Meski urusan dengan Baim telah selesai, tapi perasaanku tak juga membaik. Hari-hariku tetap terasa kacau, moodku kacau, pekerjaanku lebih kacau lagi. Entah sudah berapa kali kesalahan yang kubuat ketika mengerjakan akta karena aku sama sekali tidak bisa fokus pada apa yang kukerjakan. Bahkan Bu Rossi sampai memberi teguran karena aku lalai, akta sudah selesai tapi tidak kuberikan pada Reksa untuk didaftarkan.
"Kamu kenapa, sih, Fi?" tegur Nisa ketika aku mengeluh melakukan kesalahan lagi pada akta yang kukerjakan.
Aku hanya mengedikkan bahu dengan lemas. Ingin rasanya berteriak agar dadaku bisa sedikit lebih lega. Tapi tak mungkin. Aku hanya bisa memejamkan mata, menghela napas beberapa kali untuk memenangkan pikiran. Agar rasa ingin marah ini bisa sedikit mereda.
"Fi." Panggilan bos di saat begini adalah hal yang paling tak kuinginkan. Namun, bawahan kan tak punya kuasa.
Aku bergerak dari kursi kerja menuju ruang Bu Rossi. "Ya, Bu?"
Bu Rossi baru selesai menandatangani akta-akta yang sudah siap didaftarkan ke kantor pertanahan. Dia mendorong tumpukan map itu dari hadapannya ke arahku. "Kembalikan ke siapa yang mengerjakan." Titah itu ditujukan agar minuta bisa dipisahkan dari akta yang akan didaftar. Tugas dari setiap pemegang berkas. "Lalu ini berkas Pak Fikri. Katanya mau tanda tangan hari ini. Coba kamu tanya mau tanda kapan, bareng sekaligus semua atau gimana."
Aku mendesah lelah dalam hati. Kenapa bukan Nisa saja yang disuruh, sih.
"Maksudnya sekaligus, Bu?" tanyaku memastikan agar tak perlu menelepon berulang kali hanya karena ada informasi yang tertinggal.
"Nasabahnya ada tiga."
Aku mengangguk paham lalu segera keluar dari ruangan itu, menuju meja telepon. Di nada dering kedua, operator menjawabnya. Kukatakan bahwa aku mencari Fikri dan dia memintaku untuk menunggu.
"Halo." Suara itu sungguh menjadi ujian bagi jantungku.
Aku berdeham pelan demi mendapatkan suaraku secara penuh. "Hari ini ada realisasi, ya?"
"Oh, iya." Nada bicaranya tak seringan saat dia baru mengangkat telepon tadi. Mungkin dia pikir Nisa yang mencarinya. "Kenapa? Ada berkas yang kurang?"
"Bu Rossi nanya, mau tanda tangan jam berapa? Terus ini ada tiga nasabah, kan. Mau tanda tangan semua sekaligus di jam yang sama atau gimana?"
"Tanda tangannya bertahap. Jam sepuluh nanti, ya. Satu lagi setelah jam istirahat Insha Allah. Yang terakhir agak sore. Bisa?"
"Oke."
Kututup telepon, menyampaikan pada Bu Rossi lalu melirik jam di dinding. Jam sembilan lewat. Itu artinya dia akan menghabiskan hampir sebagian besar jam kerjanya dengan berada di sini.
Soal ajakan pulangnya waktu itu tentu saja tak jadi. Aku sama sekali tak menemukannya di stasiun. Mungkin dia tak pulang, sengaja menghindar. Karena sejak kedatangan Baim ke kantor ini, dia terang-terangan membentangkan jarak. Setiap kali ke sini dia akan berbicara dengan Nisa bila gadis itu ada. Sikapnya itu direset seperti masa di mana kami baru awal bertemu di sini.
Waktu berputar cukup cepat hari ini. Dua nasabah Fikri sudah selesai realisasi. Sisa satu lagi, katanya akan dilakukan jam tiga sore.
"Udah jam tiga lewat, kok belum datang, ya? Alamat pulang telat, nih," gerutu Nisa.
"Tanda tangan begitu kan nggak makan waktu berjam-jam," timpalku yang merasa Nisa terlalu berlebihan.
"Orang kalo lagi bucin emang gitu, pulang malam juga oke," ejeknya, membuatku berdecak.
Dan tepat setelah Nisa mengatupkan bibirnya, Fikri muncul. Dia langsung menjatuhkan diri di kursi seberang meja Reksa setelah mengucap salam. Kebetulan Nisa juga sedang menjahit akta di meja itu.
"Capek banget kayaknya, Pak," sapa Nisa.
"Iya, lumayan," katanya. "Kayak setrikaan seharian ini."
Nisa terkekeh pelan. "Tapi kan nanti banyak bonusnya."
"Aamiin." Sekilas kulihat dia tersenyum tipis. "Bentar, ya. Nasabahnya masih di jalan," ujarnya sambil mengutak-atik ponsel. Sejak masuk tadi, dia sama sekali tak melempar pandangan padaku.
Sekali lagi aku iri pada Nisa. Ingin sekali bisa berinteraksi dengan normal lagi seperti sebelumnya.
"Cari istri, Pak. Biar kalau pulang kerja, capek, ada yang mijitin."
Dia mendengkus pelan. "Niatnya gitu, tapi udah keduluan."
Aku tersentak mendengar jawaban itu. Sontak melirik Nisa yang ternyata juga sedang melirikku.
Fikri masih tetap fokus pada ponselnya, saat berkata tadi, nyaris tak ada tekanan emosi dalam nada bicaranya. Dia seperti tak sadar berucap begitu.
Apa maksudnya? Aku tak pernah suka menyimpan rasa penasaran, tapi tak tahu bagaimana caranya bertanya.
***
"Belum selesai tanda tangan, Mbak Fi?" Cici muncul di ruanganku bersama anak-anak lantai atas yang lain.
Aku hanya mengedikkan dagu ke arah ruangan Bu Rossi. Entah sudah selesai atau belum, Nisa yang diminta untuk membantu. Syukurlah.
Tak lama Bu Rossi keluar dari sana, menyerahkan covernote yang telah ditandatanganinya. "Masukkan amplop, ya," suruhnya. Tadi memang aku menyiapkan covernote itu lebih dulu agar jam pulang tak semakin terulur.
Saat melipat lembar kertas quarto itu, sebuah ide gila terlintas di kepalaku. Setelah memasukkannya ke amplop, aku tak langsung merekatkan penutup amplop itu. Tertegun sejenak, menimbang seberapa besar aku berani mengambil resiko.
Kuembuskan napas cukup panjang. Baru berencana saja, jantungku sudah berdebar. Lalu saat akhirnya aku melancarkan rencana itu, debarannya pun makin menggila.
"Covernote-nya sudah, Fi?" Nisa berdiri di depan mejaku.
Aku sempat tersentak dan bisa kurasakan tanganku sedikit gemetar saat menyerahkan amplop covernote itu pada Nisa.
'Jangan ketahuan. Jangan ketahuan.' Kurapal doa dalam hati dengan pandangan tak lepas dari punggung Nisa yang masuk kembali ke ruangan Bu Rossi.
Dan sisa hari itu kuhabiskan dengan tidak tenang. Hingga malam, aku cuma bisa mondar-mandir di kamar. Menunggu. Tak terhitung berapa kali mengecek ponsel, tapi tak menemukan apa-apa. Gelisah, menyesal, kesal menjadi satu. Karena sudah tak betah menunggu, jadi kuakhiri saja rasa penasaran ini.
Me : Ki.
Kukirim pesan itu ke nomor Fikri. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit berlalu tak ada tanda-tanda Fikri membuka ponselnya.
Kulirik jam di ujung layar ponsel, baru jam sembilan. Aku tahu Fikri bukan tipe lelaki yang suka tidur malam, tapi sekarang juga rasanya terlalu dini kalau dia sudah tidur. Atau karena dia kelelahan makanya tidur lebih awal.
Aku berdecak, menghentakkan kaki, lalu memilih menunggu sebentar lagi. Namun, tetap nihil. Akhirnya kuhubungi nomor itu melalui panggilan.
Panggilan pertama hingga nada dering terakhir, tak diangkat juga. Aku jadi curiga, jangan-jangan dia mau mengerjaiku. Sekali lagi, kucoba menghubungi. Nada dering hampir habis, baru dia mengangkatnya.
"Halo." Suara serak itu menyadarkanku bahwa aku sudah overthinking. Dia memang benar-benar sudah tidur.
Jeda sejenak, aku butuh menenangkan diri sebelum akhirnya bertanya, "Udah tidur, ya?"
"Sofia." Dia mengerang pelan. "Ada apa?"
Aku tak akan membuang waktu untuk basa-basi, jadi langsung to the point saja.
"KTP-ku ada sama kamu?"
"Hah?"
"Kamu udah ambil KTPnya?"
Dia diam beberapa saat. "KTP apa?" Katanya kemudian. Sepertinya tadi dia butuh waktu untuk mencerna.
Aku mengembuskan napas pelan. "Tadi kamu buka amplop covernote-nya nggak?"
"Nggak."
"Covernote-nya masih di kamu, tapi, kan?" Aku mulai panik.
"Aku serahkan ke bagian kliring-lah. Ada apa, sih?"
Mampus! Aku langsung terduduk lemas.
"Jangan bercanda dong, Ki." Rasanya aku ingin menangis. Membayangkan bagian kliring menemukan KTP itu di dalam amplop. Astaga! Apa yang akan dipikirkannya?!
"Siapa yang bercanda? Aku lagi tidur, ngantuk, tapi kamu yang lagi ngajak bercanda," omelnya. "Udah, ya, aku mau tidur."
"Jangan! Jangan ditutup," larangku cepat. "Terus gimana caranya aku bisa dapetin KTP itu balik?"
"Kenapa KTP-mu bisa ada di dalam sana?"
Nah, ini pertanyaan yang kutunggu sejak tadi, harusnya.
"Biar kamu yang temuin, terus kamu tanya kenapa KTP-nya di situ. Aku mau bilang, tolong belikan tiket pulang buat besok," jawabku dengan perasaan malu setengah mati. Aku tahu apa yang kulakukan ini konyol, tapi sudah terjadi, kan? Ya sudahlah, tak perlu menghujatku karena aku sudah meruntuki diri sendiri sejak tadi.
Tak ada tanggapan dari Fikri untuk beberapa saat, hingga terdengar dia menyemburkan tawa. Benar-benar tertawa, bukan buatan hanya untuk mengejek. Dia tergelak geli.
"Ya ampun, Fi. Kurang kerjaan," katanya masih dengan sisa-sisa tawa.
"Aku tahu," sahutku setengah frustrasi. "Jadi gimana caranya dapetin KTP itu?"
"Senin aja. Besok kan Sabtu."
"Besok aku harus pulang dan butuh KTP."
Kini giliran Fikri yang mengembuskan napas. "Ya, mau gimana. Pasti covernote-nya ada di lemari dan dikunci. Aku juga nggak tahu pasti lemari yang mana. Jadi Senin aja. Besok kamu nggak usah pulang, tunda minggu depan."
"Heh!" Santai sekali dia kalau bicara. "Terus aku harus beralasan apa sama orang tuaku?"
"Bilang aja KTP-nya hilang," sahutnya masih dengan nada menyepelekan. "Udah, ya. Bye."
"Fik---" Telepon terputus.
Argghh! Ini semua karena kebodohanku!
***