Dia berdeham pelan. "Tau nggak ambil foto orang tanpa izin itu ngga sopan?" tanyanya dengan ekspresi datar.
"Foto?" aku berusaha mempertahankan nada bicaraku agar tidak terlihat gugup.
Dia mengangguk.
"Foto apa?"
Dia tersenyum sekilas. "Nggak ngerti atau pura-pura?" tanyanya.
"Saya nggak ngerti. Dan saya nggak ngambil foto siapapun. Kayaknya Mas salah deh." Luar biasa, aku masih bisa bicara dengan normal. Padahal kalau saja jantung ini tidak dilindungi oleh tulang rusuk buatan Tuhan, mungkin sekarang sudah lompat keluar.
"Boleh liat HP-nya?" pintanya sopan.
Aku menggeleng. "Buat apa? Tau nggak liat ponsel orang yang nggak dikenal itu nggak sopan," balasku lalu aku beranjak meninggalkannya menuju toilet.
Tak ada pilihan lain untuk membuatnya pergi dari tempatku selain dengan meninggalkannya. Dan satu-satunya tempat yang bisa kutuju adalah toilet.
"Bodoh banget, Fia. Bodoh! Bodoh! Bodoh!" umpatku memaki diri sendiri.
Masih dengan kegugupan yang menguasai d**a, aku mencari kontak telepon milik Nisa dan langsung menghubunginya. Syukurnya, signal lagi bagus. Setelah nada sambung ketiga barulah teleponku diangkat.
"Halo."
"Nisaaa!" jeritku tertahan.
"Apaan? Ngomongnya kok pelan-pelan?"
"Mampuuus aku, Nis!"
"Apa, sih? Kenapa? Kenapa?"
"Aku satu kereta sama si "Harry Potter" terus aku foto dia---"
"Sumpaaah? Teruus?" Belum habis aku bercerita, dia sudah main potong saja. Tingkat kekepoan Nisa memang di atas rata-rata.
"Aku ketauan, Nis. Dia negur aku. Haduh sumpah aku deg-degan banget."
"Terus?"
"Ya, aku ngga ngakulah. Dia mau liat HP-ku tapi nggak aku kasi. Terus aku langsung kabur ke toilet nelpon kamu," jelasku.
"Ya ampun, Fia. b**o banget sih kamu."
"Iya aku tau aku b**o. Aku harus gimana?" rengekku.
"Ya hapus fotonya. Mau gimana lagi."
"Oh iya bener. Aduh aku beneran nggak bisa mikir. Ya udah aku hapus fotonya dulu. Thanks ya."
"Eh tunggu. Kirim dulu fotonya ke BBM-ku."
"Ngapain? Ngga ah."
"Ya, biar usahamu nggak sia-sia. Ntar kan bisa aku kirim balik."
"Idih, modus." Aku memutuskan telepon setelah mendengar suara tawa Nisa terdengar begitu puas dengan idenya itu.
Dan pada akhirnya, aku menuruti saran Nisa dengan mengirimkan foto itu ke bbm-nya. Setelah delivered, segera kuhapus foto itu dari galeriku. Done.
Saat keluar dari toilet, betapa terkejutnya aku mendapatinya berdiri dengan posisi bersadar pada dinding kereta. Kedua tangannya bersedekap. Kuduga dia bukan sedang mengantri untuk masuk ke toilet, tapi sengaja menyusulku.
"Lama banget." Dia bergumam saat aku akan melangkahkan kaki keluar.
Cepat-cepat aku menyingkir dari pintu. "Silakan."
"Mau saran nggak?" tanyanya menghentikan langkahku.
"Apa?" Aku mengernyitkan dahi.
"Mending belajar dulu gimana caranya pegang hp untuk ambil foto orang diam-diam biar nggak ketahuan," ujarnya santai masih sambil bersandar pada dinding kereta. Sama sekali tak terlihat tanda-tanda dia akan masuk ke toilet.
"Saya sudah bilang kan kalau saya nggak ambil foto. Mungkin kamu GeEr aja kali," tandasku.
Dia tersenyum. "Masih ngeles juga. Kamu bisa bohong tapi posisi hp kamu tadi ngga bisa bohong. Jelas-jelas posisinya bukan seperti kamu lagi main HP karena agak miring. Kecuali kamu ada gangguan mata seperti mata juling. Tapi kelihatannya mata kamu normal," cecarnya masih dengan santai.
Aku menarik nafas panjang. "Kamu nggak percaya kan. Nih liat aja sendiri." Aku menunjukkan ponselku yang sudah berada dalam fitur galeri. Hanya sekilas, cukup baginya untuk memastikan kalau tidak ada fotonya lalu segera kutarik kembali. "Ngga ada kan?"
"Thanks karena udah dihapus." Dia tersenyum lagi.
"Terserah." Aku mengedikkan bahu lalu beranjak meninggalkannya.
Begitu kembali pada kursi masing-masing, kini gilirannya yang memandangiku secara terang-terangan. Sungguh aku merasa jengah. Akhirnya aku memilih menelungkupkan kepala bertumpu pada tas ransel yang ada di pangkuan.
Momen tersial dalam hidup yang tak pernah kusesali. Namun, ternyata membawa kehancuran bagi hatiku kini.
**
Seharusnya aku memang tak boleh jatuh cinta pada Fikri. Seharusnya aku memang menjaga hati hanya untuk lelaki yang ayah terima sebagai pendampingku. Dan jelas, untuk alasan apapun, Fikri tak akan pernah menjadi salah satu kandidatnya. Karena dalam keluarga ayah, ada tradisi saling menikahkan anak dengan anak kerabat. Sementara Fikri hanya orang asing yang tak sengaja kutemui. Pun tak sengaja membuat hatiku tertambat.
Ah, memangnya ada jatuh cinta yang bisa disengaja? Kalau ada, tolong ajarkan aku bagaimana caranya. Agar aku bisa mencintai Baim dengan segera. Karena nyatanya, meski telah tinggal di atap yang sama dalam beberapa bulan, hatiku tetap menolak keberadaannya.
Semua yang kulakukan tak ubahnya sebuah rutinitas. Aku seperti robot yang telah disetel harus melakukan apa saja. Bergerak seolah-olah tanpa nyawa. Ya, karena sebagian jiwaku telah tertinggal pada kisah sebelumnya.
Aku masih ingat betul kata-kata Kak Mia sesaat sebelum akad nikah berlangsung. Dengan penuh keyakinan kakak perempuanku itu berkata, "Aku paham rasanya karena aku juga pernah ada di posisi ini. Marah, kecewa dan sedih, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku mulai belajar menerima kalau memang inilah takdirku. Dengan menerima, kemarahan yang tadinya aku rasain perlahan hilang dan aku mulai bisa buka hati untuk Mas Adi. Aku ubah mindset yang tadinya cuma tentang 'aku akan lebih bahagia bersama orang yang aku cinta' dengan 'aku juga bisa bahagia bersama Mas Adi'. Dan sekarang aku bahagia, Fi."
Tiap kali mengingat kata-kata itu, otakku bisa menerima. Mungkin aku hanya tinggal mengganti mindset saja. Namun, entah kenapa hatiku masih belum bisa diajak kompromi.
Sejak pertengkaran semalam, aku memasang mode silent pada mulutku. Kubiarkan seharian ini Baim tak mendengarkan suaraku. Dia pun tak banyak bicara. Satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya hanya saat berpamitan akan berangkat kerja tadi pagi.
Sekarang dia sudah ada di rumah, sedang mandi, mungkin. Entahlah aku sengaja menciptakan jarak. Saat dia masuk ke kamar, aku pergi ke dapur. Kalau nanti dia sudah selesai, maka aku yang akan mendekam di kamar.
Sampai detik ini, dia sama sekali tak meminta maaf karena sudah merusakkan ponselku. Aku juga enggan mengakui kesalahan. Toh, hanya bertanya kabar pada Nisa, bukan pada Fikri langsung. Baiklah, itu salah, tapi tetap saja perbuatan pengrusakan itu juga tak bisa dibenarkan. Aku mau dia yang meminta maaf lebih dulu.
Meski bertengkar, aku tak pernah melupakan kewajiban. Mulutku mungkin terkunci, tapi kebutuhan Baim tetap kupenuhi. Sarapan sebelum berangkat kerja selalu kusiapkan. Dan sekarang, aku sedang membuat coklat panas favoritnya. Saat baru saja kuletakkan cangkir yang masih mengepulkan asap itu ke meja makan, Baim muncul.
"Ini aku ganti." Baim meletakkan ponsel di meja makan.
Aku bergeming. Tidak menatapnya, tidak juga menerima ponsel itu.
"Hape itu sudah ada nomernya. Jangan pakai nomer kamu yang lama. Jangan hubungi siapapun untuk nanya hal yang nggak penting," ujarnya terdengar begitu serius.
Kata-kata itu membuat emosiku kembali berkecamuk. "Ambil balik, aku nggak butuh." Kali ini aku menatapnya tajam.
Dia menghela napas berat. "Mau kamu apa sih?"
"Kak Baim nggak berhak ngerusak barangku!" jawabku ketus. Setengah mati aku menahan diri untuk tidak berteriak di depannya.
"Aku suami kamu. Aku punya hak."
"Nggak. Silakan marah, silakan ngelarang aku apa aja tapi Kak Baim nggak punya hak ngerusak barangku!" Aku menatapnya dengan marah. Mataku mulai memanas sekarang. "Mungkin buat Kak Baim nggak ada artinya, tapi hape itu barang pertama yang aku beli dari uangku sendiri, hasil keringatku sendiri!" Nada bicaraku semakin lama semakin tinggi.
"Kamu yang mulai. Jangan salahkan aku."
"Aku yang mulai? Kamu yang mulai! Sejak awal harusnya kamu nggak pernah nikahin aku. Semuanya salah sejak awal!" Aku menangis histeris. Ini pertama kalinya aku menggunakan kata 'kamu' padanya.
"Kamu ngomong apa sih, Fi?"
"Aku benci kamu!" teriakku lalu kembali menangis hingga meraung-raung. Entah apa yang terjadi pada diriku, aku bahkan tak mengerti. Tangis ini seperti bentuk pelampiasan dari akumulasi kemarahan yang menggumpal di hatiku. Aku sudah tak tahan.