Aku menggeliat, meregangkan tubuh yang terasa kaku. Setelah menangis habis-habisan, aku jatuh tertidur. Dan baru terbangun karena perut terasa lapar. Saat kulirik jam yang tergantung di dinding, jarumnya menuju angka dua. Sudah dini hari, tapi Baim tak ada di tempat biasanya tidur. Ranjang ini hanya aku yang mengisinya.
Usus dan lambungku kembali berkolaborasi menciptakan bunyi minta diisi. Aku baru ingat terakhir makanan masuk memang siang tadi. Tak menunda, aku segera beranjak dari tempat tidur. Saat menuju dapur, tak kutemukan Baim di sofa ruang tengah. Dia tak mungkin tidur di kamar tamu karena kamar itu penuh barang-barangnya yang belum sempat dibereskan.
Terserahlah. Sekarang kuurus perut dulu.
Aku mencari makanan di dapur, hanya ada roti. Lalu aku mengeluarkan s**u cair dari kulkas. Setelah mengisi perut, aku memutuskan kembali ke kamar tanpa peduli Baim ada di mana. Tapi sebelum masuk kamar, baru kusadari kalau pintu rumah tidak tertutup rapat.
Aku berjalan menuju pintu, tadinya berniat langsung menutup, tapi urung begitu melihat Baim duduk di tangga teras. Kuperhatikan apa yang sedang dia lakukan dan baru kusadari kalau di tangannya terselip sebatang rokok. Sementara beberapa putung rokok yang sudah habis dihisap memenuhi asbak yang tergeletak di sebelahnya.
God. Sejak kapan Baim merokok? Aku belum pernah sekali pun melihatnya merokok karena dia memang bukan perokok. Seketika hatiku seperti terhujam, sakit. Sangat sakit.
Baim mengambil sebatang rokok lagi lalu menyelipkan di bibirnya. Saat itulah aku keluar perlahan dan dia masih juga tak menyadari kehadiranku hingga kucabut rokok dari bibirnya. Dia menoleh cepat. Terkejut. Aku hanya menatapnya sejenak lalu duduk di sebelahnya. Aku bisa merasakan kalau dia masih menatapku. Bahkan saat kuraih korek dari tangannya, dia masih mematung.
Ketika rokok hasil rebutan itu kini terselip di bibirku dan hendak kunyalakan, dia baru bereaksi.
"Apa-apaan!" Dirampasnya rokok dan korek itu dariku.
"Mau ikut ngerokok," sahutku santai sembari hanya mengerling sekilas. "Katanya nikotin bisa meringankan beban pikiran. Aku mau coba."
"Nggak usah aneh-aneh!" Suaranya terdengar menggeram tertahan.
Aku tertawa sumbang, dibuat-buat. "Nggak adil! Kenapa Kak Baim boleh, aku nggak?"
Dia tak menjawab hanya melengos membuang muka.
Sejenak kami duduk diselimuti keheningan. Angin malam mulai menusuk hingga ke tulang. Sedingin hatiku sekarang.
Aku masih ingat sebelum kami menikah, Baim pernah mengatakan bahwa keputusan ini adalah yang terbaik. Baik untuknya, terutama terbaik untukku. Tapi aku tak mengerti di mana letak kebaikan dari pernikahan yang dilakukan dalam keterpaksaan? Jelas-jelas aku tak bahagia. Dan dia .... Ah, entah. Apa dia bisa merasa bahagia terjebak dalam hubungan yang dibangun oleh perasaan sepihak seperti ini? Aku benar-benar tak mengerti.
"Sebenarnya apa yang sedang kita pertahankan?" tanyaku memecah keheningan.
"Diamlah, Fi." Meski dikatakan dengan suara lemah, tapi kata-katanya mengandung penekanan.
"Ayo, akhiri---"
"Diam!" serunya lirih lalu meraih belakang kepalaku agar aku menghadapnya.
"Aku belum ingin menyerah. Kamu juga." Dia menatapku dalam. "Aku minta maaf. Maaf karena nggak bisa nahan emosi."
Aku cuma diam, tapi kurasakan mataku kembali menghangat. Oh, ayolah. Setelah menangis segitu lama, kelenjar air mata ini rupanya belum lelah bekerja.
"Jangan bicara soal akhir." Baim menempelkan keningnya ke keningku. "Ayo, kita mulai lagi."
Aku masih terdiam. Kini kupejamkan mata agar tak ada tangis lagi. Aku lelah. Tapi mungkin memang belum saatnya menyerah. Atau memang tak pernah boleh ada kata sudah.
***
"Fi, bajuku ini kenapa, ya?" Baim berdiri di samping meja makan sambil menjembreng kemeja kerjanya.
Hubungan kami kini seperti mesin pengisi bensin. Dimulai dari nol. Lagi. Semoga saja kami tak lelah untuk kembali ke mode restart lagi dan lagi.
Aku memperhatikan kemeja berwarna putih itu kini sebagian agak kekuningan. Seketika rasa bersalah menjalar. Bagaimana bisa aku tidak sadar kalau baju itu berubah warna ketika menyetrikanya.
"Kayaknya kelunturan," jawabku was-was.
Baim menghela napas. "Kemeja putihku yang lain mana?" Ekspresinya terlihat kecewa.
Sepagi ini sudah dimulai dengan secuil kesalahan.
Aku beranjak ke ruang setrika untuk mengambil kemeja putihnya yang lain.
"Maaf," ujarku sembari menyodorkan kemeja yang baru kuambil padanya. Dia hanya mengedikkan bahu menanggapi permintaan maaf itu.
Sesaat kemudian dia kembali ke dapur sudah berpenampilan rapi siap berangkat kerja. Dia menarik salah satu kursi makan lalu mulai menyantap makanannya. Aku memperhatikan ekspresi wajahnya, mungkin dia masih marah.
"Kenapa?" Mungkin dia merasa karena kuperhatikan.
"Kak Baim marah?" Aku mengkonfirmasi bukan untuk kembali menunjukkan rasa bersalah. Toh, aku sudah minta maaf. Jika memang dia ingin ribut karena hal ini, paling tidak aku bisa menyiapkan energi lebih.
"Emang aku kelihatan seperti marah?"
Setelah beberapa hari sejak pertengkaran kami berlalu. Kami sedang berusaha menjalani kebersamaan dengan normal. Oh, tidak. Baim yang berusaha menetralkan keadaan, aku masih dalam mode membentangkan jarak.
Aku mengedikkan bahu. "Nggak tau."
Dia tersenyum. "Ngga apa-apa. Berarti udah waktunya aku beli baju baru," ujarnya santai.
Aku mengangguk. "Betul juga."
Dia mengekeh pelan.
"Nanti Kak Baim lembur lagi?"
"Ehm, ngga kayaknya. Mau makan diluar?" tawarnya.
Aku mengangguk. "Aku bosen di rumah terus," jawabku jujur. Sudah tiga hari dia lembur dan selalu pulang jam sembilan malam. Ditambah perang dingin kami beberapa hari lalu. Aku benar-benar hanya mendekam di rumah seperti tahanan.
"Oke." Dia kemudian melanjutkan makan hingga selesai. "Aku berangkat, ya," pamitnya sembari beranjak dari duduknya.
Aku mengangguk lagi dan kubiarkan dia mengecup keningku seperti biasa.
"I love you," bisiknya sebelum menjauhkan wajah.
"I don't." Enteng sekali kata-kata itu meluncur dari mulutku. Tak ada tekanan, tak ada beban. Terucap begitu saja dan mungkin terdengar seperti gurauan. Karena bukannya marah, Baim justru mendengkuskan tawa kecil. Dan untuk mengimbanginya, aku menarik ke dua ujung bibirku dengan sedikit susah payah. Mungkin terlihat aneh, karena belakangan ini aku mulai lupa caranya tersenyum dengan benar.
"I love you," ulangnya lagi dengan nada jenaka sembari mencubit gemas hidungku.
"Iya aku tahu." Aku menepis pelan tangannya. "Udah sana berangkat. Cari uang yang banyak buat beliin aku istana."
Dia tertawa kemudian mengelus lembut kepalaku sebelum keluar rumah.
Setelah Baim berangkat, aku memulai rutinitas sebagai ibu rumah tangga. Mencuci, bersih-bersih rumah dan yang terakhir memasak. Kali ini aku hanya memasak menu sayuran karena tidak akan makan malam di rumah jadi tak perlu memasak banyak. Setelah semua beres aku istirahat siang sebentar. Bangun tidur nanti jadwalku menyetrika pakaian.
Semua tugasku sudah selesai. Baju-baju yang sudah kusetrika sudah berada di tempatnya masing-masing. Aku sudah mandi, hanya tinggal menunggu Baim pulang. Sudah lebih jam lima sore tapi belum ada tanda-tanda dia datang.
Kuputuskan menunggu sambil menonton televisi tapi rasanya begitu bosan. Entah kenapa tiba-tiba rasanya jengkel sekali karena Baim tak juga pulang. Untuk membunuh rasa bosan ini, kuraih ponsel di meja. Ya, akhirnya aku pakai juga ponsel itu. Sudah dengan nomor dan pin baru. Aku kehilangan hampir semua kontak orang-orang yang kukenal, kecuali keluarga. Betapa menyebalkan.
Sebenarnya tak banyak yang bisa kulakukan dengan ponsel baru ini. Biasanya aku menghabiskan waktu luang dengan membaca status teman-teman lalu mengomentari saat ada yang ingin kukomentari dan berlanjut chat sana sini. Tapi sekarang begitu sepi.
Tiba-tiba saja sebuah pemikiran iseng muncul. Aku mengetikkan sederet angka lalu mencoba menelepon nomor yang telah tertera. Sebenarnya bermaksud menguji apakah deretan nomor itu masih sesuai ingatanku dan benar milik seseorang yang kukenal.
Kutempelkan ponsel di telinga, mendengarkan nada deringnya.
Nada dering pertama.
Nada dering kedua.
Nada dering ke tiga.
"Halo."
Suara orang asing. Aku langsung memutuskan panggilan.
Kupandangi sejenak deretan angka itu lagi dan berusaha mengingat di mana yang salah. Ah, ya! Ada angka yang tertukar urutan. Setelah kuperbaiki, kucoba lagi.
Nada dering pertama.
Nada dering kedua.
Nada dering ke tiga.
Nada dering ....
"Halo."
Seketika tubuhku membeku. Suara itu ... untuk sekejap membuat jantungku berhenti kemudian berdetak lagi seperti kuda yang sedang berlari kencang.
Aku segera mengakhiri panggilan.
Aku masih berusaha menetralkan debaran di d**a saat ponselku berdering. Nomor tak dikenal dan aku butuh waktu memperhatikan nomor mana yang menelpon balik. Yang pertama atau kedua, tapi konsentrasiku begitu pecah.
Dan entah dorongan dari mana, aku justru mengangkatnya.
"Halo." Suara itu lagi! Suara yang begitu kurindui.
"Siapa ini?"
Aku cuma diam, membiarkan telingaku merekam dengan baik suara berikut hela napasnya.
"Halo ...."
Hening sesaat. Aku tetap tak bicara dan dia memutus kata-kata. Hingga tiba-tiba ....
"Sofia?" Begitu pelan dan penuh keraguan diucapkannya namaku.
Berhasil membuat tubuhku berdesir hebat. Aku segera menutupnya.