bc

Space : Ketika Jarak tak Membunuh Cinta

book_age16+
265
IKUTI
2.5K
BACA
love-triangle
arranged marriage
goodgirl
dare to love and hate
drama
office/work place
first love
office lady
wife
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Sofia lupa kalau dia tak boleh jatuh cinta pada sembarang lelaki. Namun, kehadiran Fikri yang seperti candu membuatnya jatuh hati tanpa pikir lagi. Hingga sebuah kenyataan menyentak keras, hatinya retak.

Jodoh Sofia sudah ditentukan!

Lalu bisakah Sofia menjalani pernikahan dengan kecamuk hati yang tak kunjung reda? Cukup sabarkah Baim--suami Sofia--menunggu hingga hatinya terbuka?

chap-preview
Pratinjau gratis
Kenangan yang Pecah
"Kamu masih belum bisa lupain Fikri, kan?" Aku bisa merasakan kemarahan Baim dari caranya menatapku. Rahangnya terlihat mengeras ketika bibirnya kini terkatup rapat. Belum pernah aku melihatnya begitu menakutkan seperti sekarang. Aku tak menjawab, hanya air mata mulai jatuh satu-satu, kemudian makin deras. Baim mendengkus kasar lalu tersenyum sinis. "Ngga peduli apa pun yang udah aku lakukan, aku nggak akan bisa dapetin hati kamu, kan? Dan bodohnya aku pikir selama ini hubungan kita sudah lebih baik." Aku semakin terisak, bahkan harus membekap mulutku sendiri agar tangis ini tak pecah. "Kamu mau tau gimana perasaanku sekarang?" BRAK. Aku terlonjak kaget saat melihat ponselku dilempar dengan keras dan membentur dinding. Suara benturannya seolah tak hanya meluluhlantakkan benda itu, tapi juga menghancurkan hatiku. Aku mematung menatap ponsel yang telah hancur berserakan di lantai. "Seperti itu yang aku rasakan!" desisnya terdengar sinis. Kemudian dia berjalan melewatiku menuju kamar dan selanjutnya suara debaman pintu yang terdengar. Aku berjongkok memunguti bagian-bagian ponselku masih dengan air mata tak berhenti meleleh di pipi. Namun, kali ini aku menangis tanpa suara. Apa yang dilakukan Baim barusan benar-benar membuatku shock. Sama sekali tak menyangka dia akan semarah itu. Ah, tentu saja. Suami mana yang tak murka jika istrinya menanyakan kabar tentang lelaki lain. Lelaki yang hingga kini masih terus kusebut dalam hati. Aku terduduk di lantai, bersandar pada dinding. Mendekap puing-puing ponselku dengan perasaan nelangsa. Lalu mulai memejamkan mata. Dan seketika dalam gelap pejaman mata, aku seolah-olah terlempar pada masa lalu. Masa di mana ratusan kepala menunggu di tempat yang sama untuk melakukan sebuah perjalanan. Menunggu si ular baja bergerak di atas porosnya, mengantar kami hingga sampai tujuan. Masa di mana waktu tiga jam perjalanan Jember-Banyuwangi atau sebaliknya tak lagi terasa membosankan. Masa di mana pertama kali aku melihatnya. Lelaki yang masih menjajah hatiku hingga kini. Lelaki yang membuatku tak bisa membuka hati untuk suamiku sendiri. *** Saat itu, aku bersama penumpang lain sedang menunggu kereta yang terlambat berangkat. Menurut informasi pihak stasiun butuh waktu paling cepat setengah jam untuk memperbaiki entah kerusakan atau apa pun itu aku kurang mengerti. Saat itulah mataku tanpa sengaja menangkap sosok yang duduk di kursi tunggu deretan depanku. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu menarik. Dia bahkan hanya menggunakan kaos putih yang melekat sempurna di tubuhnya berpadu dengan celana jeans selutut. Bahkan alas kakinya hanya sandal jepit biasa. Namun, sudah cukup membuat pandanganku tak ingin beralih ke mana-mana. Dia tak tampan. Sungguh. Mungkin kulit kuning langsatnya yang bersih membuatnya terlihat lebih dominan di antara penumpang yang duduk di sekitarnya. Rambutnya lurus agak panjang tersisir tidak rapi. Yang paling kusukai adalah postur tubuhnya yang tinggi tegap dengan berat badan yang ideal. Dengan looks seperti itu dia tampak begitu karismatik di mataku. Dia tak duduk tepat di depanku, tapi serong satu kursi. Kursi tunggu di stasiun ini tertata berjejer ke belakang dan ke samping lalu ada jarak sekitar tiga meter di antara kursi-kursi lain yang berjejer ke belakang dan ke samping yang dibuat berhadapan. Sebuah keuntungan bagiku untuk lebih leluasa memandanginya diam-diam. Gerakannya memasang headset ke telinga yang tersambung pada ponselnya, begitu menarik perhatianku. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak persegi dari ranselnya, yang ternyata wadah kacamata. Saat benda itu bertengger pada hidung mungil bangirnya, aku seolah-olah kehilangan kemampuan menghela oksigen untuk beberapa saat. Silakan katakan aku berlebihan, tapi, ya aku menyukai penampilannya sekarang. Dia sama sekali tak terlihat cupu meski dua lensa itu membingkai wajahnya. He's so cute. Kalau begini jangankan kereta yang akan kutumpangi telat setengah jam, telat satu jam pun aku betah menunggu. Oke, berjam-jam pun tak apa asal ada dia, aku tak akan bosan. Kuambil ponsel dari dalam tas, lalu mencari kontak BBM sahabatku, Nisa. Me : Nisaaa Nisa : Paan? Me : Ada cowok cute bangeeet Nisa : Di mana? Me : Di depanku Nisa : Kamu di mana? Udah otw ya? Me : Not yet. Masih di stasiun. Keretanya telat. Sumpaaah, dia cute banget. Nisa: No pict, hoax. Me : Bodo amat! Kamu nggak perlu liat. Cukup aku yang nikmati keindahan ciptaan Tuhan. Aku cuma mau cerita, bukan mau bagi-bagi. Nisa : Pelit! Kenalan gih. Me : Ngawur! Mana berani aku. Kalo orangnya nggak welcome gimana? Mending dipandangin aja deh, bikin adem mata. Kayak Harry Potter loooh pake kacamata juga. Aku mengirimkan chatku yang agak panjang lalu mendongak untuk melihat si "Harry Potter" yang masih asyik dengan ponselnya. Sesekali bibirnya terangkat, tersenyum tipis. Membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Sebenarnya dia sama sekali tidak mirip Daniel Radcliffe, hanya saja aku salah satu fans dari penyihir ganteng itu dan kebetulan cowok di depanku ini memakai kacamata. Jadi, aku akan menjulukinya "Harry Potter" saja. BBM-ku kembali berbunyi. Nisa : Harry Potter?? Ya kali beneran namanya Harry. Hariyanto atau Hariyono. Hahaha Me : Ya kali cowok kiyut namanya Hariyono atau Hariyanto. Jangan ngarang! Nisa : hahahahaha Aku hanya membaca BBM Nisa tanpa membalas lagi lalu menaruh ponsel ke tempat semula di dalam tas. Kemudian kembali menatap makhluk Tuhan yang duduk di depanku. Tak lama kemudian, suara station announcer terdengar dari loudspeaker memberitahukan bahwa kereta pandanwangi akan siap berangkat dalam sepuluh menit dan meminta para penumpang untuk menuju peron dua. Aku masih bertahan di tempatku duduk dan masih memandanginya yang sedang sibuk memasukkan handphone beserta handsetnya lalu melepas kacamata dan mengembalikannya ke dalam tas. Semua itu terekam dalam kepalaku seperti gerakan slow motion. Kemudian dia berdiri sembari menyampirkan tas ransel di punggungnya. Saat itulah dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Dan pandangan kami pun bertemu. Rasanya tubuhku menegang. Ingin sekali aku mengalihkan pandangan darinya, tapi entah kenapa leherku terasa kaku dan aku pun tetap memandanginya. Dia hanya menatapku sekilas lalu beranjak pergi menuju peron. Aku turut beranjak dari tempat duduk menuju peron sambil sekali-kali masih memandang ke arahnya. Saat itu aku berharap ada kesempatan bertemu dengannya lagi. Meski rasanya kebetulan semacam itu sangatlah kecil. Namun, siapa sangka ternyata semesta mendengar bisikan hatiku dan mengatur pertemuan kami lagi di lain hari. *** Aku bangkit lalu berjalan sempoyongan menuju sofa. Setelah keributan barusan, rasanya amat malas melihat wajah Baim. Jadi, kuputuskan untuk menghabiskan malam di ruang tengah saja sembari mengenang kisah-kisah lain dari pertemuan di masa lampau. Ya, aku bertemu dengannya lagi di perjalanan berikutnya. Lima hari setelah pertemuan pertama kami. Di akhir pekan lagi tentu saja. Karena setiap Sabtu aku harus kembali ke Jember dan balik ke Banyuwangi di hari Minggunya. Tak usah dibayangkan betapa lelahnya. Itu sudah perjanjian yang kubuat dengan ayah. Hari itu, ada libur nasional yang jatuh pada hari Sabtu. Jadi aku bisa pulang lebih awal. Dan lagi-lagi kulihat dia. Kali ini dia mengenakan kemeja yang sudah digulung lengannya hingga siku. Dua kancing teratasnya terbuka, sedikit memperlihatkan kaos di putih di baliknya. Dugaanku dia baru pulang kerja, karena masih lengkap menggunakan celana kain berikut sepatu. Kegiatan yang ia lakukan sama persis seperti saat aku pertama kali melihatnya. Dengan kacamata bertengger di hidung dan headset di telinga, ia begitu fokus pada layar ponselnya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan. Jika tak bisa berkenalan, maka aku akan melakukan sesuatu untuk mengabadikan momen pertemuan ini. Saat itulah ide konyol terbersit di kepalaku. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan, aku segera mengambil ponsel lalu membidikkan kamera ke arahnya. Klik. Berhasil! Aku mendapatkan fotonya, tapi naas di saat yang sama dia menoleh ke arahku. Aku meruntuki diri sendiri dalam hati, betapa bodohnya! Namun, untuk mengelabui apa yang sudah kulakukan, kupertahankan posisi ponsel agar dia tidak curiga. Beruntung kereta berhenti di salah satu stasiun. Jadi perhatiannya teralih. Beberapa penumpang turun, termasuk pasangan suami istri yang duduk bersamaku. Kini aku hanya sendiri. Begitu kereta mulai berjalan kembali, kulihat dia beranjak dari duduknya menuju kursiku dan duduk tepat di depanku. "Hai," sapanya. "Ya?" Aku berusaha merespon senormal mungkin, meski sebenarnya detak jantungku menggila di dalam sana. Dia berdeham pelan. "Tau nggak ambil foto orang tanpa izin itu ngga sopan?" tanyanya dengan ekspresi datar. Rasanya jantungku seperti akan lompat keluar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook