bc

My Psycho Model 2 (INDONESIA)

book_age18+
1.9K
IKUTI
12.1K
BACA
dark
possessive
sex
scandal
CEO
drama
tragedy
comedy
sweet
kicking
like
intro-logo
Uraian

JANGAN DIBACA!!!!!

BUKAN LANJUTAN dari My Psycho Model yaw :)

CERITA ACAK2kan, GA LAYAK BUAT DIBACA!!

BAGI YANG MASIH BACA JANGAN MENYESAL YAW, DILARANG KOMEN JUGA KARENA MEMANG CERITANYA HANCUR!!!

Terima kasih :)

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Namaku Alvaro Aldebaran, bisa dipanggil sayang. Karyawan biasa disuatu perusahaan besar, salah satu kelebihanku adalah aku tampan. Mau aku beritahu rahasia, aku adalah sang penakluk wanita. Bisa dikatakan gaji yang aku dapatkan tiap bulannya akan habis untuk pacar-pacarku, aku juga cepat bosan. setidaknya 2 hari sekali aku berganti wanita dan mencarinya tidaklah susah hanya dengan kedipan mata mereka akan terpesona padaku. Bohong? Mana mungkin seorang Alvaro berbohong. "Alvaro, ini kau kerjakan dan serahkan padaku sebelum makan siang" ujar atasanku membuatku menganggukan kepala, aku ini karyawan yang rajin tapi aku sedikit malas. "siap pak" "hai, Desi cantik" sapaku pada Desi yang duduk disebelahku, kami hanya berbetasan dinding dimeja. Ah, lihatlah dipanggil cantik saja dia merona. "bisa tolong aku tidak cantik?" tanyaku sambil mengedipkan mataku. Double Kill, sekarang Desi sudah meleleh seperti es krim yang terkena sinar matahari. "kapan kau akan menyerahkan nya pada pak Adam?" senyumku mengembang dan mengelus rambut Desi, "setelah makan siang" "baiklah, aku akan membantumu" "terima kasih sayang" ujar ku sambil mengembangkan senyum andalanku, sambil mencubit pipinya. "sama-sama" Aku kembali kemejaku, dan senyumku langsung lenyap dalam sekejap. Inilah salah satu keuntungan menjadi pria tampan. Aku merasa beruntung memiliki anugrah wajah tampan yang diberikan Tuhan padaku. Aku meregangkan otot-ototku ketika jam makan siang telah tiba, saat nya untuk mengisi asupan gizi. "Alvaro" panggil Desi membuatku mengembangkan senyum dan menoleh padanya. "iya Des?" "ini sudah selesai" ujarnya memberikan berkas yang harus aku berikan pada pak Adam. "terima kasih Des, kalau kau tidak ada aku tidak tahu harus bagaimana" ujarku mulai berdramantis. Desi terkekeh dan tersenyum malu. "kau bisa saja" katanya membuatku melihat sekelilingku. "sebagai gantinya, ayo aku temani makan siang. Aku yang traktir" ujarku membuat wajah Desi memerah. "kau saja, aku..." "aku tidak terima penolakan Des, tunggu aku. Aku akan memberi ini pada pak Adam, setelah itu kita makan siang bersama. tok..tok.. "Selamat siang pak, ini berkas yang bapak inginkan" ujarku memberikan berkas pada pak Adam, Lihatlah gaya pak Adam membaca berkasnya, mungkin semua atasan seperti itu. "baiklah" "saya permisi pak" Aku keluar dari ruangan pak Adam dan mengembangkan senyum pada Desi, "ayo kita pergi" ujarku sambil merangkulnya, "Alvaro, kau terlalu dekat" ujarnya gugup membuatku menggelengkan kepalaku. "masa? Biarkan saja Des" jawabku terus merangkulnya menuju kantin, tentu saja aku si pria tampan ini selalu diperhatikan oleh wanita-wanita. Lihatlah semua mata tertuju padaku. "kau mau makan apa?" "sama saja sepertimu" "baiklah" ujarku memesan makan siang untuk ku dan juga Desi, sebenarnya makan dikantin kantor itu gratis hanya saja ada kantin yang menjual makanan yang lainnya. Mau makan makanan kantor boleh, mau beli juga boleh. Mana yang baik nya saja. Karena Desi sudah membantuku bukankah aku harus membalasnya dengan mentraktirnya. Aku bukan pria yang berhutang budi dengan seseorang, jadi aku harus segera membalasnya. "boleh aku duduk disini?" tanya seorang wanita yang tidak aku kenal, aku melirik Desi dia merasa tidak nyaman. "maaf, tapi sekarang kami sedang makan berdua. Lain kali saja ya" jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku. "tentu saja, ini nomor ponselku. Hubungi aku" "baiklah" * Sekarang aku sudah diapartemenku dan berbaring sambil menatap langit-langit kamarku, hari ini sangat melelahkan membuatku ingin segera beristirahat, tapi mataku tidak mau berkompromi. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon sebelum itu aku mengambil wine, aku meminum wine ku sambil menatap langit malam. Tidak ada bintang yang menemani bulan malam ini, wajar saja karena hujan baru saja berhenti. Aku menghidupkan ponselku dan seperti biasanya banyak sekali pesan yang masuk, tidak ada pesan yang menarik bagiku. Aku kembali mematikan ponselku dan meletaknya lagi kedalam kantongku. Mataku melihat yang menarik, dibawah ada seorang gadis yang menghajar 2 orang pria kekar yang ingin mencopetnya. Tangguh sekali gadis itu, aku membatin. Dua pria itu bahkan terkapar dalam hitungan menit saja, aku tersenyum gadis itu menarik sekali. Aku kembali meminum wine ku dan mataku terus melihat gadis itu yang sekarang berjalan kearah apartemenku. Atau jangan-jangan gadis itu berada diapertemen yang sama denganku. Aku menggelengkan kepalaku, jangan-jangan kami berjodoh. Tanpa sadar senyumku mengembang jika benar gadis itu berada diapertemen yang sama dengan ku, gadis itu memiliki pesona sendiri yang membuatku tertarik. Aku kembali memandang langit ketika gadis itu sudah tidak terlihat lagi, aku memagang dadaku yang sekarang berdetak kencang. Jatuh cinta yang sebenarnya. Aku memijit pangkal hidungku, antara mau keluar apartemen atau tidak untuk menemui gadis itu. Tapi, detik kemudian aku kembali meminum wineku dalam sekali teguk. 'kalau jodoh pasti bertemu lagi' Masa bodoh dengan bertemu lagi nanti, aku langsung keluar dari apartemenku untuk bertemu dengannya. Setidaknya untuk berkelanlan, atau meminta nomor ponselnya. Aku masuk kedalam lift, berharap gadis itu masih belum masuk kedalam apartemennya. Aku sampai dilantai dasar tapi tidak menemukan gadis itu, ah. Seharusnya aku lebih cepat. Keluhku kesal. Dengan langkah lesu aku kembali naik kelantai atas dimana aku tinggal disana, ketika lift terbuka gadis yang tadi kulihat keluar dari lift. Kenapa dia kembali? Atau dia sudah tahu kalau aku mencarinya, jangan konyol. Aku tidak jadi masuk kedalam lift dan mengikuti gadis itu keluar dari perkarangan apartemen. "ini cukup tidak" ujarnya memberikan amplok pada gadis lain, mungkin temannya. "terima kasih, huhu" ujar gadis yang menerima amplok dari gadisku. "aku hanya meminjamkannya, minggu depan kau harus mengembalikannya. Terlambat akan menjadi 2 kali lipat" 'waw' "baiklah, aku pergi dulu" "hm" Ternyata dia teman gadisku, aku langsung melangkah masuk kedalam perkarangan apartemen ketika gadisku berjalan menujuku. Tidak lucu bukan, aku ketahuan sedang memperhatikannya. "lantai berapa?" ujarku gugup ketika gadisku juga masuk kedalam lift. "sama denganmu" jawabnya sambil menunjuk tombol 8. Aku menganggukan kepala dan tidak berbicara lagi, sial. Kenapa aku jadi gugup begini. Oh, ayolah Man ada apa dengan mu sebenarnya. Pikiranku terus ingin berkenalan dengannya tapi aku menjadi gugup sekali. "aku Alvaro, kau penghuni baru? Aku tidak pernah melihatmu" ujarkuu berusaha semaksimal mungkin untuk membuat suaraku netral "Angel, sepertinya kau yang penghuni baru. Aku sudah disini 5 tahun" jawabnya membuat senyumku mengembang. Yasss, aku mendapatkan namanya. Angel, sangat cantik sama seperti orangnya. "benarkah, aku baru 4 bulan ini tinggal disni" Dia hanya menganggukan kepalanya lalu keluar dari dalam lift begitu saja, oh ayolah. Aku ini tampan, setidaknya kita bisa mengobrol sebentar. Tapi Angel meninggalkanku, satu-satunya gadis yang menolak pesonaku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook