“Tita bapak kamu apa kabar?” Setelah makan siang yang sedikit ruwet dan heboh karena Adel dan Tita terus saja mengoceh, ketiga wanita beda generasi itu duduk bercengkrama di depan televisi. Seringnya datang berkunjung, beserta sikap dia yang selalu terbuka dengan orang baru, membuat Tita bisa dengan gampang mengakrabkan diri dengan siapa pun. “Bapak Alhamdulillah sehat, Tante. Tapi jadi sedikit cerewet saja karena keseringan dekat dengan ibu-ibu komplek,” jelas Tita dengan mencomot satu siomay yang disuguhkan di depannya. Mata Bu Rik sedikit menyipit mendengar pernyataan sahabat putrinya itu. “Bapak kamu ikut acara PKK juga apa gimana, Tit?" Tita menggeleng cepat. “Enggak gitu juga, Tante. Maksud Tita warung bapak kan sering didatangi ibu-ibu komplek buat belanja. Jadi, ya wajar saja

