7 Tahun kemudian. Seperti biasa kehidupan keluarga Jovanka dan Tristan berjalan normal selayaknya keluarga pada umumnya. Hanya saja ada sedikit yang berbeda, ulah sang putra yang terbilang sangat di luar nalar. Jovanka sampai kewalahan menangani putranya. Seperti pagi ini. “Dimana Jonatan?” tanya sang ayah yang tak lain adalah Tristan, yang kini tengah duduk di kursi meja makan, sembari menunggu sang putra yang mungkin saja sedang bersiap untuk pergi ke sekolah. Namun tak kunjung memunculkan batang hidungnya. “Hah, anak itu selalu saja lambat.” Geram Jovanka, yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. “MAMA!!! SIKAT GIGIKU PATAH!” teriaknya membahana dari lantai atas kamar atas, yang sudah dipastikan berasal dari anak lelaki yang tak lain adalah Jonatan. Jovanka hanya bisa mer

