“Baru saja gw bahagia banget bisa senang-senang dengan El di Puncak.” Glad menghela nafas.
“Apa gue harus menerangkan ke El soal elu sama Shalom ?” jason menawarkan diri.
“Ga tau gue belum bisa mikir.” Glad menerawang menyandarkan kepala di sandaran sofa, menatap langit-langit.
“Lu minum dulu,” Jason menyodorkan minum, ga direspon Glad. Akhirnya disimpan di meja depan Glad.
“Nanti gw nyoba lagi nemuin dia pulang kampus.”
Ben meluncur ke kantor Jason setelah jason kirim pesan, mereka memang selalu saling dukung dikala satu sama lain lagi kesusahan.
“Sudaahlah Glad ini sudah terlanjur. Skarang tinggal mikirin menghadapi El yang sangat kecewa sama lu,”
“Masalahnya selain di kampus gue ga bisa datangin rumahnya, bisa tambah marah.” Keluh Glad.
“Sekarang Lu duluan yang maju, temuin dia di kampus, kalau sudah nyerah baru kita bantu.”
“Ya bentar lagi dia keluar. Gw ke sana dulu.” Glad beranjak keluar.
Di kampus dia nunggu di Lobby, setelah beberapa saat terlihat Olin keluar sendiri.
“Oliin..,” Glad mendekat.
“Lu ga akan ketemu El dia tadi ijin 15 menit sebelum keluar.”
“Ol, bantuin gue, sumpah gak ada apa-apa dengan dia.”
“Ada apa-apa juga gak apa-apa.”
“Lin beneran, dia mantan gur waktu SLTA,”
“Mantan tapi mesra ?”
“Lin, tadinya gue fikir kan ga perlu musuhan lagi sama dia,”
“Lu pikir hatinya El dibikin dari karet gitu, bisa dimelar-melarin gitu.”
“Trus gue kudu gimana Oliiin. Gue ngaku salah, tapi ga seperti yang di foto,”
“Coba saja besok, percuma sekarang dia sudah pulang.”
Glad menuju mobil dengan gontai.
El yakin Glad pasti ada di lobby kalo pulang tepat waktu, makanya dia ijin sebelum waktunya selesai. Saat ini El rebahan di kasur.
Drrrt…drrrt….
Puluhan pesan dari Glad, dari tempo hari El abaikan. Masuk pesan dari Olin.
Olin : Barusan Glad nunggu di lobby. Lu selesaikan deh jangan menghindar.
El : gue nenangin dulu, sampai gue sanggup menghadapinya.
Olin : tapi kalau gini terus ga ada kepastian. Mending jelas lu maafin berarti terus atau putus.
Beri dia waktu menjelaskan nya.
El : Nantilah gue perlu berdamai dulu dengan hati gw, mau ngambil keputusan nya biar ga emosi.
Olin : Terserah lu, menurut gue selesaikan secepatnya ga berlarut.
El : Bilangin ke dia, gue butuh waktu menghadapinya, jadi saat ini jangan nyari. Kalau sudah waktunya nanti gue kabarin untuk ketemu dia.
= = = = =
Menjelang sore El bangun, untuk bersiap kerja paruh waktu. Ketika keluar berpapasan dengan ibunya,
“El kamu sakit,” ibunya khawatir melihat El sembab.
“Ga bu, El baik-baik saja.” El menutupinya.
Ibunya tau El menutupi sesuatu, tapi ga mau maksa untuk berbicara, El gak mau berbagi kesedihan dengan orangtuanya. Seperti itu El.
Setelah mandi El sudah menunggu seperti biasa. Willy turun dari mobil melihat El aembab,
“Kau kenapa habis nangis ?”
El menggeleng sedikit tersenyum.
Willy pun ga mau memperpanjang. Langsung masuk.
Sambil menunggu Willy mandi, El menyiapkan segala sesuatu, terakhir membuatkan teh panas kesukaan Willy.
Mereka bekerja seperti biasa, tetapi Willy terus-terusan melirik El, ingin sekali bertanya,
El seperti larut dalam kesedihan, terlihat bekerjanya tidak fokus.
Akhirnya, tak bisa menahan lagi sambil mengetik El bercucuran air mata.
Willy berdiri langsug duduk sebelah El.
“Kamu sekarang tidak bisa bilang tidak ada apa-apa. Ayo cerita biar plong, kata orang beban kalo di bagi akan berkurang.” Willy mengusap punggung El.
El bingung, milih cerita atau tidak, tapi saat ini adalah Willy yang paling dekat dengannya selain Olin.
“Sepertinya aku akan putus dengan pacar saya.” El bergumam pelan.
Willy masih mendengar dengan jelas
Willy terlonjak kaget senang, tapi pura-pura ikut sedih.
“Sepertinya pacar kamu baik, selama ini kamu tidak terlihat sedih, baru kali ini liat kamu menangis.”
“Aku juga merasa begitu kak, selama ini dia ga pernah aneh-aneh. Selalu menjaga perasaan saya.” Akhirnya El bener-bener menangis.
Willy menarik kepala El untuk menenangkan nya, sambil ngusap-ngusap punggung El.
“Kamu harus, jelas dulu duduk persoalannya. Jangan menduga-duga.” Willy nasehatin El.
“Lebih baik bicarakan dulu sampai sejelasnya baru ambil keputusan biar ga nyesel kemudian hari.”
El mengangguk.
“Coba apa yang bikin menjadi masalah siapa tau bisa membantu.” Lanjut Willy.
El mengambil ponselnya lalu di liatkan screenshot foto-foto dan caption Glad dan mantannya.
Billy kaget sekali. Karena dia ada disana saat itu.
“Ini pacarmu Gladwell ?” Willy bertanya.
“Kakak kenal ?”
Willy menggeleng, “Hanya tau. Kemarin di singapura selama seminggu aku ada disana juga, saya fikir dia emang pacarnya.”
“Kok kakak bisa bareng sama dia ?” El heran.
“Kemarin selama di singapura, ada beberapa perusahaan dari beberapa negara di undang untuk presentasi dalam acara investasi begitu dari indonesia juga ada beberapa yang datang.”Willy diam sesaat.
“Nah makan malam biasanya langsung antara kami yang dari Indonesia berkumpul Ga semua saling kenal sih tapi kan lebih enak makan bareng-bareng.
Cewek itu kayaknya sekertaris
temenku, tapi selama di sana ketika break emang nempel terus sama Glad.
Kita semua yakin berfikir pacarnya.”
“Dia bilang sih mantan nya “ El menjelaskan.
“Oooh, ngerti. Glad juga memperlakukan biasa saja kok ga berlebih.” Sahut Willy.
“Yang saya kesal, ketika saya chat balasnya larut malam, bilangnya sibuk tapi bisa main-main kesana kemari sama dia. Yang saya screenshot ini sedikit yang cewek itu posting banyak.
Tapi sekarang sudah mereka hapus.”
“Acara malam seperti biasa kok paling malam jam 9, tapi ada yang langsumg masuk hotel ada yang ke bar dulu.
Sekarang mah mending mendengar penjelasan dulu dari dia.” Willy ngasih
saran.
“Ya saya akan memberi waktu dia menjelaskannya minggu depan, untuk menguatkan hati saya, apabila memang harus putus.” El mengakhiri pembicaraan masalahnya tentang Glad.
Setelah lembur, El kembali berbaring. Meraih ponsel nya dari saku. lalu chat glad.
El : Kita bicarakan minggu depan, nanti saya hubungi kamu dimana kita ketemu. Saat ini kita break dulu jangan hubungi, jangan temui. Sampai ketemu minggu depan.
Glad membacanya dengan nanar, hanya dibalas dengan satu kata,”Oke.”
***TBC