Berbeda dengan kehidupan Daren yang kini tengah merawat sang ayah, semakin berganti tahun semakin melemah keadaanya. Tristan nyaris kehilangan semangat hidup semenjak Jonatan meninggal, rasa bersalah di dalam hatinya terasa menggerogoti jiwa raganya, hingga rasanya ia ingin mati saja demi menebus kesalahannya pada sang putra beserta istrinya. Namun beruntung masih ada Daren yang selalu memberikan semangat kepadanya, hingga membuatnya bertahan sampai detik ini. “Apa Papa ingin sesuatu?” tanya Daren sembari memijat kaki kurus pria yang kini tengah duduk bersandar di kepala ranjangnya. Pria itu terlihat lebih tua dari usianya, efek dari wajah tirus dan badan kurusnya. Tak ada jawaban dari sang ayah, Daren tersenyum kecut. Beralih dirinya pergi mengambil alat cukur, dengan tlaten pemuda itu

