Tristan tersenyum menatap punggung Jonatan yang kini sudah semakin menjauh dan menghilang dari tatapannya, menunduk sembari meremas saputangan berwarna putih di telapak tangannya. “Papa. Sepertinya tadi aku melihat seseorang, siapa?” tanya Daren yang baru saja kembali sehabis membelikan minuman untuk sang ayah. “Jonatan, adikmu sudah kembali.” Lirihnya, tersenyum diiringi lelehan air mata. Daren mengatupkan bibirnya rapat, ia pikir sang ayah akan sembuh, ternyata tetap saja pria itu masih belum mengiklaskan kepergian putranya, meski sudah bertahun-tahun lamanya. “Pa, kita pulang sekarang, ya. Sepertinya cuaca hari ini sedang tidak bagus,” ujar Daren, mendorong kursi roda yang kini di duduki pria tersebut. Pandangan mata Daren terjatuh pada benda yang dipegang sang sayah, ia sedikit kha

