Jonatan merebahkan tubuhnya di balkon samping kamarnya, menatap langit kelabu yang hanya terdapat hamburan bintang-bintang, ia bingung memikirkan hatinya yang kini tengah bertarung antara cinta dan benci. Sampai-sampai tak menyadari adanya Jm yang sedari tadi sudah berdiri di sampingnya sembari bersedekap d**a. “Hemh, kau memikirkan dia lagi?” dengusan geli terdengar dari bibir pemuda tersebut. Jonatan hanya melirik dengan ekor matanya, kemudian kembali terfokus menatap langit tanpa ingin menjawab ucapan Jm. Jm mendudukkan dirinya di samping tempat berbaring Jonatan, menggunakan kedua lengannya sebagai penyangga. Ikut menatap langit yang menurutnya sama sekali tidak menarik, tapi kenapa Jonatan senang sekali melihatnya? “Aku harus apa?” tanya Jonatan, ia butuh teman cerita saat ini. Jm

