SatNight

2038 Kata
Jember, 2016 Ibu menyambut kedatangan Raka dengan semringah. Terbukti dengan segala macam hidangan yang tersaji di meja. Aku bahkan tanpa sadar berdecak-decak sambil geleng-geleng kepala. "Kayaknya kalo Fia yang pulang, nggak dimasakin sebanyak ini deh," celetukku sembari menarik kursi makan "Raka nggak tiap minggu ke sini," sahut Ibu membela diri. Diam-diam aku mencibir, tapi tentu saja aku tahu memang begitulah Ibu. Selalu antusias saat ada tamu datang bertandang. Lalu seolah tak akan puas jika belum mengeluarkan semua kemampuannya di dapur. Untuk ukuran menyambut satu tamu, percayalah isi meja makan sekarang berlebihan. Tapi melihat wajah tua itu berbinar, di dadaku ada rasa bahagia yang turut menjalar. "Makan, Ka. Abisin," suruhku pada Raka yang tanpa malu-malu langsung mengisi piringnya. Seharusnya jam makan malam masih satu jam lagi tapi sepertinya Raka sudah bak singa yang tak makan berhari-hari. Usai menyelesaikan makan malam yang dipercepat ini, aku bersama Raka dan Ibu menghabiskan waktu untuk mengobrol di ruang tengah. Sambil menemani Ibu menonton sinetron favoritnya, tentu saja. Ibu tak jauh berbeda dengan Tante Yuli. Tipe wanita hangat yang mudah mengambil hati. Hampir setiap anak-anak yang bertemu dengan mereka tak butuh waktu lama untuk kemudian mengekor ke mana-mana. Jika Ibu dikaruniai tiga anak, Tante Yuli hanya beruntung mendapatkan anak tunggal saja. Ya, Raka adalah anak satu-satunya. "Kak, bosen nggak sih?" Aku melirik Raka yang berbisik-bisik setelah selesai menanggapi pertanyaan-pertanyaan Ibu seputar aktivitasnya. "Udah biasa. Aku kan ratu penjaga rumah," sahutku ikut-ikutan berbisik. "Jalan ke mana gitu, yuk." Ajakan Raka terdengar begitu menggiurkan, tapi aku tak mau buru-buru terbuai. Jadi, aku mengedikkan dagu ke arah Ibu. "Pamit sendiri sana." Raka garuk-garuk kepala, tapi pada akhirnya memberanikan diri juga. "Bude," panggilnya yang ditanggapi oleh gumaman saja oleh Ibu. "Aku liat-liat Jember, ya? Boleh?" Ibu menoleh dengan ekspresi wajah sedikit bingung. "Lha, Jember ya gini-gini aja tho, Le." Aku berusaha untuk tak menertawakan Raka, pura-pura sibuk dengan ponsel di tangan. "Kan aku sudah lama nggak ke sini, Bude. Pasti banyak hal-hal baru. Kata teman-teman Jember lebih rame dari Banyuwangi, De." "Justru karena nggak pernah ke sini harusnya banyak habiskan waktu sama Budemu." Itu suara Ayah yang tiba-tiba menyela. Aku tak menyadari kehadirannya. Beliau baru pulang dari masjid. Sontak saja baik aku maupun Raka menyambutnya untuk bersalaman. Raka meringis kecut. "Sebentar aja, sih, Pakde." Masih gigih dia mencoba. "Memangnya kamu tahu jalan?" Suara Ayah yang besar itu selalu berhasil membuat nyaliku langsung menciut saat ingin meminta sesuatu. Namun, sepertinya Raka tak terlalu merasakan hal begitu. Mungkin karena dia sudah terbiasa dibebaskan berpendapat dan didengar. Diajak berdiskusi, bukan ujug-ujug dilarang ini dan itu sepertiku. Maka rasa percaya dirinya begitu besar. "Kan ada Kak Fia," sahut Raka cepat. "Nggak malam-malam, kok, Pakde." Aku menelan liur dengan susah, menunggu jawaban Ayah. Sementara Raka tetap saja terlihat tenang. "Besok saja. Ini malam minggu. Jalanan rame." Seperti biasa nada bicara Ayah terdengar tegas. Seolah berkata jangan ditawar lagi. Itu yang terdengar di telingaku, entah telinga Raka juga mendengar hal yang sama atau justru berbeda. Karena kulihat mulutnya sudah siap bergerak untuk kembali bicara. "Ya, besok jalan-jalan lagi, Pakde," katanya sembari tersenyum lebar. "Lha, piye tho?" "Hehehe. Kan selain ingin ketemu Bude dan