“Hari senin kan kita akan bicara, nanti saya hubungi.” Ucap El
“Gak perlu. Saya perlu sekarang.” Glad bicara teramat dingin, El malah memberi senyum termanisnya. Glad malah merasa teraniaya dengan senyuman El.
Glad menarik tangan El keluar menuju teras gedung sebelah kanan.
Willy mengikuti dengan jarak agak jauh.
“Kamu baru break saja sudah mau di gandeng cowok itu. Kamu tau siapa cowok b******k itu. Kamu pasti sudah tidur dengan nya, depan gue, lu jual mahal."
“Gue tau gue melakukan kesalahan. Tapi gue gak tidur dengan dia. Hanya foto-foto doang. Lu diemin gue berhari-hari. Skarang mau lu apa, kalau lu ingin duit tinggal ngomong berapa gue kasih, apa harga diri lu semurah itu. Tidak ada cewek yang gak bisa di ajak tidur sama cowok b******k itu. Gue kecewa.” Glad terus nyerocos gak memberi kesempatan El bicara.
“Aku gak bisa nolak dia, karena….,” El belum selesai bicara.
“Hahaha, jelas cewek mana yang bisa nolak pesona dia. Dasar cewek miskin, gue sengaja tidak memperlihatkan siapa gue, untuk menjaga perasaan lu. Lu tau siapa gue? Gue adalah Gladwell Alexander Dirham pemilik banyak perusahaan. Lu Pasti tau kan siapa Alexander Dirham. ” Glad sangat emosi.
“Glad dengarkan aku dulu, dia adalah…..” El berusaha menjelaskan.
“Dengarkan katamu, kamu mau mencari pembenaran atau pembelaan, sudah ga masuk sama gue.” Glad makin emosi.
Plak…. Plak…. Glad menampar pipi kiri dan kanan El sampai terhuyung.
Willy kaget, ga nyangka, berlari mendekat.
“DASAR b***h. Kita putus sampai disini.” Glad berbalik, persis di depan badannya, Willy berdiri.
“Dasar bodoh,” Willy menampar Glad, lalu berbisik, terima kasih kamu sudah
memutuskannya, selama ini aku menjaga menahan diri untuk tidak menganggu hubungan kalian.
Sekarang saya akan berjuang mendapatkannya.”
“Berjuang untuk mendapatkannya?” Glad bergumam mengulang ucapan Willy,”
Berarti dia belum mendapatkannya, Sialaan kenapa gue emosi, ga denger penjelasan dia. Sialan !”
Willy menarik tangan El meninggalkan Glad yang terbengong. Lalu ke lobby telpon supir untuk menjemput di lobby, Willy terus merengkuh Bahu El yang terisak.
“jangan tangisi cowok b******k itu.”
Sepanjang jalan El menangis, Willy membiarkannya menagis untuk meluapkan emosi.
Setelah agak reda Wlly bicara.
“Maafkan karena aku ajak kamu kesini kamu jadi mendapatkan perlakuan ga enak.”
“Ga apa-apa kak, karena kejadian ini aku jadi tau sifat dia. Aku ga suka laki-laki yang berani main fisik ke perempuan.” Desis El.
“Andai Glad mau mendengar sedikit penjelasanku,” El bergumam.
“Apa perlu aku datangi dia untuk mejelaskan masalahnya ?”
El menggeleng.
“Sekarang sudah jelas siapa dia. Aku gak nyangka dia berani menamparku dan mengungkit kemiskinaku. Itu sudah sangat jelas. Aku gak malu jadi orang miskin. Aku hanya menjaga perasaan ibu bapakku kenapa gak pernah bawa Glad ke rumah kakak.”
Willy terus memeluk nya.
“Saya gak mau bapak dan ibu merasa rendah diri di depan pasanganku. bilang kalau aku sudah beli rumah sekecil apapun baru akan dibawa dia ke rumah sendiri. Karena saat ini masih numpang di rumah kakak, aku tidak mau menyakiti hati ibu dan bapak.” El kembali menangis.
“Aku sedang mengumpulkan uang, karena uang dari beasiswa sudah cukup buat hidupku. Aku tidak pernah memakai uang yang dari kakak atau uang ngajar karena ingin membeli rumah buat ibu.”
“Kamu kan bisa bilang saudara atau siapa, ga perlu bilang numpang.” Ujar Willy.
“Aku tidak mau membohongi siapapun. Dia tau saya anak angkat dari pembantu. Tapi dia tidak tau saya numpang di kakak. Dia pun menawarkan mau membelikan rumah tapi aku tolak.
Itu sangat memalukan.” El terisak.
Willy makin mengagumi El yang tidak tergiur materi, padahal dengan kecantikannya, El bisa kaya raya dalam sekejap.
Tak terasa mereka sudah sampai, Mereka turun.
“Sekarang tenangkan dulu kamu. Berusaha lupakan semua yang terjadi. Fokus kuliah, sebentar lagi kamu magang. Dan skripsi. Sayang sudah jauh pada posisi ini kalau kamu sampai
hancur”
“Ya kakak aku ga mau menangisi cowok itu lagi.” El langsung pamit ingin membersihkan badan dan merebahkannya.
El berusaha melupakan semua yang terjadi. Fokus kuliah walau sangat sulit. Beruntung ada Willy dan Olin disisinya.
Dia selalu membesarkan hatinya. Bersyukur badai cinta yang dirasakan
cepat berlalu.
“Gue bingung ga nyangka nih magang di perusahaan nya si Glad,” ujar Olin.
“Ya kenapa lu kan gak ada masalah, kalau gue pasti bingung.” Balas Ellen.
“Kalau Glad nanya-nanya Elu gimana.”
