“Empphhh!” Jonatan tersadar, tetapi ia merasa kesulitan untuk bergerak. Tubuhnya diikat dengan tali dan mulutnya di tutup menggunakan lakban. Ia hanya bisa menggeliat, walau semua hanya sia-sia. ‘Sial! Aku dimana?’ gumam pemuda itu dalam hati, menelisik ruangan kotor yang hanya ada sedikit pencahayaan dari cahaya matahari. CKLEK! Pintu kecil dihadapan Jonatan terbuka, membuat pemuda itu reflek menutup kedua matanya erat merasa silau dengan pencahayaan yang tiba-tiba masuk ke dalam indra penglihatannya. “Sudah bangun, Boy? Bagaimana tidurmu malam ini? Nyenyak, hm?” pertanyaan terlontar dari bibir sosok pria paruh baya, yang kini berjalan mendekat ke arah Jonatan dengan seringaian mengerikan di bilah bibirnya. “Dad-Daddy?” batin Jonatan. Menatap nyalang ke arah pria tersebut. Roy terk