Pakde, aku ke sini karena pengen jalan-jalan juga." Raka masih cengengesan. "Besok seharian di rumah nggak apa-apa. Pengen tahu Jember kalo malem kayak apa. Gitu, lho, Pakde." "Lha, ya sama saja dengan Banyuwangi. Gelap." Jangan bayangkan Ayah melempar lelucon itu sambil tertawa. Tidak. Wajahnya tetap saja dalam mode kaku. Raka terlihat mulai kehabisan akal. Sudah kuduga Ayah tak akan mudah dirayu. Mungkin Raka memang harus menerima jika akhir pekannya harus dihabiskan di sini, di dalam rumah saja. "Ya, sudah. Jangan sampai jam sembilan." Celetukan Ayah yang tiba-tiba itu berhasil membuatku melongo. Sementara Raka tersenyum girang. "Siap, Pakde," sahutnya dengan semangat berlebihan. Eh, tapi lama-lama semangatnya menular juga. Aku mendadak merasakan euforianya juga. Luar biasa. Akhirnya aku bisa juga merasakan udara luar di malam Minggu. Nyaris saja aku menjanjikan sebuah traktiran dengan mengijinkannya memilih apapun yang dia mau. Untungnya aku keburu sadar. Biar sajalah tak perlu sampai melakukan hal itu atau gaji sebulanku benar-benar bisa ludes tak bersisa. Aku tak bisa menahan ujung bibirku yang terus tertarik membuat lengkungan di sepanjang jalan. Terlebih saat merasakan angin malam membelai wajahku. Ah, silakan katakan aku lebay. Tapi, ya, aku terlampau girang. Siapa peduli jika ada yang mengolokku norak. Karena rasanya aku ingin berjingkrak. "Akhirnyaaa, aku malam mingguan." Aku memekik tepat di sisi telinga Raka yang tertutup helm. Sengaja memang ingin membiarkan rasa senang ini meluap-luap tanpa perlu ditutupi. "Berkat siapa?" balas Raka dengan suara ikut-ikutan keras. Aku tertawa. Rasanya begitu lepas. Seketika rasa sedih karena tak bisa pulang bersama Fikri sedikit terobati. Tak apa meski menikmati malam Minggu bukan dengan kekasih. Yang penting keinginan yang kupendam sejak lama sudah keturutan. Raka menghentikan motor di alun-alun kota lalu mencari tempat parkir yang masih kosong. Ternyata cukup sulit karena motor-motor sudah berjajar penuh. Sama sekali tak kubayangkan akan seramai ini. "Ingat-ingat tempat parkirnya, ya, Kak. Biar nggak pake drama cari motor waktu mau pulang. Ntar kita kena setrap sama Pakde." Aku meringis mendengar ucapan Raka sembari menandai tempat kami meninggalkan motor. Kemudian berjalan beriringan menyebrangi jalan. "Rameee," desisku masih berjalan di sebelah Raka. "Mau pulang?" Aku menggeleng cepat sambil tersenyum lebar. Terlampau lebar, sepertinya. "Terus rencananya mau ngapain ini?" Raka mengedikkan bahu. "Harusnya Kak Fia sebagai orang Jember yang jadi pemandunya. Bukan malah nanya ke aku yang notabene adalah tamu." Aku mendengkus geli lalu mengedarkan pandangan sembari mencari ide apa yang bisa kami lakukan di sini. Sepanjang mata memandang yang tertangkap adalah puluhan atau mungkin ratusan kepala. Dari yang muda hingga tua, anak-anak juga tentu saja ada. Mulai dari segerombol remaja, pasangan muda-mudi, sampai para keluarga kecil bersama putra-putrinya tampak memenuhi tempat ini. "Muter aja dulu, ya. Sambil nyari makanan terus cari tempat duduk," usulku. "Udah kenyang, Kak," tolak Raka tegas. "Muter aja terus cari tempat duduk." Aku mengangguk setuju. Kemudian kembali sibuk melihat-lihat keramaian yang begitu menyenangkan mata, lampu-lampu berwarna-warni yang melilit di hampir semua pohon di sepanjang jogging track, juga badut-badut yang menyambut di tiap pojok alun-alun. Sementara Raka berjalan di sebelahku sibuk dengan ponselnya. Membuatku berdecak beberapa kali, tapi menahan diri untuk mengomentari. "Duduk situ aja, Kak." Raka menunjuk area bermain. "Rame. Banyak