Ibu tak pernah lagi membicarakan soal cucu di setiap teleponnya. Sementara, aku sudah mantap ingin menunda, tapi Fikri tak setuju. "Ngapain, sih? Aku yang sama kamu tiap hari. Kamu sehat, nggak ada yang perlu dikhawatirkan." Begitu ucapnya ketika aku mulai membahas soal a**************i. Hanya begitu saja, tapi berhasil membesarkan hatiku. "Kalau kamu hamil berarti Allah memang percaya ngasi amanah. Kalau belum, nikmati masa berdua. Nggak usah mikir macam-macam." Kata-kata penutup dari Fikri suatu malam setelah pembahasan panjang perkara kekhawatiran ibunya. Jadi, hari-hari berikutnya tak ada lagi obrolan tentang ingin segera atau menunda memiliki anak. Kami sepakat membiarkan semua mengalir saja. Sebisa mungkin aku berusaha bersikap tenang seperti Fikri, meski selalu ada saat di mana r