“Jawablah sesukamu, gue sudah gak mau ambil pusing.”
“Hebat lu cepet move on.” Olin turut seneng.
“Kan ada elu dan Tuan willy yang selalu menghibur.” El seneng.
“Mungkin saja Tuan willy naksir elu.” Olin curiga.
“Kan Gue bilang dia mah bulan susah dijangkau, sudahlah jangan ngebayangin yang nggak-nggak.” El menutup pembicaraan.
“El kenapa gak magang di kantor Pak Willy.”
“Dia sih nawarin dari jauh sebelumnya juga, ga enak nanti di istimewakan, malah jadi ga berasa magang. gue sengaja nyari perusahaan kecil saja. Biar ga terlalu cape, dan mudah-mudahan gak ada senioritas.
= = = = =
Hari pertama magang El seperti biasa ditunjukin divisinya. El di bagian pengembangan.
Diperkenalkan pada karyawan bagian tersebut. Tiga hari hanya memperhatikan orang bekerja, ada yang ngajarin. Hari ke empat seseorang melewati ruangan Divisi pengembangan yang ber-kubikel satu sama lain berhadapan.
El spontan menjerit kaget. Semua menoleh termasuk orang yang lewat juga, semua langsung mendekati, “Kak harari, benarkah anda kak harari mata El berkaca.”
Yang ditanya menggernyitkan dahinya,
”Ya saya Harari, anda siapa ?”
Ellen menggigit lidahnya, ternyata Harari melupakan nya, ”Kakak sudah lupa sama Ellen ?”
“Ellen… kamu Ellen” Harari langsung melompat memeluk Ellen, ditariknya Ellen ke ruangannya. Diciuminnya wajah Ellen tak henti-hentinya sambil menangis.
“Ellen, kakak berusaha nyari kamu sudah pasang iklan dimana-mana.” Harari begitu bahagia bisa bertemu Ellen.
“Ya kakak, Ellen sangat sedih ketika kakak dan ibu pergi, Ellen sempet terlantar tapi untung ada yang ngangkat anak,” ellen terisak antara sedih dan bahagia.
“Maafkan Ibuku El, gara-gara pria itu semua menderita,” Harari tak henti-hentinya mengusap wajah Ellen,
“sungguh kamu jadi cantik sekali, kalau ketemu di jalan kakak ga akan
mengenalimu.”
“Kamu tidur dirumah kakak ya, itu juga rumah kamu juga, kakak akan mengganti rumah yang ibu jual. Itu kan rumah hak kamu. Kakak marah sekali pada ibu ketika menjual rumah itu.”
“Besok saja, nanti sore kakak harus ketemu ibu angkatku.”
“iya sekalian nganterinmu, kakak ingin mengucapkan terima kasih pada keluarga angkatmu.
“Ngomong-ngomong kabar ibumu bagaimana ?”
“Sudah meninggal, dia merasa berdosa telah menelantarkanmu akhirnya sakit-sakitan dan meninggal.”
Ternyata Harari kepala cabang perusahaan ini. Seharian El dan Ari, panggilan harari, ga kerja hanya ngobrol saling berbagi cerita. El menceritakan bagaimana sampai dia sekaarang ini
dari tinggal di pasar.
Harari cerita, ibunya salah memilih pria tersebut, ternyata makin ke sini makin suka kekerasan. Akhirnya pria itu meninggalkan ibu, dan ibu terus-terusan menyesali meninggalkanmu, pernah kita menelusurimu sampai kamu jadi pembantu di jakarta, ternyata kamu kabur, dari situ terputus.
Karyawan yang lain memakluminya. Dan ikut terharu atas pertemuan kakak adiknya itu.
Padahal ga ada hubungan darah sama sekali.
Sore hari Harari mengantarkan El ke rumah Willy. Langsung ke ruang belakang. Ari ketemu orangtua angkat, dan mengucapkan banyak terima kasih telah begitu menyayangi El.
Setelah lama mengobrol, El membawa Ari ke rumah induk untuk dikenalkan ke Willy. Ari nunggu di ruang keluarga, sedang El naik menuju kamar Willy.
Tok…tok….tok….
Ketukan ketiga pintu di buka.
“Ada apa El ?”
“Aku ketemu kakak tiriku, sekaraang ada di bawah.”
“Ok, kita temui dia.” Willy berjalan beriringan dengan El menuju ruang keluarga, El langsung memperkenalkan Harari.
“Kak, ini kak harari,”
“Willy,”
“Rasanya saya familiar dengan wajah anda, dimana yaa ?.. ohh di club Xen
“Oh iya, itu club sahabat saya.”
El ke dapur dulu membuat teh untuk mereka mereka.
“Pak Willy,”
“Panggil saja nama,” Willy keberatan di panggil pak.
“Saya mengucapkan terima kasih telah menampung adik saya, El tumbuh dengan sangat baik, saya bahagia sekali melihatnya.”
Setelah berbasa-basi ngobrol akhirnya Harari pamit, dan minta El sesekali nginap di rumahnya.
“Kamu kelihatan bahagia banget ketemu kakak tirimu,” Ujar Willy.
“Aku masih ingat dia baik banget sama, punya apapun sebelum dia makan pasti mencariki dulu. Harus aku dulu yang makan. Ketika ayah menikah dengan ibunya, aku senang sekali mendapat kakak dan dia senang sekali mempunyai adik, dari situ kami tidak terpisahkan.”
“Aku ikut bahagia kamu ketemu kakakmu,” willy bersimpatik.
“Bolehkah aku tetep tinggal disini ? Aku tidak mau meninggalkan ibu dan bapak ?"
“Aku malah akan sedih kalau kamu keluar dari rumah ini.” Sahut Willy.
***TBC