anak kecil main." "Bukan di tempat mainnya juga. Di sebelahnya tuh." Aku tak menginterupsi lagi, terus mengikuti langkah Raka. Ternyata yang dia maksud area sebelah tempat bermain. Tepatnya pintu masuk alun-alun, tapi jarang sekali pengunjung masuk lewat sini. Juga areanya tak terlalu penuh seperti sudut lain, padahal berdekatan dengan food court. "Tunggu sini, ya, Kak. Aku mau ke toilet." Belum sempat protes, Raka sudah melesat lebih dulu, membawa langkah kakinya menjauh. Aku mengembuskan napas pasrah lalu duduk di bangku beton yang berada di sana. Memilih memperhatikan lalu lalangnya kendaraan. Menikmati keramaian malam kota Jember untuk pertama kalinya tanpa diiringi Ayah. Kalau diingat-ingat, Ayah jarang sekali keluar di malam Minggu. Kalaupun mengajak kami keluarganya untuk berlibur, Ayah lebih memilih waktu ketika langit masih terang. Atau jika terpaksa keluar malam, biasanya malam-malam di hari kerja. Pilihan lainnya, Ayah hanya pergi berdua dengan ibu. Sementara anak-anaknya harus tinggal di rumah. Entahlah, aku terkadang tak mengerti pola pikir Ayah. "Sendirian, Mbak?" Suara itu berasal dari arah belakangku dan yakin sekali bahwa ditujukan kepadaku. Tak berniat merespon apalagi menoleh, aku memutar pandangan ke arah lain. Di mana ada beberapa orang bergerombol. Jika orang yang menyapaku itu ternyata akan macam-macam, aku tinggal berteriak minta tolong. Sebenarnya bisa saja aku berdiri lalu pergi dari sini, tapi entah kenapa tubuhku terasa kaku untuk diajak beranjak. "Ditemani, ya." Suara itu kini terdengar lebih dekat. Dia pasti sudah berdiri di sampingku. "Sendirian itu nggak enak." Bisa kupastikan dia sudah ikut duduk di kursi beton ini karena aroma parfumnya terhidu. Dengan cepat aku menoleh dan mendapati sebentuk wajah dengan senyum teramat lebar. Aku membekap mulutku sendiri lalu memekik tertahan, "Fikri!" Dan tawa lepasnya terurai. Tak peduli meski aku memukul bahunya karena kesal, lalu menghujaninya dengan cubitan pelan. Dia masih saja tertawa-tawa sambil menahan tanganku. "Kamu bilang mau ketemu nasabah. Dasar bohong!" "Nggak bohong, kok," kilahnya. "Emang mau ketemu nasabah besok. Di sini." "Jadi sebenarnya tadi kamu juga pulang?" tanyaku tak percaya. Dia mengangguk mantap. "Kita satu kereta, tapi beda gerbong." "Dan Raka tahu itu?" tanyaku dan dia mengangguk lagi. "Kalian kongkalikong!" Fikri tak menampik pernyataanku. Dia hanya memamerkan deretan gigi putihnya dalam bentuk cengiran tanpa dosa. "Ini malah ide Raka," akunya. "Aku bilang pengen ngajak kamu jalan di Jember, tapi nggak tahu caranya. Terus dia nawarin ide ini." Mendadak hatiku bungah. Akhirnya impianku tercapai. Aku benar-benar bisa berada di sini bersama Fikri. Kenyataan yang tak pernah berani aku nalarkan. Sekarang aku tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum apalagi melihat sosok di depanku ini bukan khayalan belaka. "Kata Raka kita punya waktu satu jam. Dia mau jalan-jalan sendiri, nanti ketemuan lagi di sini." Aku mengangguk girang. Saking excited-nya sampai tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menanggapi kata-kata Fikri melalui gerakan kepala. "Jadi, kita mau ke mana?" Pertanyaan itu bahkan aku sama sekali tak bisa menjawabnya. "Mau di sini aja atau ...." "Atau?" Aku membeo karena Fikri dengan sengaja menggantung ucapannya. "Ke rumahku," lanjutnya sambil tersenyum penuh arti. Nyaris saja senyumku memudar, tapi aku berusaha mempertahankannya. "Di sini aja, ya?" Dia tetap tersenyum. Tak ada tanda-tanda kecewa atas pilihanku meski berkata, "Padahal Ibu pasti seneng ketemu kamu." Aku jadi serba salah. Karena tak tahu harus menimpali apa, jadi kukatakan, "Tadi aku liat ada yang jual arumanis." "Kamu mau?" Aku mengangguk tanpa ragu meski sebenarnya tak sedikitpun ada keinginan untuk menyantap jajanan itu. Ini hanya sebuah bentuk penghindaran dari ajakan Fikri. Dia berdiri sembari mengulurkan tangan. "Ayo, beli." Aku menyambutnya tanpa pikir lagi. "Senang?" Aku menoleh sekilas lalu kembali melihat ke depan, terus berjalan beriringan. "Emang nggak keliatan dari wajahku?" Fikri terkekeh kecil. "Iya, mesem terus dari tadi," katanya. "Sederhana banget cara bikin kamu bahagia, Fi." Aku menoleh lagi. Dia mengulum senyum, tapi pandangannya lurus ke depan. Entah sudah berapa kali dia tertawa, aku tertawa, lalu berakhir dengan senyum yang tertinggal bertahan cukup lama. Yang jelas, malam ini akan kucatat sebagai malam penuh tawa di sepanjang kedekatan kami. Tuhan, selama ini hidupku sudah cukup baik. Aku bersyukur memiliki ayah yang sayang dan mengayomi keluarga meski masih berpikiran kolot dan over protective. Aku bahagia memiliki ibu yang hangat dan bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Aku beruntung dihadirkan menjadi adik bungsu dari kedua kakakku yang penyayang. Aku merasa cukup dengan semua yang kupunya sekarang. Dan lelaki di sebelahku ini adalah hadiah terbaik yang kudapatkan. Fikri mengajakku ke lapangan di tengah alun-alun setelah membeli arumanis. Kami duduk-duduk di hamparan rumput bersama dengan banyak pengunjung alun-alun yang kebanyakan adalah pasangan keluarga. Sebagian dari mereka seperti kami, duduk diam sambil memperhatikan anak-anak bermain baling-baling plastik, gelembung udara, dan permainan lainnya. Sementara yang lain turut menemani putra-putri mereka. "Harusnya tadi beli dua, tapi kamu ngeyel beli satu aja," celetukku saat Fikri mencomot arumanis yang kupegang untuk ke sekian kalinya. "Biar apa? Keliatan romantis, gitu? Malah jatuhnya keliatan pelit." Aku berkata sembari menyeringai lebar. Fikri tersenyum kecil. "Bukan pelit, tapi makan punya orang itu rasanya lebih nikmat." Kemudian dia terkekeh pelan, membuatku mendengkus geli mendengar teorinya itu. "Kayaknya kita harus sering-sering ajak Raka biar bisa punya kesempatan pergi kayak gini." Aku menyemburkan tawa sumbang mendengar ide tak logis itu. "Lama-lama Ayah bakal curiga." "Bisa diatur. Nanti diagendakan setiap berapa bulan sekali gitu." Aku mengabaikan topik yang Fikri pilih, lalu berkata, "Tau nggak saking biasanya pulang pergi sama kamu, tadi rasanya nggak enak banget selama di kereta. Padahal kan ditemani Raka," akuku tanpa gengsi. Fikri tak menimpali. Dia hanya tersenyum tipis sementara pandangannya terlempar pada kumpulan anak-anak yang berlari ke sana kemari. Kupikir dia akan menggodaku. Kupikir dia akan jemawa atas pengakuan itu. Nyatanya dia diam hingga beberapa saat. "Kamu harus membiasakan diri tanpa aku lagi, Fi," ucapnya tiba-tiba, masih dengan pandangan terlempar jauh, tak menatapku. Aku mengernyit. "Maksudnya?" Kali ini dia menoleh, menatapku dalam. "Awal bulan ... aku dimutasi." Kata-kata itu seperti sebuah tamparan keras bagiku. "Di sini," lanjutnya kemudian. Mau tahu seperti apa perasaanku sekarang? Seperti kau baru saja melihat pesta kembang api yang teramat indah, menciptakan euforia meledak-ledak di dadamu. Lalu setelahnya percikan-percikan penuh keindahan itu terberai, hilang. Dan hanya menyisakan langit malam yang kelam. Begitulah yang kurasakan sekarang. Semua rasa senang yang tadinya meletup-letup, kini habis tak bersisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN