Banyuwangi, 2016
Pergantian tahun. Seperti biasa tanpa resolusi apa-apa. Terkadang aku merasa seperti orang yang tak punya impian, tapi di sisi lain aku merasa menjadi orang yang menikmati apa yang kehidupan berikan. Tak ada target, tak ada ambisi. Jalani saja yang semestinya dan berusaha melakukan yang terbaik. Entah itu cukup atau tidak. Sampai saat ini aku merasa baik-baik saja dengan pola hidup seperti itu.
Roda hidupku berjalan stabil. Bekerja meski gaji tak luar biasa. Berkumpul bersama keluarga meski ada saatnya aku ingin terlepas sesekali. Berada dalam circle pertemanan yang tak membawa efek toxic. Semua itu patut disyukuri, bukan?
Dan permulaan tahun ini terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya, meski tetap tak ikut-ikutan beramai-ramai meniup terompet di jam dua belas malam, tahun ini terasa lebih ramai dengan kehadiran Fikri.
Aku tersenyum sembari melambaikan tangan saat melihat Fikri melewati pintu warung bakso di mana aku berada sekarang. Kami janjian untuk makan siang. Berada di kota yang sama saat hari kerja tak lantas membuat kami memiliki waktu bebas untuk bertemu. Tetap saja harus mencocokkan jadwal dulu. Bukan aku yang sok sibuk, tapi Fikri tak selalu berkeliaran di Banyuwangi kota mengingat kantornya yang berjarak lumayan.
"Sorry, telat," ucapnya begitu menarik kursi plastik tepat di hadapanku lalu duduk di sana. "Kalo udah ketemu nasabah, nggak bisa memprediksi kapan selesai. Kadang ngobrol jadi panjang lebar."
Aku tersenyum tanpa rasa dongkol sama sekali. Terlambat sepuluh menit bukan alasan untuk merasa kesal apalagi penyebabnya adalah pekerjaan.
"Nggak apa-apa, aku paham," timpalku. "Pesan sekarang?"
Dia mengangguk sembari meringis. "Lapaaar," keluhnya membuatku tertawa kecil.
"Tunggu di sini, biar aku yang pesan."
"Nggak pake bawang, ya, Fi."
"Udah hapal," sahutku lalu bergerak menuju rombong pedagangnya. Menyebutkan pesanan berupa dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk kemudian kembali ke meja.
"Ini nggak apa-apa, ya, kamu abisin jam istirahat di Banyuwangi? Ntar harus balik ke Genteng, cukup waktunya?"
Fikri meletakkan ponselnya. Jika saat bertemu begini dia masih mencuri melihat layar ponsel, berarti itu tentang pekerjaan. Mungkin seharusnya kami tak perlu memaksakan bertemu.
"Nggak apa-apa, aku ada janji sama nasabah di sini. Jadi bisa langsung ke sana."
Aku mengangguk-angguk dan Fikri kembali fokus pada ponselnya.
Aku mengembuskan napas pelan. Sedikit sebal juga kalau bertemu, tapi dia justru sibuk kerja.
"Kalau kamu sibuk harusnya nggak perlu ketemu gini." Akhirnya aku tak tahan juga menyimpan uneg-uneg itu.
Dia tersenyum tapi matanya masih tak lepas dari layar ponsel. "Nggak sibuk, cuma mau hubungi nasabah buat ngabarin jam ketemu."
Aku tak bersuara lagi, memilih menyandarkan punggung ke kursi sembari melipat kedua tangan di d**a. Sepertinya pertemuan ini tak akan semenyenangkan yang kukira. Terlebih suasana warung cukup ramai, membuatku menyesal memilih makan di sini. Harusnya pilih tempat makan yang lebih sepi jadi lebih nyaman. Eh, tapi apa gunanya kalau lelaki di hadapanku seolah lupa ada aku di sini karena ponsel lebih menarik perhatiannya. Seharusnya aku bawa ponsel juga tadi bukan malah meninggalkannya di kantor.
Beruntung meski ramai, makanan pesanan kami tak butuh waktu lama disiapkan. Begitu aroma bakso menguar di atas meja, Fikri langsung meletakkan ponselnya dan menarik mangkuk miliknya. Lalu kami menekuri isi mangkuk masing-masing dalam diam.
"Weekend nanti aku nggak bisa pulang kayaknya."
Aku memaksa menelan bakso yang belum sepenuhnya lumat di dalam mulut dan mengabaikan rasa perih yang muncul di tenggorokan demi bisa cepat merespon ucapan Fikri.
"Jadi kamu ngajak ketemu sekarang buat pengganti weekend?" Entah kenapa rasa sebalku makin menjadi.
Dia mengangguk. "Aku dapat nasabah yang minta ketemu hari Minggu." Sama sekali tak terlihat ada beban dari nada bicara Fikri. Mungkin hanya aku yang menyayangkan tak bisa pulang bersama. Dia sih santai-santai saja sepertinya.
"Oh ... oke." Aku sudah kehilangan selera, tapi terlalu sayang meninggalkan mangkuk tidak dalam kondisi kosong. Jadi meski tak lagi terasa nikmat, aku tetap melanjutkan makan. Dalam diam.
Aku bisa merasakan wajahku tertekuk sekarang, tapi Fikri sama sekali tak peka karena dia bisa lanjut makan dengan lahap.
Cepat-cepat aku selesaikan makan lalu mendorong mangkuk sedikit menjauh dari hadapanku. "Kalo udah, langsung balik aja." Aku berusaha menekan rasa kesal agar tak sampai terlihat dari nada bicaraku tapi ternyata tak mudah.
"Kenapa?" Fikri melirik jam tangannya. "Masih ada waktu, kok. Duduk-duduk aja dulu."
"Kamu masih ada janji, kan?"
"Ya, nanti. Bukan sekarang." Dia menyandarkan punggung terlihat kekenyangan. "Kamu minta tolong Raka buat beli tiket, ya."
Aku mengangguk lemah. Sepertinya memang tak ada harapan. Fix, aku pulang sendiri weekend nanti. Tanpa sadar kuembuskan napas dengan sebal.
"Jangan kesal dong, Fi. Ini aku kerja." Akhirnya dia peka juga.
"Iya, aku tahu."
"Terus kenapa masih cemberut?" Dia menatapku dengan geli dan berhasil membuat perasaanku makin tak karuan. Kenapa dia tak memasang tampang merasa bersalah saja, sih?
"Balik, yuk." Aku meraih dompet dari meja lalu mengambil selembar uang, kusodorkan padanya.
"Kalau ngambek nggak mau dibayarin gitu?" Fikri berdecak. "Dewasa sekali, Sofia. Ngambek, ya, ngambek aja." Kemudian dia berdiri meninggalkan meja untuk membayar pesanan kami.
Aku berjalan keluar warung, menunggunya di parkiran hingga dia menyusul. Dan wajahku masih tetap tertekuk dengan bibir terkatup rapat.
"Beneran balik kantor, nih?"
"Hmm." Aku hanya bergumam padahal ingin sekali berkata dengan ketus, "Mau ke mana lagi?" Tapi tak bisa. Kata-kata itu kutelan kembali.
Dia menahan lenganku saat aku akan berjalan menuju tempat motor Nisa yang kupinjam. "Ngambeknya serius? Cuma karena masalah gitu aja?"
Aku berbalik, menatapnya dengan geram. "Cuma karena masalah gitu aja, kamu bilang? Kamu tau kalau nggak bisa pulang weekend nanti, tapi begitu dateng tadi malah main HP---"
"Aku nggak main, aku ngabarin nasabah," ralatnya dengan tenang. Sepertinya emosi hanya menjajahku saja.
"Nanti kan bisa. Buat apa maksa ketemu kalau kamu sibuk?" Setengah mati aku menjaga nada bicara agar tak berubah menjadi tinggi karena tak ingin menjadi tontonan orang. "Mending nggak usah ketemu!" desisku.
"Aku kangen."
Seketika aku menjadi bungkam dan kehilangan kata-kata. Dan luar biasanya dia justru tertawa pelan.
Aku mendengkus, membuang muka. Tak lagi menatapnya. "Cuma kamu yang ngadepin orang kesal dengan tertawa."
Tawanya mereda. "Kalau aku ikutan marah, nanti makin panjang." Kini bibir itu menyunggingkan senyum. Aku menangkapnya saat melirik sekilas. "Lagipula aku nggak suka berantem sama kamu."
Dia mengelus kepalaku lembut lalu sedikit memutar agar aku kembali menatapnya. "Ya udah kalau mau balik, hati-hati," ucapnya begitu pandangan kami kembali bertemu. "Tapi ingat kalau aku BBM nggak boleh dicuekin. Kalau aku telepon harus diangkat. Oke?"
Aku mengedikkan bahu. "Selamat kencan sama nasabah."
Dia kembali tertawa kecil. "Selamat kencan sama akta."
Dia masih berdiri di tempatnya, masih dengan senyum yang sama saat aku sudah menaiki motor, memakai helm dan menghidupkan mesin. Sementara wajahku masih dalam mode cemberut.
Selalu begitu, aku yang tak bisa mengurai rasa kesal dengan cepat dan Fikri selalu sabar menghadapi sikapku.
Sebelum benar-benar meninggalkan warung, dia bahkan masih sempat melambaikan tangan. Membuatku mengembuskan napas kasar. Mungkin aku memang harus mulai belajar sabar.
***
Hari itu seolah belum puas bersikap jutek pada Fikri, aku curhat habis-habisan pada Raka. Meski lebih banyak main ponsel, Raka sama sekali tak memotong ucapanku hanya untuk melempar penghakiman menyebalkan. Mungkin karena itu aku tak merasa canggung menjadikannya tempat curhat selain Nisa.
"Ya udah, pulang sama aku aja," celetuk Raka tiba-tiba saat itu dan berhasil membuatku melongo. "Aku ikut ke Jember," lanjutnya seolah mempertegas mungkin karena melihatku seperti orang linglung.
Dan di sinilah kami sekarang. Di atas kereta api Probowangi menuju Jember. Baru beberapa menit yang lalu meninggalkan stasiun Karangasem.
"Ini nggak ada yang duduk sama kita, Kak?" Raka mengedikkan dagu ke arah kursi kosong di sebelahnya. Kursi di sebelahku pun belum terisi. Kalau benar kosong sampai nanti, beruntung sekali.
"Nggak tau," sahutku. "Semoga aja."
"Asyiiik, kalo kosong aku bisa tidur selonjoran," katanya sambil tersenyum lebar.
Dan senyum itu menular. Ternyata melakukan perjalanan dengannya tak terlalu buruk meski ada yang kosong di dalam hati. Mungkin karena sudah terbiasa bersama Fikri dalam beberapa bulan ini, jadi tak ada dia rasanya ada yang kurang.
"Kamu pernah jatuh cinta nggak, Ka?" Setelah menempuh hampir setengah perjalanan, kursi kami tetap tak terisi oleh orang lain, jadi bebas bagiku untuk mengobrol apa saja tanpa khawatir didengar orang.
Raka mengedikkan bahu. Dia benar-benar melakukan niatnya untuk tiduran. Dengan posisi terlentang dan kaki menopang pada kaki lainnya, dia memberi respon tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya.
"Aku masih umur belasan, Kak. Nggak ngerti cinta-cintaan. Kalau naksir cewek ya pernah."
"Pernah patah hati?"
Dia meringis. "Pernahlah kalau cewek yang aku gebet, nggak naksir balik." Lalu dia terkekeh pelan. "Tapi nggak lama-lama. Cari yang lain. Cewek kan banyak."
Aku mendengkus geli mendengar teorinya. Kemudian untuk waktu yang cukup lama kami tak lagi saling bicara. Aku membuang pandangan keluar jendela dan mendapati pohon-pohon kopi yang buahnya sepertinya bisa dipanen tak lama lagi. Melihat itu, aku mendadak ingat Fikri.
Me : Aku lagi di Gumitir. Liat pohon kopi, jadi ingat kamu.
Pesan BBM terkirim pada kontak Fikri. Tapi aku tak bisa berharap banyak karena pesan yang kukirim sesaat setelah kereta melaju saja belum dibacanya hingga sekarang.
Me : Masih ketemu sama nasabah ya?
Kukirim satu pesan lagi lalu menyimpan ponsel ke dalam tas kembali. Sekilas kulirik Raka yang masih tiduran. Kini dia bersedekap dengan mata terpejam. Sementara di telinganya sebuah headset terpasang.
Aku menghela napas panjang lalu kembali mengalihkan pandangan menembus jendela. Perasaan kosong yang tadi sempat teralihkan selama mengobrol dengan Raka, kini mulai terasa kembali. Terlebih sejak pagi aku hanya menerima satu pesan dari Fikri yang isinya mengingatkan agar berhati-hati dan berharap aku menikmati perjalanan ini bersama Raka. Ya ... basa-basi semacam itulah. Lalu dia menghilang hingga sekarang.
Tiba-tiba saja terbersit dalam kepala bagaimana jika ini benar-benar menjadi perjalananku tanpa Fikri lagi? Bagaimana jika di satu hari nanti akan ada saat di mana aku menghabiskan waktu selama tiga jam di atas kereta kembali sendiri?
Aku menggeleng cepat, mengusir pikiran-pikiran itu agar segera enyah. Karena rasa galau mulai merajalela.