19. Di Pesta

1645 Kata
Willy ngajak kumpul di club nya Xen, “El sepertinya lagi break sama pacarnya.” Willy membuka obrolan. “Kesempatan buat deketin, Lu lebih mudah karena serumah.” Jery nyemangatin. “Yang gue ga nyangka pacarnya El bukan orang sembarangan.” Ujar Willy. “Siapa,” Xen penasaran. “Kita sering ketemu di club sini.” Willy berlanjut, “ Galdwell.” “Galdwell Alexander Dirham ?” serempak ketiga temennya berteriak. “Ya, sepertinya El tidak menyadari siapa Galdwell.” “Berarti parah banget polosnya, dan ga nyari tahu siapapun tentang pacarnya.?” “Dia biar cerdas dan pintar, tapi dia sangat berfikir sederhana, ga neko-neko, ga berfikir materialistic. Bikin gw makin kepincut. Dia deket sama gue ga sedikitpun berusaha memanfaatkan gue. Lempeng banget otaknya.” “Mumpung lagi ada kesempatan, lu kejar.” Trigon ngomporin “Gw harus hati-hati bertindak.” Willy berfikir. “Lu kasih masukan dong gue harus gimana?” “Lu kan sudah deket, dia sudah mau curhat. Coba ajak nonton kek, kemana gitu. Bilangnya membantu untuk menenangkan biar nanti ngambil keputusan dengan benar.” Xen ngasih masukan. “Hahaha,… dasar otak kadal, buat ngadalin lu kepikiran saja. Nanti gue pikirkan.”Willy ketawa. “Lu jangan telat melangkah keburu dia memaafkan kelakuan si Galdwell.” “Bener juga.” Willy mikir = = = = = Ketika lagi kerja paruh waktu. “Kak kapan kerja paruh waktunya selesai, sekertaris kakak masih mabok” “Entahlah, sepertinya sudah nggak, tapi ga enak juga kalau nyuruh dia lembur.” “Hmmm… gimana ya kak, mulai bulan depan sepertinya aku akan magang. Jadi ga bisa kerja lagi sepertinya.” “Waduh kalau magang di kantorku ketahuan sekertarisku ga hamil. Tapi gampanglah nanti diajak kompromi.” Willy membathin. “Mau magang di kantorku El ?” “Nggak, aku sudah dapat tempat magang kok kak,” “Ya sudah kalau sudah dapat, kenapa ga milih di perusahaanku ?” “Ini diajak temen biar ga sendiri banget pas masuk, gak enak kalau gak ada yang kenal.” “Kan kamu kenal aku, ga ada yang berani bully kamu nanti.” Willy terkekeh. “Ngomong-ngomong, bisa nemenin aku ke pesta peresmian hotel partnerku ?" “Kapan kak ?” “Malam minggu, aku ga enak kalau pergi sendiri. Bisa kan ?” “Bajumu nanti aku siapkan.” “Boleh.” Tapi nanti disana biasanya ada dansa. Kamu harus dansa denganku. Dari sekarang aku ajarin dansa ya.” Ucap Willy. “Aku malu kak,” “Kamu harus banyak mempelajari hal baru seperti table manner, kalau nanti jodohmu orang berpengaruh kamu sudah siap.” “Hahahahaha…. Emang ada gitu orang berpengaruh mau sama aku ?” El sangsi. Akhirnya Willy yakin emang El tidak tahu siapa Gladwell. “Kan untuk belajar gakada salahnya. Katanya kamu mau belajar di luar negeri siapa tau nanti bermanfaat.” “Belum tentu juga dapet beasiswanya, banyak sekali yang daftar.” “Jangan pesimis gitu,” Willy nyemangatin El akhirnya mau belajar dansa, Tiap malam El belajar dansa, cepet juga dia mnguasai, sangat menyenangkan walau berkali kali nginjak kaki Willy, mereka bercanda dan tertawa bersama. Willy pun mengajari cara berjalan yang percaya diri dan elegan. Setiap wajahnya berdekatan… El maupun Willy merasa ada getaran yang yang terhubung, Willy menyadarinya, tapi El masih bingung ada apa dengan jantungnya kok berdebar lebih kencang. “Kamu jangan sekali-kali menunduk kalau jalan, busungkan d**a, tatap dengan tajam lawan bicara, jangan mengalah dalam pandangan mata. Perlihatkan kita adalah seseorang yang berharga.” El meresapi pelajaran yang disampaikan Willy dengan sungguh-sungguh. "Besok kamu jam 4 ke kantor saya, kita akan pergi ke suatu tempat." Besoknya El jam 4 sore ke kantor Willy, seseorang sudah nunggu di lobby, ketika sampai di ruangan Willy sekretarisnya di suruh sembunyi dulu. Setelah di layar CCTV di lobby melihat El, “Aura… lu cepet sembunyi jangan ada disitu,” “Kenapa pak ?” “Nanti di jelaskan, sekarang sembunyi di ruang rapat atau gabung sama temen2mu bantuin kerjazn mereka. Setelah gw keluar lu boleh keluar.” “Ada apa sih si boss tuh aneh banget,” Aura menggerutu, ”masa gw bengong di ruang rapat sendirian.” Setelah masuk ruangan Willy, “Wooww keren banget kantor kakak.” El mengagumi interiornya. “Wah pacar kakak pasti orangnya keren, kakak sudah tampan, tajir melintir siapa yang akan nolak jadi pacar kakak.” “Entahlah El, ada yang mau aku tembak, tapi maalah aku takut ditolak.” “Haah beneran ada cewek yang nolak kakak ?” “Ga tau sih nolak atau nggak, Cuma aku takut ditolak jadi gak berani, soalnya cewek itu spesial banget.” “Tetep saja bodoh sih menurutku sampai nolak kakak.” Willy tersenyum kecut, Ayo kita berangkat. Mereka beriringan keluar, pas bubaran kantor. Banyak orang pulang kerja di lobby, pada menatap El, Willy menggandeng tangan El, yang membuat El menjadi kikuk. Langsung menarik tangan El untuk masuk mobil yang sudah di buka supir. Willy chat sekretarisnya, “Sekarang lu boleh pulang,” “Dasar gelo..” Aura ngomel. “kamu sudah diajarin cara berjalan, lakukan setiap saat,” bisik Willy pada El. El mengangguk. Willy mengajak El ke mall kelas atas. “Kakak mau beli apa ke mall, kenapa harus denganku ?” El bingung. “Pokoknya kamu nurut apa yang aku perintahkan. Ga boleh nolak.” El diajak ke counter sepatu, suruh beli beberapa pasang sepatu, ke counter baju kantor, ke counter tas. “Kak ini kebanyakan, liat tuh yang bawa barangnya sampe kerepotan gitu. Sudah dulu belanjanya.” Ucap El, padahal yang bawa barang sudah 2 orang. “Jangan protes,” willy menggeleng. “Kakak kerasukan jin belanja ya ?” Willy tertawa, ”Iya kerasukan jin cinta. El ketawa ngakak… “Ayo sekarang sudah selesai. Kita ketempat lain.” “Masih belanja ?” Willy mengangguk. Sekarang yang dituju Willy butik baju pesta. El disuruh coba baju yang dipilih Willy. Akhirnya pilihan jatuh pada baju warna perak yang full pressed body dengan bahu terexpose, ketika di coba, berjalan lagaknya seorang peragawati dan memberi cium kiss bye menghadap Willy yang sedang duduk, sampai Willy bengong ga nyangka El suka becanda gitu. “Kamu menakjubkan.” Willy mengangguk setuju Setelah selesai willy mengajak makan malam di resto mewah sekalian mengajarkan table manner, cara minum wine megang gelas cara makan steak. Semua ada aturannya. “Kakak kenapa sampai segininya membeli barang-barang buat El ?” “Kamu mulai saat ini harus tampil menawan. Cantik dan pakaian mahal saja belum cukup yang terutama gesture dan pembawaan diri.” Willy sedikit-sedikit memasukan pelajaran kepribadian. “Terima kasih kakak," El menangis. “Kenapa menangis ?” “El jadi inget ayah, Ayah selalu bilang, cewek harus selalu berpakaian yang pantas, makanya ayah selalu membelikan El baju-baju yang bagus.” Willy menarik bahu El dan di peluknya. “Kamu mau apapun sekarang bilang sama aku ga usah sungkan. Kamu ingin kuliah diluarpun kalau gak dapat beasiswa, nanti tinggal dirumah orangtuaku, sekolah disana biar yang urus ibuku.” = = = = = El sedang didandanin oleh Selly MuA profesional. Dia suka mendandani El karena wajahnya sangat proporsi, ga ada yang harus disamarkan atau ditonjolkan. Setelah selesai El keluar dari kamar, Bi Ijah sampai terpekik kaget liat kecantikan anak angkatnya. “Makasih Sell, lu emang keren.” Willy seneng sekali liat El begitu mempesona. “Emang dasarnya orangnya sudah cantik Willy,” Selly tersenyum. “Beneran gak lu pacarin?” bisik Selly. Willy tersenyum sambil menggandeng El menuju mobil. “Kamu cantik El.” Willy memuji. “Kamu juga tampan sekali kakak.” El balik memuji juga. “Berarti kita pasangan serasi dong,” Canda Willy, “dulu liat kakak seperti Bulan.” “Kok seperti Bulan ?” Willy kaget diibaratkan bulan. “Iya terang seperti dekat, padahal jauh dari jangkauan.” El terkekeh. Willy malah terbahak, “Tapi sekarang bulannya sudah dekat bisa terjangkau betul nih,” Willy menempelkan telapak tangannya dengan telapak tangan El lalu jarinya ditautkan diantara jari El. El gemeter saking groginya. Setelah sampai di Lobby Willy turun lalu menuju lobby, disana sudah banyak tamu, seperti biasa Willy datang agak terlambat beberapa menit dari acara. Semua menatap pasangan yang sangat serasi. Willy menggamit lengan El dengan mesra, El berjalan dengan sangat anggun dan elegan. Disana sudah ada Trigon, Xen dan Jery, mereka melongo melihat perubahan El yang begitu berbeda. “Gila El begitu mempesona.” Bisik Xen. “Pantesan si Willy tergila-gila, sampai tiap hari pura-pura lembur. Walau ga dandan ketahuan saja sama dia mana berlian.” Trigon berdecak. Disudut sebrang sana ada yang ga percaya pada penglihatannya sendiri, Glad. Ya Gladwell, Terkaget liat El begitu elegan. Antara marah, cemburu dan tidak bisa berbuat apa-apa menjadi satu. “Benarkah dia El begitu luar biasa, mempesona?”gumamnya, Acara basi basi dan gunting pita sudah selesai, sekarang sesi dansa. Willy menjulurkan tangannya, pada El, dan El menyambutnya untuk berdansa, El begitu luwes mengikuti gerakan Willy, lama-lama yang lain minggir malah menonton pasangan Willy dan El. “Kak kita jadi tontonan,” “Ga apa-apa sesekali menghibur orang.” “Aku jadi grogi.” “Tarik nafas dalam-dalam” Willy melihat Glad lagi menatap nanar pada pasangan dansanya. Willy berbisik, “ kamu jangan kaget disudut kanan kamu ada Glad.’ El terkejut, tapi cepat menguasai diri. Pas tatapan bersirobok dengan Glad, El tersenyum, Glad buang muka, serba salah. Acara dansa selesai, Willy pamit dulu sama El, “Kamu nikmati makan, dan pelan-pelan makannya, semua sudah aku ajarin. Aku mau menemui tuan rumah dulu ada yang harus dibicarakan." El mengangguk. Padahal willy memberi kesempatan buat Glad untuk mendekati El. Willy tidak mau merebut ketika mereka masih ada hubungan. Kalau sudah selesai baru Willy akan bergerak. Benar saja, Glad nyamperin El. “Hai Ellen, saya ingin bicara sama kamu,” “Hari Senin kan kita akan bicara.nanti saya hubungi.” Ucap El ***TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN