Mengurai Benang Kusut

1344 Kata
Seperti yang kuduga, Baim tak berhenti menelepon. Saat jam kerja dia hanya berusaha menghubungi sebanyak dua kali. Begitu menjelang malam, ponselku berkedip nyaris tanpa jeda. Hingga akhirnya kehabisan daya dan mati sendiri. Aku sengaja membiarkannya. Dia juga sama sekali tak berusaha mencoba menjelaskan melalui pesan. Dan aku sendiri memang sedang malas menerima penjelasan. Jadi, biarkan saja dulu. Sedikit pelajaran untuknya tentu perlu. Sedikit waktu untukku juga aku butuh. Sementara Fikri hanya membalas pesanku dengan kata oke. Tak ada basa-basi lainnya dan itu sudah cukup. Terlebih dalam kondisi suasana hati tak bagus seperti ini, aku sama sekali tak ingin mengobrol dengan siapapun. Esok paginya saat menyalakan ponsel, tetap tak kutemukan pesan dari Baim. Jadi aku berinisiatif mengirimkan pesan untuknya lebih dulu. Me : Jangan telepon-telepon terus. Aku masih belum pengen ngomong sama Kak Baim. Aku butuh waktu. Mungkin lebih baik kita break dulu. Setelah mengirimkannya, aku memblokir nomor Baim. Untuk sementara waktu saja hingga aku sudah siap untuk berkomunikasi kembali dengannya. Mungkin ini keputusan yang kekanakan, tapi dibohongi sekecil apapun, rasanya tetap menyakitkan. "Kamu juga nggak fair sama Baim, Fi. Kamu sakit hati karena merasa dibohongi, tapi kamu pernah jujur nggak kalau masih sering galau karena mantan? Pernah cerita nggak kalau masih rutin ketemu mantan?" tandas Nisa begitu aku selesai bercerita. Aku tak menyahut, memilih kembali ke layar komputerku. Pagi-pagi, mumpung Bu Rossi mengabari akan ke kantor agak siang, aku memang langsung curhat pada Nisa. Niat hati mengeluarkan unek-unek agar beban berkurang, tapi justru dipersalahkan. Jadi, sebelum suasana hatiku semakin rusak, lebih baik mulai bekerja saja. "Kalau ada yang bilang orang paling keras kepala tuh orang yang lagi jatuh cinta, itu seratus persen benar. Ya, kamu ini salah satunya," celetuk Nisa sepertinya belum puas menyalahkanku dan aku tetap mengabaikannya. "Kamu ...." Nisa tak menyelesaikan ucapannya karena ada seseorang yang datang. Kami sama-sama menoleh ke pintu masuk ruangan ini. Tadinya kupikir itu Reksa, tapi ternyata bukan. "Lho, Pak Fikri. Pagi banget. Ada janji realisasi?" Nisa yang bertanya. "Saya bawa tamu." Fikri menjawabnya, tapi arah pandangannya lurus tertuju padaku. "Mau konsultasi soal akta tanah?" tanyaku. "Bukan. Tamu buat kamu." Aku mengernyit bingung. "Siapa?" Fikri menoleh ke luar, setelahnya tamu yang dia maksudkan menyusul muncul di ambang pintu. Aku terkejut, bisa kurasakan mataku sontak melebar. "Kak Baim." "Bisa ngomong sebentar?" Sama sekali tak ada senyum di wajah Baim. Wajah tampan itu terlihat kusut. Ekspresinya tak bisa kujabarkan. Aku segera beranjak menghampirinya dengan jantung berdebar. Saat ini sebuah pertanyaan besar bermain di kepalaku. Bagaimana bisa Baim dan Fikri saling mengenal? "Aku tunggu di sini," gumam Fikri pada Baim sebelum aku dan Baim keluar kantor. Baim menggumamkan kata iya sebelum mengikuti langkahku. Aku mengajaknya duduk di ruang teras kantor tempat biasanya tamu menunggu. Di tempat ini rasanya lebih leluasa saja untuk berbicara. Kami sudah duduk di situ untuk beberapa saat tanpa bicara. Aku menunggunya untuk memulai, sedangkan Baim masih betah mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia sama sekali tak memandangku sejak kami berada di situ. Dia melempar pandangannya jauh, mungkin ke tengah jalan raya yang memang bisa terlihat dari teras sini. "Kak," panggilku ragu. Entah kenapa aku sedikit takut melihatnya begitu. Dia menghela napas barat, tanpa menatapku kemudian berkata, "Tunggu sebentar. Aku nggak tidur semalaman gara-gara kamu. Biar aku kontrol emosi dulu." Datar sekali suaranya saat berbicara. Aku kembali terdiam. Sedikit rasa bersalah mulai menjalar. Andai aku bisa bersikap lebih dewasa, mungkin dia tak perlu sampai datang ke sini. Tapi semua sudah terjadi, apa lagi yang harus kusesali. Mau tak mau aku harus bicara dengannya, menyelesaikan semua masalah. "Break?" katanya kemudian. Tak diucapkan dengan ketus, tapi tatapan matanya yang kini terarah padaku terasa menghunus. "Kamu anggap hubungan kita ini main-main, ya?" Jelas betul dia sedang berusaha menekan rasa kesalnya. Mungkin jika mengikuti emosi, dia sudah berteriak dari tadi. Aku menggeleng pelan. "Aku nggak pernah anggap gitu. Kak Baim yang nggak serius," jawabku pelan. Dia terbelalak. "Nggak serius?" Nada bicaranya mulai ketus. Dia menarik tangan kiriku. "Kalo aku nggak serius, kamu nggak akan pakai cincin ini," ujarnya sinis. Aku berusaha menahan diri agar tak menarik tanganku yang masih dipegangnya. "Lalu kenapa bohong?" "Karena kamu terlalu mendesak," sahutnya menyalahkanku. "Mengambil keputusan untuk menikah itu harus dipikirkan dengan matang, tapi kamu nggak bisa sabar." "Bilang aja yang sejujurnya, nggak perlu bohong," dalihku. Dia mengembuskan napas kasar. Mungkin sedang berusaha menabahkan diri untuk terus bicara dalam kontrol karena aku tahu dia masih diselimuti emosi. "Fine. Aku salah karena sudah bohong. Aku minta maaf," ucapnya terdengar tulus meski masih kesal. "Tapi bisa nggak kamu sabar? Sejak awal kamu bilang nggak mau buru-buru, lalu tiba-tiba kamu nodong aku seperti ini." "Bukannya kita udah sepakat?" "Memangnya aku punya pilihan selain mengiyakan permintaan konyol kamu itu?" Aku terbeliak marah. Mendengar kata konyol, rasa kesalku tersulut. "Ya, udah batalkan aja." Aku melipat kedua tangan di d**a. "Jadi Kak Baim nggak perlu repot-repot mengabulkan permintaan konyolku itu." Sengaja kuberi tekanan saat menyebut kata konyol agar dia tahu kalau aku tersinggung. "Lihat, kan! Kamu selalu ambil keputusan dengan terburu-buru." "Kak Baim nggak yakin sama aku, kan?" Dia menggeleng. "Kamu bahkan ngga yakin sama diri kamu sendiri." Jawabannya itu terasa seperti sebuah tamparan bagiku. Dia benar, aku tak yakin pada diriku sendiri. Karena sesungguhnya permintaan itu hanyalah sebuah cara untuk melarikan diri. Karena tak memiliki alibi untuk membela diri, aku memutuskan untuk diam. Tak berani menatap langsung ke mata Baim lagi. Baim meraih tanganku membawa dalam genggamannya. "Aku nggak mempermasalahkan soal pernikahan, Fi. Sejak awal aku siap membawa hubungan ini ke arah sana. Tapi dengan cara menikmati semua momen dalam prosesnya, bukan seperti KUA bakal tutup besok dan nggak bakal buka lagi seperti ini." Dia tidak bercanda, meski perumpamaannya terdengar menggelikan, tapi tak ada senyum yang terlukis di bibirnya. Wajah itu meski tak setegang tadi, belum bisa dikatakan tenang juga. "Maaf," ucapku pelan, masih dengan menundukkan kepala. Dia benar permintaanku memanglah konyol. "Coba kasi tau aku." Baim mengangkat daguku agar menatapnya. "Apa alasan sebenarnya yang bikin kamu mau cepat-cepat nikah? Jangan sebut lagi alasan-alasan yang udah kamu bilang tempo hari." Aku menggeleng. "Entahlah. Aku nggak ngerti." Aku kembali memutus pandangan. "Aku lagi di titik lelah dengan rutinitasku. Pengen sesuatu yang baru." Rutinitas yang membuat perasaanku terombang-ambing maksudnya, tapi tak perlu kuperjelas juga. "Tapi ruang gerakku terbatas, jadi kupikir satu-satunya cara mengubah rutinitas adalah dengan menikah," lanjutku ragu-ragu. Betapa kekanakannya penjelasanku ini. Mendengarnya saja aku ingin menertawakan diri sendiri. Entah apa yang Baim pikirkan tentang diriku. Baim mengembuskan napas pelan. Dia pasti lelah menghadapi perempuan sepertiku. "Aku ngerti," katanya lalu diam sebentar. Dia yang semula sedikit membungkuk demi menemukan mataku, kini menegakkan kembali tubuhnya. Tapi genggaman tangannya tak terlepas. "Dua bulan. Kasi aku waktu dua bulan buat ajak Mama dan Papa ke rumah kamu. Oke?" Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk setuju. Aku sudah banyak mengacau. Suka tak suka, aku harus mengakui itu. Lihat saja wajah Baim sekarang. Begitu kusut dengan mata memerah tampak lelah. "Berjanjilah satu hal, Fi." Kurasakan genggamannya mengerat. "Serumit apapun masalah yang kita hadapi, jangan pernah memutus komunikasi. Kalau kamu nggak mau bicara, nggak apa-apa, tapi jangan menghilang. Paham?" Lagi-lagi aku cuma bisa mengangguk. "Kamu bikin aku kacau." Kali ini barulah ada senyum tipis terulas di bibirnya. Dia melepaskan genggaman untuk beralih mengelus kepalaku. "Im ...." Teguran itu membuat kami menoleh, tangan Baim otomatis sudah tak di kepalaku. "Sorry, aku nggak bisa lama-lama. Aku tunggu di depan." Fikri berjalan melewati kami tanpa menunggu respon Baim dan sama sekali tidak melihatku. "Aku pergi dulu, ya. Aku langsung balik ke Malang nanti siang, sekarang mau tidur dulu di kost Fikri." Baim berdiri, aku ikut berdiri. "Kok, Kak Baim bisa kenal?" Aku tak bisa menahan rasa penasaran lagi. Dia mengernyit. "Dia teman yang pernah aku ceritakan itu." Aku terdiam sejenak. "Sahabat yang kerja di Banyuwangi dan ikut investasi di bengkel?" tanyaku memastikan dan begitu Baim mengangguk, seketika aku merasa betapa sempitnya dunia. Baim berpamitan sekali lagi dan mengatakan bahwa aku tak perlu mengantarnya keluar. Jadi, aku memutuskan tetap berdiri di tempatku, menunggu hingga dia pergi. Saat itu, aku bisa melihat Fikri menatapku, tapi tak bisa kulihat seperti apa ekspresinya karena tertutup helm full face-nya. Dia langsung pergi begitu Baim sudah duduk di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN