Berkubang dalam Kegelisahan

1234 Kata
Aku tahu melarikan diri itu sikap pengecut, tak patut. Tapi aku tak punya pilihan lain. Karena sejak mendapatkan kado itu, aku sudah tak bisa menghadapi Fikri dengan perasaan normal lagi. Meski mungkin dia sudah bersama Maya, tetap saja getar-getar itu tak bisa dihindarkan. Rasanya begitu tersiksa. Seperti sekarang, dia berada di sini, di ruangan Bu Rossi mendampingi nasabahnya tanda tangan akta. Mendengar suaranya tiap kali dia bicara saja sudah membuat aliran darahku terpompa cepat. Untungnya, bukan aku yang diminta membantu di dalam sana. Karena mungkin aku akan kembali salah tingkah seperti ketika awal bertemu dulu. Penandatanganan belum selesai saat Bu Rossi keluar ruangan sembari membawa map dan diikuti oleh Fikri. Bu Rossi menyerahkan map itu padaku. "Buatkan covernote, ya," katanya lalu kembali ke ruangannya lagi. Tapi Fikri tak mengikutinya kembali. Dia tetap berada di ruanganku tapi perhatiannya terpusat pada ponsel di tangan. Ekspresinya terlihat serius sekali. Aku mulai membuatkan covernote atau bahasa simpelnya surat keterangan bahwa sertifikat yang sedang diagunkan sekarang sedang dalam proses di kantor notaris. Sehingga pencairan tetap bisa dilakukan. "Fi," panggilnya, aku mendongak tapi dia masih fokus ke layar ponsel. Dan setelahnya, dia membiarkan panggilan itu menggantung begitu saja tanpa ada kata-kata susulan yang keluar dari mulutnya. "Kenapa?" tanyaku karena tak betah lagi menunggu. Dia berjalan mendekat. "Bentar-bentar," sahutnya dengan pandangan tetap tak teralihkan. Entah apa yang sedang ditelitinya di ponsel itu. Aku berusaha kembali fokus pada pekerjaanku. "Berkas nasabahku yang lain udah bisa tanda tangan belum?" "Nggak tahu. Coba tanya Bu Rossi." Covernote selesai, aku butuh cepat mencetaknya agar Fikri juga bisa cepat menyingkir. Tapi sialnya, kertas di laciku tak tersisa. Aku mengangkat pandangan. Sadar jika ingin mengambil kertas, maka harus melewati Fikri dan dia sedang berdiri menutup jalan yang kubutuhkan. "Aku mau ambil kertas. Minggir dulu," pintaku baik-baik, tapi tanpa beranjak dari duduk. Biar dia minggir dulu, barulah aku akan bangun. "Biar aku yang ambil." Dia memutar pandangan mencari di mana kertas diletakkan. "Itu tuh di atas lemari," tunjukku. Tak sulit, dia langsung menemukannya. "Quarto atau folio?" tanyanya. "Quarto." "Berapa lembar?" "Agak banyak, buat stok." Diserahkannya kertas-kertas itu padaku, tapi setelahnya tak lantas menyingkir. Dia justru berdiri tepat di sisi mejaku, memperhatikan setiap gerakan tanganku yang sibuk memasukkan kertas ke printer. "Fi," panggilnya lagi. "Hmm." Kali ini aku menyahut tanpa mendongak. Mataku tetap tertuju pada tuts papan ketik, mengawasi tangan sendiri ketika menekan tombol ctrl dan huruf P. Seperti tadi, Fikri kembali mengantung kata-katanya. Jadi aku melihatnya, sedangkan dia tak melihatku. Pandangannya terlihat kosong tertuju pada printer yang bekerja, menorehkan kata demi kata ke lembar kertas yang kupasang tadi. Suara derit pita dan kepala printer mendominasi ruangan ini. "Ki ... kenapa?" Ditanya begitu, dia seperti baru tersadar dari lamunan. Entah apa sebenarnya yang menggangu pikirannya. Mungkin tentang pekerjaan. Fikri baru menggerakkan bibir hendak berbicara saat Nisa keluar dari ruangan bu Rossi. "Covernote-nya udah, Fi?" tanya gadis itu. "Bentar lagi selesai." "Berkas tadi mana? Sini jadikan satu." Karena Nisa mendekati mejaku, Fikri otomatis mundur untuk memberikan ruang lebih lebar. Terputus begitu saja, perkataan tadi tak sempat dilanjutkan. Setelahnya, Fikri kembali menemani nasabahnya dan mengiringi pasangan suami istri itu keluar kantor. Sementara aku membawa covernote untuk ditandatangani oleh Bu Rossi. "Pak Fikri nanya, berkas nasabahnya yang lain kapan bisa tanda tangan?" tanyaku meneruskan pertanyaan Fikri tadi. Entahlah apa yang menganggu pikiran lelaki itu, sampai-sampai dia tak ingat bertanya sendiri pada Bu Rossi. Padahal tadi sempat kembali ke ruangan ini. "Coba tanya Reksa. Petugas BPN-nya udah masuk belum." Aku mengangguk lalu segera keluar setelah mendapatkan tanda tangan. Giliran mengantar covernote milik Fikri. Dia sedang menunggu di teras kantor. Sudah tak lagi bersama nasabahnya. Biasanya nasabah kembali ke bank untuk kemudian Fikri menyusulnya. "Berkas kamu yang lain nanti aku tanyakan Mas Reksa dulu. Kemarin tertunda karena bagian pengecekan nggak masuk." Aku menginformasikan sesuai apa yang kuketahui dari Bu Rossi. Dia menerima amplop berisi covernote yang aku sodorkan. "Oke," katanya lalu berdiri. "Makasi, ya." Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia melempar senyum yang teramat manis, begitu menghipnotis. God, I still love him. Aku masih berdiri mematung ketika dia berjalan menjauh, meninggalkan kantor. Tapi kemudian berbalik lagi. Melangkah tergesa-gesa menghampiriku. "Ada yang ketinggalan?" tanyaku saat jarak kami tinggal beberapa langkah. "Ada yang lupa," katanya. "Aku mau tanya, Sabtu besok ... pulang?" Aku tertegun sejenak lalu menjawab, "Iya." Dia menggaruk keningnya, terlihat ragu. "Hmm ... mau pulang bareng, nggak?" Dan rasanya jantungku seolah berhenti untuk sekejap. Sejurus kemudian kembali berdetak begitu hebat. Bagaimana ini?! Selagi otakku berpikir mempertimbangkan jawaban yang tepat, agaknya semesta ingin membantu. Ponsel Fikri berdering. "Kalau mau, kabari, ya," katanya lalu cepat-cepat menjawab teleponnya sambil berjalan keluar kantor. Dan sisa hari itu kuhabiskan dengan berkubang dalam kegelisahan. Hingga malam, aku belum bisa memberi jawaban. Hingga besoknya pun aku masih tak tahu harus berkata apa. Untuk urusan berkas nasabah Fikri, aku sengaja meminta Nisa yang menghubunginya. *** "Menurutmu kenapa dia ngajak pulang bareng?" Aku sudah tak bisa menyimpan masalah ini sendirian. Dadaku begah dibuatnya. Karena itu, kuceritakan semua pada Nisa perihal kado, perihal apa yang kulihat di kantor Fikri, dan terakhir, perihal ajakan pulang itu. "Dia mau deketin kamu lagi?" Pertanyaan itu berbalut kesimpulan yang Nisa buat. "Aku nggak tahu." Kupijat kening yang terasa berat. Rasanya kepala ingin pecah. Nisa berdecak. Dia mengempaskan tangannya ke meja. "Kamu harus tegas, Fi! Bilang sama dia kalau kamu sudah tunangan." Aku diam, memilih menenggelamkan kepala di meja kerja Reksa. Nisa mengguncang pelan bahuku. Aku mengangkat wajah, mataku pasti sudah memerah sekarang. "Astaga, Fia! Apalagi yang kamu galaukan? Jangan plinplan atau bakal banyak hati yang tersakiti. Baim, Fikri, dan kamu sendiri." Aku tahu. Tapi tetap saja semua ini terasa begitu sulit untuk kupahami. Logikaku mengerti, hatiku yang belum bisa menerima. "Itu artinya dia nggak sama Maya, kan, Nis?" Bisa saja apa yang kulihat di kantornya tempo hari karena Fikri hanya sedang menenangkan Maya. Mungkin perempuan itu lagi ada masalah. "Dia sama Maya atau nggak, bukan urusanmu." Nisa menatapku dengan sorot penuh peringatan. "Lupain Fikri, fokus sama Baim. Udah, ya. Case closed!" Itu juga yang kuinginkan kalau bisa. Tapi ajakan Fikri untuk pulang bersama terus mengusik ketenanganku. Aku belum pernah segelisah ini. Aku kembali ke mejaku, mengambil ponsel dari tas lalu mencari nomor ponsel Baim. Me : Kak Baim udah ngomong soal kita? Ponselku bergetar tak lama kemudian. Kupikir balasan dari Baim, ternyata Intan. Intan : Cieee banyak banget foto kamu di HP Kak Baim. Foto candid semua. Kamu pasti nggak sadar ya. Hahaha Me : Tau dari mana, Tan? Intan : Liat di HP-nya langsung lah. :D Intan : Aku sidak diam-diam. :p Me : Kamu dari Malang? Intan masih mengetik balasannya, ketika balasan dari Baim masuk. Aku keluar dari ruang obrolan dengan Intan, beralih membuka pesan Baim. Baim : Sorry, aku belum sempat pulang. Sabar ya. Aku mengembuskan napas pelan lalu kembali pada chat Intan yang baru masuk. Intan : Nggak. Kak Baim pulang weekend kemarin. Aku tertegun membaca balasan Intan itu. Dua informasi bertolak belakang yang kuterima hanya dengan jeda beberapa detik saja. Pesan Intan itu kubalas seadanya kemudian aku pamit mau melanjutkan kerja. Me : Oh, aku kira Kak Baim udah pulang. Kukirim pada Baim. Aku tak mengerti kenapa dia berbohong. Baim : Aku usahakan Minggu depan. Kuambil tangkapan layar dari chat-ku dengan Intan lalu mengirimkan screenshot itu pada Baim. Tanpa memberikan pesan tambahan lagi, isi screenshot itu sudah cukup menjelaskan banyak hal. Me : Oke, ayo pulang bareng. Kukirim pesan kali ini pada nomor Fikri. Lalu memasang mode silent dan menyimpannya dalam tas kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN