepat di telinga William.
"Berengsekk lo, sakit kuping gue." sentaknya balik sambil mengusap telinganya.
Bimo terhenyak mundur karena sedikit takut melihat sahabatnya itu menatapnya garang.
"H-habisnya lo diem aja dari tadi." ujarnya lantas mendeham memperbaiki posisi duduknya.
Bimo melirik-lirik takut pada William yang begitu serius fokus pada laptopnya.
Tunggu...!
Bimo mengerutkan alis.
Dirinya baru saja menyadari, sejak kapan William menjadi stalker seperti ini.
"Lo...? Sejak kapan lo memantau kegiatan orang?"
krik..krikk...krikkk...
Bimo merasa garing sendiri karena William sibuk dengan dunianya dan tak mempedulikan dia. Ia memutuskan meninggalkan William yang duduk di ruang tamu apartemennya.
Sudah dua jam lebih William mengamati layar laptopnya.
Gadis yang mencuri perhatiannya itu nampak duduk di sofa setelah dirinya meminta salah satu security agar membantunya menggantikan baju Mario.
Untung saja gadis itu memilih meminta orang lain, kalau saja William melihatnya membantu lelaki itu ganti baju, maka malam ini juga dirinya akan mendatangi apartemen gadis itu dan menghajar habis lelaki yang merepotkan gadisnya itu.
Ck, gadisnya. Jelas saja Cindy adalah gadisnya, karena William meng-klaim dia sebagai miliknya setelah malam mereka bergumul.
Lelaki itu mengusap wajahnya yang tampak lelah, dan itu terlihat jelas oleh Bimo yang sedang memandangnya.
"Bro...?"
"Hmm." William menoleh sekejap lantas menutup layar laptopnya. "what's up?" tanyanya.
Bimo menggeleng, "nggak... Gue lupa mau omong apa tadi." Bimo lantas masuk ke dalam kamarnya dan meminta William untuk tidur.
Pagi harinya William menyampaikan pada Bimo bahwa ia tahu kemana perginya Mario, dengan membuntuti mobilnya yang baru saja keluar dari apartemen Cindy mereka terus mengikuti kemana arah mobil Mario yang ternyata malah mendatangi butik Cindy.
Bimo sudah tak sabar ingin memberi pelajaran pada lelaki itu.
Tanpa ba-bi-bu sahabatnya itu menyerang Mario membabi buta, William panik tentu saja tapi dia tak bisa menolong sebab itu bukan ranahnya.
Setelah meminta Bimo untuk pulang sendiri, entah kenapa William merasa bahwa Cindy akan kembali keluar dari ruang kerjanya.
William masih setia mengamatinya melalui ponsel. Ternyata bukan hanya apartemen Cindy, bahkan tempat gadis itu bekerja pun ia pasang kamera tersembunyi.
Cindy sempat meminta karyawannya agar membantunya memapah Mario untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi saat mobil yang mengangkut Mario melaju lebih dulu, gadis itu pingsan tak sadarkan diri di depan butiknya. William panik bukan main, ia lantas turun dari mobilnya dan berlari menolong Cindy.
Dirinya mengatakan kepada karyawan yang bekerja di butik Cindy bahwa William adalah seorang dokter, dan menyerahkan kartu namanya kepada salah satu dari mereka.
Mereka dengan mudahnya percaya hingga William membawa Cindy pergi ke rumah sakit.
Fakta mengejutkan William, Cindy telah berbadan dua. Janin yang ia kandung sudah empat belas minggu. Hal itu membuat William marah bukan main, bisa-bisanya Cindy tak menyadari itu. Apa gadis itu bodoh dan sibuk memikirkan lelaki tadi sampai lupa kalau sudah dua bulan lebih tak kedatangan tamu bulanannya.
William meminta kepada siapapun untuk tak memberitahu kabar bahagia ini kepada Cindy yang dia akui di depan karyawan rumah sakit sebagai tunangannya.
Ya... William tahu, janin yang di kandung gadis itu adalah darah dagingnya. Karena William setia mengikuti kemana saja gadis itu pergi selama dua bulanan ini.
Lelaki itu tampak kacau di ruang kerjanya, ia tak tahu saja bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada gadis itu.
"Selamat kau hamil anaku." gumam William.
Ia mengacak rambutnya lantas menatap ke depan dan menyiapkan kata-kata yang nanti akan dia sampaikan ke Cindy.
"Hey, kita harus nikah. Karena kamu hamil."
Sumpah itu nggak banget, William merasa dia konyol dengan ajakan mendadak itu.
"Ekhem... Cindy, aku minta maaf. Karena kecerobohan kita waktu itu hingga kamu harus mengandung anak saya." William mengerang frustasi.
"Sial..." umpatnya.
Ia sudah tak tahu harus bagaimana lagi, mendingan dia pergi melihat keadaan gadis itu.
"Eh, tunggu mbak..." serunya kepada perawat yang merapikan ranjang yang seharusnya terdapat Cindy di sana.
"Pasien yang tadi kemana ya?"
"Oh, bu Cindy dok?" William mengangguk.
"Setelah siuman, beliau mengatakan ingin melihat keadaan pasien yang bernama Mario." jelasnya.
Rahang William mengeras, kenapa gadis itu masih saja peduli dengan bajingaan itu.
Willam tersenyum kepada perawat tersebut, "makasih ya mbak." ia berlalu meninggalkan perawat tadi yang sekarang mungkin sedang kejang-kejang karena pesonanya.
Willam berdiri di depan pintu ruangan Mario, ia dapat melihat Cindy berbincang sebentar dengannya. Ada rasa tak rela saat gadisnya mengecup ringan kepala lelaki lain di hadapannya. Tanpa pikir panjang ia masuk dan itu tentu mengejutkan gadis itu.
William yang tadinya hanya ingin melihat keadaannya dan memberitahu fakta gadis itu yang tidak tahu bahwa dirinya sendiri hamil karena William, tiba-tiba saja otaknya kosong.
Mendadak dirinya begitu kerdil untuk memberitahu kabar bahagia ini kepada gadis itu.
William takut Cindy akan menolak kehadiran janin itu.
William bahkan tak sanggup melihat gadis itu akan terluka karena fakta ini.
Apalagi melihat sorot mata gadis itu begitu mengkhawatirkan keadaan lelaki yang sedang terbaring lemah di ranjang, membuat hatinya terasa tercubik.
William tak sanggup dan dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua sepasang manusia yang berada dalam ruang rawat itu.
"Sial, kenapa gue jadi pecundang begini sih." gerutunya sendiri di dalam ruang kerjanya.
Willam menyusupkan jemari tangan ke rambut kepalanya, hingga menariknya kencang berharap pusing yang mendadak melandanya akan berkurang.
Lelaki itu merasa dirinya gila, uring-uringan sendiri sedari tadi dan terus merutuki kebodohannya sendiri karena tak memiliki keberanian mengakui hasil perbuatan bejatnya.