I don't want

1560 Kata
Selamat ya bu... Selamat ya bu... Selamat ya... Cindy tak mengerti, kenapa semua perawat bahkan dokter yang berada di rumah sakit tersebut yang berjalan bersimpangan dengannya maka mengucapkan hal yang sama dengannya. "Mbak Cindy, kenapa mereka semua aneh begitu ya?" bisik Tere padanya, Cindy mengangguk cepat sesekali tersenyum ramah menatap mereka yang menyapanya. "Aku juga ngerasa gitu Re... Kayak kita tu menang kampanye, ya nggak...?" mereka tergelak bersama, tapi sekelibat bayangan dirinya pernah di bawah selimut yang sama dengan seorang lelaki asing membuatnya berhenti melangkah. "Mbak...?" Cindy diam, mendadak tubuhnya mematung. "Eh, eh... Mbak mau kemana?" "Kamu tunggu aku di mobil, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan dokter." gadis itu langsung balik badan dan berlari meninggalkan Tere yang tak paham dengan tingkah bosnya itu. "Kenapa mbak Cindy juga ketularan aneh sih." gumam Tere, dia pun memutuskan pergi ke tempat parkiran mobil menunggu Cindy yang entah kemana. Cindy terus berlari menelusuri koridor, tak sedikit orang berseru mewanti-wantinya agar berhati-hati mengingat dirinya sekarang sedang berbadan dua. Alisnya menyatu mendengar itu. Siapa yang berbadan dua? Entahlah, jantungnya berdetak sangat kencang. Perasaan tak nyaman merebah ke seluruh relung hati. Cindy yang berniat bertanya beberapa kali kepada perawat yang berlalu lalang di rumah sakit tersebut agar menunjukan ruangan lelaki itu, tapi dirinya malah mendapat ucapan selamat lagi hingga ia semakin penasaran. "Maaf... Apa maksud dari ucapan selamat anda ya mbak? Hehe, saya nggak ngerti deh." "Loh bu Cindy kan sedang hamil..." ujarnya tersenyum. "Selamat ya bu." Cindy mengangguk kaku, tubuhnya lemas mendengar itu. Tangannya sontak meraba perutnya yang masih datar, meskipun ada rasa yang belum biasa dalam dirinya. "Aku hamil..." ujarnya lirih. Hatinya menghangat setelah mengetahui adanya nyawa di dalam sana. Senyum tipis mengembang, jemarinya merayap seakan tubuhnya mampu memeluk makhluk kecil yang masih belum terbentuk sempurna itu. Cindy menghirup udara dalam-dalam, memang itu kemungkinan terjadi karena waktu dirinya melakukan hal itu sampai sekarang gadis itu tak mendapatkan tamu bulanannya. Dia kembali melangkah. Sesuai arahan yang di berikan salah satu perawat tadi, Cindy masuk ke dalam lift yang sudah terdapat dua perawat di sana. "Eh, gue denger-denger dokter tampan kita sudah punya tunangan." Cindy melirik dengan ujung mata karena dirinya tak sengaja ikut mendengarkan celoteh mereka. "Iya bener, dan tadi siang dia mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikah." sahut temannya. "Sayang sekali, kita kalah start." ujar yang satunya terdengar lemas tak semangat. "Sudahlah, biarpun nantinya mereka menikah yang penting kita di sini tetap bisa cuci mata buk." jawab satunya lagi mencoba menghibur. Entah kenapa mendengar itu Cindy ikut tersenyum, karena hal itu mengingatkan dirinya pada satu momen di saat Cindy bersama kedua sahabatnya. Mereka bertiga sangat mengagumi dosen pembimbing dalam fakultasnya dulu. Tampan muda dan menakjubkan. Tapi sayangnya dosen itu sudah menikah bahkan punya dua anak kembar. Cindy selalu geleng-geleng kepala apabila Amanda heboh karena sapaannya di balas dosen tersebut. "Iya sih, apalagi tunangan dokter William sudah hamil dua bulan." Keduanya menghela nafas panjang, mungkin seperti itulah yang di rasakan Amanda waktu itu. Wait the minute... Mata Cindy mengerjap berkali-kali. Apa dia tadi tidak salah dengar. Dokter William? Bukankan itu lelaki yang dulu tidur dengannya itu. Saat mulut Cindy ingin menanyakan hal mengganjal itu, lift yang mereka tumpangi berhenti di lantai yang Cindy tuju. "Bu? Bu? Maaf?" "Ya?" Cindy menoleh saat kedua perawat itu memanggilnya. "Bukankah anda akan ke lantai tujuh belas?" Cindy sontak memandang layar yang menunjukan lantai tersebut, ia meringis sambil sesekali membungkuk. "Maaf..." ujarnya merasa bodoh, ia cepat keluar dari kotak besi itu dengan kedua pasang mata menatapnya aneh. "Bukankah itu tadi calonnya dokter William?" ujar salah satu perawat, tapi sayangnya Cindy tak mendengar itu karena dirinya buru-buru pergi untuk menemui William. Langkah Cindy terasa berat dan ragu-ragu menatap pintu ruangan yang sudah terbuka lebar. Matanya menangkap sosok sepasang manusia yang sedang berbincang sesekali tertawa hihi haha bahagia membuat Cindy yakin bahwa wanita yang duduk bersandar di meja kerja William adalah tunangan lelaki itu. Hal itu membuat Cindy semakin ragu untuk menanyakan hal yang baru saja ia ketahui, sekejap dia berfikir untuk kembali pulang saja dan menganggap semua itu hanya lelucon. Tapi, bagaimana mungkin itu terjadi bila dirinya sendiri mendengar dari salah satu perawat yang mengatakan bahwa Cindy sedang berbadan dua. "Gimana nih." gumamnya berdiri bersandar di tembok dekat pintu ruangan itu. Telinganya mendengar mereka berdua bersenda gurau seperti ini membuat Cindy tak tega mengganggu waktu mereka. Tapi dia akan selalu penasaran bila hal yang ingin ia tanyakan belum dia sampaikan kepada lelaki itu. Cindy menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan. Mengepalkan kedua jemari tangannya di depan dadanya, dengan tatapan kedepan begitu yakin bahwa dirinya harus bisa berbicara empat mata dengan lelaki itu. Harus...! "Tuan...?" William yang sedang berbicara dengan seorang wanita yang sangat anggun dan cantik itu langsung menoleh ke arah pintu yang terdapat Cindy berdiri di ambang pintu. Lelaki itu sontak meminta sosok wanita yang masih setia duduk bersandar di meja kerjanya serta menghadapnya itu agar keluar terlebih dahulu memberi ruang untuk mereka berdua. "Tapi nanti malam kamu mau kan Will, temenin aku sebentar aja." William menghela nafas, matanya melirik ke arah Cindy yang berdiri tak nyaman di dekat pintu. "Nanti kita bahas lagi, sekarang aku ada perlu sama dia." ujar William padanya. "Tapi Will..." "Please Bi, beri waktu lima menit saja. Setelah itu kita akan bahas itu lagi." Wanita itu beranjak dari duduknya dengan wajah masam, lantas melangkah menghampiri Cindy. "Hey..." sapanya mengulurkan tangan. "Bianca..." Cindy menatap jemarinya ragu tapi tak urun ia pun menyambut jabatan tangannya. "C-Cin-Cindy." Bianca tersenyum menatapnya, matanya menelusuri sosok yang berdiri tak nyaman di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya memandang seorang gadis yang menurutnya lebih muda darinya, sama sekali tak berdandan dan tak begitu tinggi. Tapi Bianca kagum dengan kecantikan alami dari Cindy, bahkan tanpa polesan saja gadis itu begitu mempesona. "Ada perlu apa kamu kemari?" tanyanya ramah. "Saya-" "Bianca..." tegur lelaki itu. Wanita itu terkekeh pelan, "Ayolah sayang, aku cuma mau menyapa dia sebentar. Lagian apa salahnya berteman dengan temannya calon suami aku sih." Sayang? Calon? Bukan-bukan, yang dia dengar calon suami? Berarti benar William sudah bertunangan dan tunangan lelaki itu hamil anak mereka? Kepala Cindy mendadak pusing memikirkan ini, kalau benar kabar yang ia dengar bahwa William akan menikah. Lalu bagaimana nasibnya nanti, maksudnya calon bayinya bukan lelaki yang nantinya menjadi ayah untuk calon bayinya. Mata Cindy mengerjap beberapa kali menatap wanita yang kemungkinan besar adalah seorang dokter, melihat seragam yang mereka pakai sama. "Apa aku buat kamu tak nyaman Cindy?" ujarnya lembut hingga Cindy yang mendapat pertanyaan itu sontak menggeleng cepat dan itu membuat Bianca gemas melihatnya. "Duh, kamu lucu banget sih." Bianca menoel ujung hidung Cindy lantas menepuk pundaknya. "Ya sudah aku tunggu di kantin ya, bye..." William mengangguk dan tersenyum tipis menatap Bianca, setelah wanita itu pergi ia bangkit dari kursi putarnya dan mempersilakan Cindy untuk duduk di atas sofa. "Ada apa Cindy?" ujarnya setelah menaruh dua kaleng minuman bersoda. "Maaf saya tidak minum." William mengangguk setuju, "good, ini memang tidak bagus untukmu." ujar William lantas bangkit dan kembali dengan dua botol air mineral. "Minumlah dulu." ujarnya mengulurkan air yang sudah di buka tutupnya, tapi Cindy tidak mau minum, ia menggeleng karena dirinya terlalu gugup sekarang. "Ekhem tuan, sebenarnya-" "William." "Apa?" "Panggil aku William saja." ujarnya lembut sambil tersenyum tipis, hal itu malah membuat Cindy terpana dan meleleh karena memandang wajah tampan itu. "Cindy?" "Ah ya...?" "Kamu tak papa?" Cindy menggeleng sambil mengibaskan tangan di depannya, "Saya tidak apa-apa, hanya saja saya ingin menanyakan sesuatu tu-an ekhem maksudku dok." William mengerutkan dahinya mendengar Cindy yang malah memanggilnya dengan sebutan dokter. "Ada apa?" "Dulu..." Cindy memaku wajah William, "apa dokter William memakai kondoom saat kita melakukan itu?" wajahnya langsung memerah karena pertanyaannya sendiri, hal itu menyebabkan William terkekeh geli. "Tidak." Deg... "Apa kamu sudah tahu?" "Sudah tahu?" tanyanya tak mengerti. "Iya..." "Maksud dokter?" Demi apapun, William benci dengan sikap Cindy yang mencoba mendirikan sebuah tembok pembatas di antara mereka. "Kehamilan kamu Cindy." jelasnya, kedua jemari Cindy langsung mengepal. Berarti benar bahwa dirinya hamil, lalu bagaimana nasib bayinya nanti. Lagi-lagi ia memikirkan itu. "Are you okay?" Cindy langsung menggeleng dan tersenyum menatap William. "Saya baik-baik saja dok." jawabnya. "Cindy..." "Iya?" William menghirup udara begitu dalam, "Aku akan menikahimu." mata Cindy melotot mendengar itu. "Jangan..." "Maksudnya?" William sungguh tak paham. "Dokter tidak harus menikahi saya." "Apa maksudmu Cindy, itu darah dagingku." ujar William lirih yang hampir saja berteriak emosi di hadapan gadis itu. "Karena saya tak menginginkannya?" "Cindy!?" William tak percaya itu, "Jangan katakan kamu akan membuangnya?" Cindy tak menjawab, gadis itu malah bangkit dari duduknya. "Saya permisi dok." "Tunggu...!" Cindy berhenti di ambang pintu. "Kenapa kamu menolakku? Aku bahkan ayah dari janin itu dan aku mau bertanggung jawab?" "Karena saya tak menginginkannya?" "Kamu tak menginginkannya? Are you seriously, you don't want?" tanya William mencoba meyakinkan ucapan yang keluar dari mulut Cindy, tapi sangat mengejutkan gadis itu mengangguk dan tersenyum menatapnya. "I don't want." jawabnya dan keluar dari ruangan William. "What the heck...? Bagaimana bisa?" gumamnya lirih, tubuh William lemas dan luruh di sofa hingga ia terduduk bersandar di sana. William benar-benar kehilangan akal dengan jawaban yang dilontarkan oleh gadis itu. Cindy lebih memilih tak menginginkan janin itu ketimbang menikah dan membina rumah tangga dengannya. "Apa otaknya bermasalah, padahal gue bersedia tanggung jawab." gumamnya sendiri sangat jengkel. "Oh god... Wanita itu benar-benar membuat kepalaku pusing." William menjambak rambutnya begitu kuat, ia sangat berharap hal itu bisa mengurangi rasa pusing yang mendadak melandanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN