Aku tahu tak ada jalan yang mulus. Jika di awal semua terasa mudah, maka di baliknya pasti menyimpan kerikil terjal. Aku tahu pasti begitulah yang selalu tersaji dalam kehidupan. Jika dulu aku hanya memikirkan yang indah-indah, setelah semua yang aku alami, aku lebih realistis memandang perjalanan hidup. Namun, sama sekali tak menyangka bahwa kerikil itu akan berasal dari mertua. Aku tak akan menarik kembali pernyataan bahwa di pernikahan ini pun aku mendapatkan mertua yang baik. Ya, ibu memang baik. Hanya saja ketika beliau berkunjung ke kontrakan kami bersama adik Fikri, itulah saatnya kurasa sebagai petaka. Saat itu, aku sedang berada di dapur ketika mendengar Ibu bertanya, "Obat apa ini, Fik?" Perasaanku seketika tak enak terlebih saat Fikri menjawab, "Oh ...." Ada jeda seolah-olah

