"Nikah yuk."
"Hah?"
Aku menghela nafas panjang. "Kak Baim ngga dengar?"
"Kamu lagi bercanda? Kalo cuma bercanda, sama sekali ngga lucu," ujarnya dengan nada serius.
Aku diam sebentar lalu berkata, "Mana mungkin aku bercanda untuk masalah ini. Aku serius." Aku menggigit bibir, meyakinkan diri sendiri kalau keputusan ini memanglah benar.
Baim diam. Tidak ada respon. Sementara jantungku begitu berisik di dalam sana.
"Kak," panggilku setelah kami sama-sama diam cukup lama.
"Hmm."
"Kok diam aja?"
Terdengar dia menghela napas berat. "Kenapa? Kamu bilang nggak mau buru-buru."
"Kak Baim belum siap?" Aku sengaja mengulur jawaban, karena sebenarnya belum punya alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Ini bukan soal kesiapanku," jawabnya. "Tapi kamu, kenapa begitu tiba-tiba?"
Aku butuh pergi sejauh-jauhnya dari Fikri. Dan selagi masih berada di sini, perasaanku akan terus dengan mudah dijungkir balikkan. Tapi aku tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Baim. Siapa yang akan senang dijadikan pelarian. Mungkin jika tak lagi bertemu dengan Fikri, dan selalu dekat dengan Baim, perasaan ini bisa terkikis perlahan. Kemudian lebih mudah menerima keberadaan Baim.
"Karena aku nggak mau jalanin hubungan jarak jauh lebih lama lagi."
"Udah itu aja alasannya?" tuntutnya.
"Aku nggak bisa ngomong lewat telepon."
"Oke," timpalnya cepat nyaris tanpa pikir. "Besok kamu pulang, kan? Kita ketemu di Jember."
Aku tak tahu harus senang atau justru merasa takut. Seperti ada di persimpangan jalan, aku kebingungan menentukan arah. Semoga saja ini tak salah.
"Oke," sahutku.
"Ya udah sekarang kamu tidur. Sampe ketemu besok."
"Iya."
"Aku tutup teleponnya."
"Oke." Entah hanya perasaanku saja atau pembicaraan ini memang berubah menjadi sedikit canggung.
"Kak," panggilku cepat-cepat. Semoga dia masih dengar.
"Ya?"
Aku diam.
"Kenapa?" tanya Baim karena aku tak kunjung bicara.
"Aku sayang Kak Baim." Susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu berharap bisa kuucapkan senormal mungkin.
Giliran Baim yang diam. Mungkinkah dia bisa merasakan bahwa apa yang kuucapkan barusan tidaklah melibatkan perasaan?
"Sayang kamu juga." Akhirnya dia membalas juga, meski cukup lama diam hanya untuk membalas ucapan sayang.
Panggilan berakhir. Tinggal aku diam tertegun. Kuraba dadaku, ada degup yang tak normal, tapi terasa hampa. Rasanya begitu nelangsa.
Kenapa jatuh cinta harus sesakit ini? Sakit, ketika dia yang kucinta tak bisa kumiliki.
***
Aku sengaja tidak memberitahu ayah dan ibu kalau Baim akan datang. Toh, dia akan ada di sini sebentar saja, besok pagi dia sudah kembali ke Malang. Kalau Ibu kuberitahu, pasti beliau akan sibuk di dapur menyiapkan segala macam hidangan.
Aku sudah di rumah sejak sebelum Maghrib. Sudah mengabari Baim juga, tapi belum ada tanda-tanda dia akan datang. Terakhir kali dia membalas chatku saat aku baru naik kereta dari Banyuwangi, dia mengabari kalau sudah sampai di Jember.
"Kamu kenapa sih nduk kok dari tadi liat ke depan terus?" tanya ibu setelah aku berulang kali celingukan melihat ke teras.
"Ngga apa-apa kok, Bu." Aku kembali fokus ke layar televisi. Kemana sih dia?
Setelah isya, baru kudengar suara pintu diketuk. Tak mungkin Ayah yang pulang dari masjid, karena Ayah akan langsung masuk. Aku segera melesat ke depan untuk menyambutnya.
"Assalamualaikum" ucapnya begitu aku membuka pintu.
Aku membalas salamnya sambil tersenyum.
Dia membalas senyum. "Hai," sapanya.
"Masuk, yuk." Aku baru saja menyingkir dari pintu, memberinya ruang untuk masuk saat Ayah muncul.
"Lho, Baim." Ayah terlihat terkejut melihat Baim lalu ekspresi terkejutnya cepat berubah menjadi ekspresi senang.
"Apa kabar, Pakde?" Dia menyalami lalu mencium punggung tangan ayah.
"Baik. Kok datang ndak bilang-bilang?" Ayah tersenyum sumringah. Tak terbayangkan betapa senyum itu akan semakin lebar kalau tahu tujuan Baim datang ke sini.
"Iya Pakde, dadakan. Sekalian urusan kerja,' jawabnya sambil mengikuti ayah berjalan masuk rumah.
"Eh, Baim?" Ekspresi terkejut juga tergambar di wajah ibu begitu Baim memasuki ruang tengah. Baim melakukan hal yang sama seperti menyapa ayah tadi, menanyakan kabar dan menyalami ibu.
"Oalah pantesan Sofia dari tadi celingukan liat keluar terus. Kok kamu ndak bilang, tho, Nduk?" tegur ibu yang hanya kurespon dengan cengiran tanpa merasa bersalah.
"Belum makan malam,.kan? Ayo kita makan dulu," ajak ayah.
"Hmm, kalau Baim ajak Sofia makan di luar boleh nggak, Pakde?" pamitnya dengan nada sedikit ragu.
"Oh, mau makan di luar? Ya, sudah. Asal jangan pulang terlalu malam. Pakai saja motor Pakde." Tak pernah sulit bagi Baim untuk mendapatkan ijin Ayah. Aku saja tak berani dengan santainya mengajukan keinginan. Belum apa-apa sudah berpikir pasti ditolak.
Tidak menunggu lama, aku dan Baim langsung pamit pergi sebelum terlalu malam. Kami menuju warung mie ayam yang menurut Baim enak. Aku tidak tahu tempat makan yang enak karena memang selalu makan di rumah, jadi aku manut saja dengan tempat yang dipilihnya.
"Kak Baim dari tadi tidur, ya? Kok pesanku nggak dibalas?" tanyaku begitu sampai di warung mie.
"Nggak. Kamu mau minum apa?" tanyanya sambil berjalan menuju tempat pemesanan.
"Apa aja. Terserah," jawabku sambil terus mengikutinya.
"Mau es sirup kacang hijau?"
"Boleh," jawabku lalu dia memesan dua porsi mie ayam dan dua gelas es sirup kacang hijau. Sementara aku duduk di salah satu meja yang kosong di bagian belakang.
"Aku ke bengkel Johan. Keasyikan ngobrol sampe nggak ngecek HP," jelasnya setelah menyusulku dan ikut duduk.
Johan adalah sahabatnya sejak sekolah. Menurut cerita Baim, sahabatnya itu membuka usaha bengkel dan dia menjadi salah satu investor di usaha itu.
"Kok, bilang sama ayah urusan kerjaan?" Aku mengernyitkan dahi.
"Aku juga dapat uang dari bengkel itu. Jadi termasuk kerjaan juga, kan?"
"Oh, iya ya." Aku mengangguk-angguk. "Kalau ketemu teman memang suka bikin lupa waktu.
Baim tertawa. "Itu cuma berdua, kalau ngumpul bertiga bakal lebih lupa waktu lagi."
"Bertiga?" tanyaku tak paham.
"Oh, aku belum cerita, ya? Ada satu lagi sahabatku. Dia juga invest di bengkel, cuma nggak bisa ikutan datang karena lagi sibuk," jelasnya. "By the way, dia kerja di Banyuwangi juga.
Aku mengangguk-angguk. Merasa tak perlu bertanya lebih tentang temannya karena sudah jelas tak akan kenal. Bekerja di kota yang sama, tak lantas membuat kita kebetulan kenal, kan. Lagipula tak penting juga.
Kami tidak bicara lagi. Baim melihat pertandingan sepak bola yang diputar di televisi sedangkan aku mengedarkan pandangan ke seluruh warung. Cukup ramai.
Hingga aku sadar ada sepasang mata yang beberapa kali melihat ke arah kami.
"Kamu diliati ABG, tuh," celetukku menggoda.
Baim memutar kepalanya kembali menghadapku, meninggal pertandingan sepak bola di televisi. "Gimana?"
Sepertinya dia terlalu fokus tadi. Aku tersenyum lalu menggeleng samar. "Ada yang curi-curi pandang ke kamu," ulangku.
Baim mengernyit lalu mendengkus pelan. "Harusnya aku pakai cadar, ya?"
Seketika tawaku menyembur. Dan dia sama sekali tak berusaha mencari siapa yang aku maksudkan. Dia tampan, tapi tak suka tebar pesona. Itu hal yang aku suka.
Tak lama pesanan kami datang. Uap panas yang membawa aroma mie bercampur topping ayam, membuat kami tak membuang waktu untuk menyantap hidangan. Kami mulai sibuk dengan mangkuk masing-masing. Aku hanya memberi kecap dan sedikit saus, sedangkan Baim mengisi mangkuknya dengan kecap, saus dan sambal. Aku sedikit ngeri melihat isi mangkuknya yang berwarna merah.
"Ngga pedas, ya?" Aku masih tak paham di mana letak nikmatnya makanan pedas. Tapi ini soal selera, kan? Baim memang penggila sambal.
Dia nyengir. "Kalo nggak gini nggak enak."
Aku berdecak. "Kak Baim harus ngurangin makan pedas."
"Kenapa?" Alisnya bertaut.
"Aku nggak jago buat sambal."
Dia tertawa kecil. "Nggak apa-apa, aku jago."
Aku hanya geleng-geleng kepala lalu memulai makan. Kami tidak bicara selama makan. Kulihat dia beberapa kali mendesis kepedasan, tapi terus melahap mie di mangkuknya dengan nikmat hingga habis.
"Kita ngobrol di sini aja?" tanyanya sambil mengaduk es kacang hijaunya.
Aku menggeleng. "Ke alun-alun kota aja, ya," pintaku lengkap dengan senyuman manis agar dia tidak bisa menolak.
Dia berdecak. "Jangan bilang kamu belum pernah ke sana."
"Pernah sekali." Sama Fikri. Kelanjutan kata itu kusebut dalam hati. "Pengen ke sana lagi." Aku tersenyum lebar. "Kan Kalo nggak sama Kak Baim, mana mungkin aku bisa keluar seperti sekarang," bujukku.
"Ya, udah aku bayar dulu."
***°°°***
Aku mengajak Baim memutari alun-alun persis seperti yang kulakukan bersama Fikri dulu. Lucunya, yang berjalan bersamaku adalah orang yang berbeda, tapi pikiranku justru terbang ke masa lalu.
"Ini kita nggak bakal muter lagi, kan?"
Aku tersenyum kecil. "Ngga kok. Kita cari tempat duduk yang enak." Aku menariknya berjalan ke tengah taman. "Di sana aja ya." tunjukku ke area dekat playground tapi tidak terlalu banyak orang.
Dulu aku dudum d rerumputan sambil memakan arumanis, sekarang tak akan aku ulangi. Bersama orang yang berbeda, harusnya mengukir kisah yang tak sama.
"Jadi apa alasannya?" tanyanya to the point begitu kami duduk di pinggir taman.
"Kan, aku udah bilang kalo aku ngga mau lama-lama jalanin hubungan jarak jauh," jawabku sambil berusaha menahan rasa gugup yang mendadak datang.
"Kamu udah ngomong alasan itu di telepon kemarin. Apa alasan yang nggak bisa kamu omongin di telepon?"
Aku meliriknya sekilas. Dia menatapku lekat membuatku semakin gugup. God, harusnya aku bicara lewat telepon saja.
"Karena ...." Aku diam sebentar. "Karena cepat atau lambat kita tetap akan nikah, jadi buat apa nunggu lama?" Aku memberanikan diri menatapnya.
Dia melihatku dengan tatapan tidak percaya. "Itu alasan yang ngga bisa kamu omongin di telepon? Jauh-jauh aku kesini cuma buat dengerin alasan itu?"
Aku menggeleng. "Aku kangen," kata itu meluncur begitu saja, padahal hatiku meragukannya. "Kak Baim nyesel ya udah datang ke sini?"
Dia menghela napas. "Ini bukan masalah nyesel datang ke sini atau ngga, bukan masalah kangen juga. Aku datang ke sini dadakan karena ngerasa yang mau kamu omongin itu penting, Sofia."
"Memang penting, kan?" Aku mengernyitkan dahi.
Dia diam dan memilih mengalihkan pandangan ke tengah lapangan. "Dari awal kamu bilang ngga mau buru-buru dan sekarang kamu tiba-tiba berubah pikiran. Apa alasannya?" Dia kembali memandangku. "Jangan bilang karena cepat atau lambat kita pasti nikah. Itu bukan alasan. Pasti ada alasan lain." Tatapan itu seolah menuntut jawaban lebih.
Kali ini aku yang memilih memandang ke tengah lapangan. Dia benar harusnya aku memikirkan alasan yang tepat. Tidak, bukannya tidak memikirkan apa alasan yang akan kuberikan kepadanya hanya saja aku tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Satu-satunya alasan adalah karena aku ingin menjauh dari Fikri sejauh-jauhnya dan satu-satunya cara adalah dengan menikah. Soal perasaanku pada Baim, aku yakin akan tumbuh saat aku sudah tidak bertemu Fikri lagi.
"Karena aku nyaman dan senang bersama Kak Baim." Jawaban ini tak bohong. "Jadi, aku pikir kenapa harus mengulur waktu lagi?"
"Kamu yakin?" tanyanya dengan ekspresi yang tidak bisa kuartikan. Aku hanya mengangguk.
"Dengar, Fi. Sekali aku maju, aku nggak akan mundur lagi dan kamu juga nggak akan bisa mundur lagi," ujarnya mantap.
"Kenapa berpikir aku akan mundur?" tanyaku tak kalah mantap.
"Kamu seyakin itu?" ulangnya lagi seolah butuh kepastian lebih.
"Ngga pernah seyakin ini," jawabku tanpa ragu.
"Oke. Aku akan ngomong sama Mama dan Papa." Sepertinya ini berhasil.
"Kapan?"
Dia mengernyitkan dahi. "Kamu beneran mau buru-buru?"
Aku mengangguk. "Lebih cepat lebih baik kan? Kalau bisa bulan depan."
Jawabanku membuat Baim terbelalak. "Nikah itu bukan sulapan, Fi. Butuh waktu untuk persiapan."
"Aku ngga perlu pernikahan yang ribet. Sederhana aja, cukup sama keluarga dan orang terdekat aja. Yang simpel." Bukan karena ini pernikahan tanpa cinta, tapi aku memang tidak punya impian pernikahan yang berlebihan. Bagiku yang terpenting bukan pestanya tapi perjalanan pernikahan itu sendiri. Tapi perjalanannya seperti apa juga belum bisa kuraba. Lalu untuk apa aku dipusingkan dengan pesta?
Lagi-lagi Baim menghela napas. "Ya udah nanti aku ngomong dulu ke Mama," jawabnya pasrah.
"Minggu depan, ya?" tuntutku.
"Diusahain."
"Oke."
Setelah itu kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau ini adalah keputusan yang tepat. Aku tidak mau perasaanku diombang-ambingkan terus. Sudah cukup.
***