Setelah merasa sedikit tenang, Jovanka menceritakan semua apa yang ia ketahui mengenai obat yang setiap hari Jonatan konsumsi. Pemuda itu terdiam, menatap obat yang tadi ia letakkan di atas nakas. Ia ikut khawatir, kenapa sang ayah tega melakukan semua itu padanya? Apa lelaki itu benar-benar orang tuanya? Lalu, orang tua mana yang tega mencelakakan putranya sendiri?. “Jo, apa kamu bisa menjaga rahasia ini?” tanya Jovanka. Joni mengangguk sebagai jawaban, mulai sekarang ia akan lebih waspada terhadap sang ayah. Pemuda itu tersenyum, ia beruntung dengan kehadiran Jovanka di dalam hidupnya. Wanita ini bagaikan malaikaat penyelamat yang datang secara tiba-tiba. “Terima kasih, Mam.” Haru Jonatan, memeluk tubuh wanita di hadapannya. Jovanka teringat akan misi selanjutnya yang akan ia lakukan.

