Perjalanan Terakhir

1690 Kata
Kulihat Fikri memasuki stasiun. Tak membuang waktu, aku segera menghampirinya lalu langsung menodongnya. "KTP-nya?" Dia terlihat terkejut. "Nggak ada. Kan, sudah kubilang Senin." Aku berdecak, mengikutinya yang berjalan menuju tempat pembelian tiket. Tapi tak membuntut ketika dia mengantri, jadi aku menunggu di sisi lain ruang stasiun ini. "Telepon Raka, minta jemput," sarannya begitu telah mendapatkan tiket untuk dirinya sendiri. Aku menatapnya dengan wajah cemberut. Berusaha mencari tahu apakah dia serius tak memegang KTP itu atau hanya mengerjaiku. Tapi sialnya dari raut wajahnya itu, sepertinya dia tak sedang main-main. "Udah, ya. Aku masuk dulu." Dia hendak beranjak, tapi aku menahan ranselnya. "Kamu beneran serius?" "Menurutmu?" "Aku berharap kamu bercanda." Kutatap dia penuh harap. "You wish," ejeknya. "Lagian nggak bisa ya ngasi KTP dengan cara normal?" Aku makin cemberut. Untung sayang. Eh, tapi memang aku yang salah, kan. "Memang kalau aku kasi normal bakal kamu terima?" Dia menggeleng cepat. "Nggak," sahutnya mantap sambil mengulum senyum menyebalkan. Senyum tipis begitu saja meski sedang mengejekku, tapi sudah berhasil membuatku kembali jatuh cinta. Lalu bagaimana bisa aku melupakannya? Mencintai Fikri, bagiku, semudah aku menghela udara. Aku pasrah. Mau bagaimana lagi. Kulepaskan cekalan tanganku pada ranselnya. "Ya, udah." Aku berbalik, hendak melangkah keluar stasiun. Biar kutelepon Raka di luar saja. Tapi tiba-tiba kurasakan pergelangan tanganku dicekal, aku sontak menoleh. "Ayo, dicoba dulu," ajaknya menuju tempat petugas pemeriksa tiket, masih dengan menggandengku. Aku seperti patung berjalan, begitu kaku tubuhku karena efek perlakuannya itu. Cuma bisa diam saat Fikri bertanya pada petugas apa aku bisa tetap masuk tanpa membawa KTP asli. Dan saat itu aku keheranan karena dia mengeluarkan fotocopy KTP-ku untuk ditunjukkan pada petugas stasiun. "Sudah biasa bolak balik setiap Minggu." Fikri memberikan informasi. Tanpa diduga, petugas itu mengangguk begitu mudahnya. Bisa kurasakan wajahku sontak berbinar. Setelah mengucapkan terima kasih, kuikuti langkah Fikri memasuki area stasiun menuju peron. "Kenapa kamu bisa punya fotocopy KTP-ku?" todongku langsung setengah mempercepat langkah agar bisa menyejajarkan diri dengannya. Dia cuma menoleh sekilas dengan ekspresi acuh tak acuh, tanpa menjawab, meneruskan langkah menuju gerbong kereta. Seperti de Javu, aku kembali bisa menatap punggungnya dari belakang tiap kali mencari nomor kursi kami. Tapi kali ini tak perlu sulit mencari, karena kami mendapatkan nomor kursi tepat setelah pintu masuk. "Yang terakhir, ya." Entah kenapa aku justru bergumam demikian begitu kami sudah duduk bersebelahan. "Iya, yang terakhir," timpalnya penuh penekanan. "Jangan coba-coba memprovokasiku lagi." Aku mendengkus lalu membuang pandangan keluar jendela. Sesimpel dia memberiku jatah duduk di sisi jendela begini saja, hatiku sudah kebat-kebit oleh rasa hangat. Aku menoleh ke arahnya lagi. "Berarti besok juga. Belikan tiket, ijikan ke petugas," ucapku cepat. Fikri hendak protes, tapi aku melanjutkan lebih dulu, "KTP-ku kan nggak ada." "Ya, itu masalahmu, Sofia!" tolaknya dengan tegas lalu mengambil dompet dari sakunya. Dikeluarkannya fotocopy KTP-ku tadi lalu diserahkan padaku. "Kalo besok nggak bisa, kamu naik bis aja atau travel. Terserah." Aku menatapnya. "Nggak! Nggak! Jangan pasang tampang kayak gitu. Aku nggak bakal luluh." Dia melengos, menolak menatapku lebih lama. Aku mendengkus geli lalu memperhatikan lembar kertas kecil yang berisi data diriku. "Kenapa kamu bisa punya fotocopy ini?" "Nemu di jalan," sahutnya sewot tanpa menoleh. Aku mengulum senyum menatap kertas kusut dalam genggaman. Sudah berapa lama kami berpisah, tapi dia masih menyimpannya saja. Dulu, kami bisa bercerita banyak hal, bercanda, sesekali bertengkar. Di atas kereta api, kami membangun kisah. Dan mungkin di atas kereta api, untuk sekali lagi, akan ada sebuah kenangan yang akan terus aku ingat. Ketika aku ingin sekali bersandar di bahunya, tapi lantas sadar bahwa kami, aku dan dia, sudah bukan siapa-siapa. Bahwa kami, hanya dua orang penumpang yang kembali menjadi asing setelah beberapa waktu dulu pernah saling menggenggam tangan. Bahwa kami, untuk kali ini aku saja sepertinya, harus sadar jika jalan di depan tak lagi bisa ditempuh dengan langkah beriringan. Mengingatnya saja, dadaku mendadak sesak. Aku ingin menikmati perjalanan ini, yang mungkin menjadi yang terakhir, dengan perasaan bahagia. Biar kebersamaanku dengannya kusimpan sebagai kenangan yang indah, bukan kenangan menyakitkan. "Ki." "Apa?" Aku memutar posisi duduk sedikit menghadapnya. "Kamu bawa kacamata?" "Nggak," jawabnya terlalu cepat. Aku tahu dia berbohong. "Pake, dong," pintaku sedikit dengan nada membujuk. "Udah lama aku nggak liat. Kamu nggak pernah ke kantor pakai kacamata." "Males," sahutnya datar. Aku berdecak sedikit kecewa, tapi tak memaksa. Kuputar kembali posisiku seperti semula. Kereta mulai jalan. Kuambil ponsel dari dalam tas, memasang mode pesawat. Untuk kali ini saja, selama perjalanan ini, biarkan hatiku tak peduli pada apapun di luar sana. Untuk selama beberapa jam saja, biarkan egoku yang menjadi raja. "Waktu itu aku liat kamu ...." Aku menoleh dan lidahku mendadak kelu. Segagang lensa itu sudah bertengger di wajahnya. "Puas?" tanyanya, sama sekali tanpa senyum. Terserahlah dia terpaksa atau tidak, yang jelas senyumku langsung mengembang. "Kamu memang yang terbaik." Dia tetap memasang wajah datar lalu memalingkan muka. Sementara aku mengabaikan sikapnya itu. "Aku liat kamu di ruang arsip sama Maya," ulangku. Ada begitu banyak hal yang ingin kubicarakan dan sedang kumulai dari yang pertama. "Dia nangis, kenapa?" Dia mengernyit. "Kenapa kamu bisa di sana?" "Aku mau ke toilet, tapi nyasar." Dia mengangguk samar. "Dia nembak dan aku tolak," jelasnya. "Kasian." "Lebih kasian kalau aku pura-pura suka." Aku setuju. "Iya, sih," timpalku kemudian. "Tapi kamu memang ahli bikin patah hati." Ekspresinya langsung berubah tak terima. "Perlu aku ambilkan kaca?" Aku tergelak mendengar nada tersinggung dari caranya bicaranya. Lalu mulai berpikir apa lagi yang harus kubahas selanjutnya. "Waktu Nisa bilang mending kamu cari istri, kenapa jawab udah keduluan? Apa maksudnya?" Kali ini Fikri tak langsung menjawab. Dia tidak sedang berusaha mengingat, tapi terlihat enggan membahasnya. Dan jangan panggil namaku Sofia kalau tak berhasil membuatnya bicara. "Kenapa ngajak aku pulang bareng, padahal katanya nggak mau berteman?" Dia mengembuskan napas. "Ini apa, sih? Sesi wawancara?" tanyanya dengan raut wajah tak senang. Mungkin sengaja memasang ekspresi itu agar aku tak terus mendesaknya. Aku mengangguk. "Aku nggak suka penasaran terus nebak-nebak sendiri, jadi aku tanya aja." Dia makin sewot. "sifat penasaranmu itu menyebalkan." Aku terkekeh pelan. Mau bilang kalau sikapnya yang suka ignoring itu juga menyebalkan, tapi kutahan. "Jadi?" "Aku nggak tahu kalau kamu udah tunangan." Aku diam sebentar. "Sedekat apa kamu sama Baim?" Aku sama sekali tak bertanya pada Baim soal Fikri karena takut kebablasan saat mengajukan pertanyaan. Fikri mengembuskan napas berat. "Dekat banget, Fi. Kami udah temenan sejak SD," katanya. "Nggak pernah pisah sekolah, lebih sering satu kelas, kecuali saat SMA, kami tinggal satu kost selama kuliah. Dan mungkin persahabatan kami bakal rusak kalau dia tahu aku ngajak jalan tunangannya." Aku menggeleng. "Kita cuma pulang bareng." "Kita sama-sama tahu, ini nggak cuma sekadar 'pulang bareng'." Dia menekankan dan aku tak bisa menampik ucapannya itu. Aku terdiam, karena merasa dia seperti menanggung beban. Mungkin sebelum kuajukan pertanyaan itu, dia sempat lupa atau tak ingin mengingat statusku. Sekarang semuanya seperti diperjelas. Setelahnya aku tak mengajukan pertanyaan lagi, tapi masih dalam posisi duduk menyerong menghadapnya. Dia menatap lurus ke depan, sedangkan aku menjatuhkan pandangan pada dinding kereta. Hanya helaan napas berat kami yang sesekali terdengar di antara bisingnya suara gesekan besi rel kereta, gerbong yang bergetar karena kecepatan tinggi, dan dengung-dengung samar orang mengobrol. "I love you." Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa kurencanakan. Hanya saja sejak tadi memang tersimpan di kerongkongan dan aku berusaha menahan agar tak terucapkan. Dan akhirnya terucap juga. Fikri sempat terkejut. Dia menoleh dan mata kami bertemu, hanya sebentar karena setelah itu dia membuang pandangan lagi. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya sebagai tanggapan. Sementara dadaku sudah penuh sesak oleh perasaan entah apa ini dan menuntut untuk dikeluarkan. "Waktu kamu ke rumah waktu itu, aku takut setengah mati," akuku. "Yang kubayangkan kalau ayah tau, pasti aku nggak akan bisa ketemu kamu lagi, pasti aku bakal disuruh berhenti kerja, dan mungkin bakal makin dilarang ke mana-mana. Aku beneran takut." Aku diam sebentar, menghela napas untuk mengisi paru-paru. Karena Fikri tak bereaksi, kemudian aku melanjutkan, "Tapi kamu malah beneran pergi dan nggak balik. Hidupku emang jalan terus setelah itu, tapi rasanya kosong." Sedih rasanya mengingat masa itu. Fikri masih tetap diam. Dia hanya menghela napas pelan. Tak mengapa, dia menyediakan telinganya untuk mendengar setiap kata-kataku saja itu sudah cukup. Aku ingin jika kami memang tak bisa bersama, paling tidak kami berpisah tanpa saling menyakiti. Aku belum pernah mengatakan semua ini padanya. "Maaf," ucapku sungguh-sungguh. "Maaf karena terlalu pengecut." Aku menyentuh lengannya dan menempatkan tanganku tetap di sana sambil terus bicara. "Maaf karena nggak berani berjuang bersama kamu." Dadaku semakin sesak dengan pandangan mulai mengabur. "Maaf, aku tetap nggak punya keberanian, nggak peduli sebesar apapun aku menginginkan kamu." Kusandarkan keningku pada bahu Fikri. "Aku menginginkan kamu, tapi Ayah menginginkan orang lain," lanjutku dengan hati perih. Saat Fikri menggenggam tanganku dengan erat, aku terisak pelan. Cukup lama aku menyembunyikan wajah di balik bahunya. Membiarkan air mataku keluar semaunya, hingga berhenti sendiri, hingga aku merasa lelah, hingga dadaku begah. Setelahnya, aku baru memutar kepala menatap kursi kosong di hadapan, tapi masih menyandar padanya. "Kalau seandainya dulu aku punya keberanian, terus Ayah nggak setuju, kamu bakal bawa aku kabur nggak?" Pertanyaan konyol, aku tahu. Fikri mendengkuskan senyum tipis. "Nggak," jawabnya mantap. "Aku mungkin akan patah hati, tapi bisa nemuin cewek lain sebagai pengganti. Sedangkan ayah kamu nggak akan bisa menemukan anak lain sebagai pengganti. Aku nggak akan ambil anak perempuan dari ayahnya dengan cara begitu." Hatiku seketika menghangat mendengarnya. Setidaknya aku lega karena tak jatuh cinta pada lelaki yang salah. Andai ayah bertemu dengan Fikri sekali saja, mungkin ayah akan berubah pikiran. Ah, tidak. Ini bukan soal ayah akan menyukai Fikri atau tidak, tapi ini tentang tradisi. Ayah tak akan meninggalkan tradisi. Ya, tradisi sialan itu. "Kalisat," kata Fikri saat kereta berhenti. "Besok ...." "Nggak," potongnya sebelum aku selesai bicara lalu dia mengambil sesuatu dari tas ranselnya. "Nih." Mataku melebar melihat apa yang dia sodorkan itu. KTP-ku. "Baru kuambil tadi pagi," jelasnya seolah mengerti apa yang aku pikirkan. "Beneran nggak bisa dinego, ya?" Aku masih mencoba, siapa tahu dia berubah pikiran. Dia menggeleng mantap. "Jangan buat aku nusuk sahabatku dari belakang. Meski sebenarnya sekarang udah aku lakukan." Aku diam, lalu mengambil KTP itu. Dua stasiun lagi, kebersamaan kami akan berakhir. Meski rasanya aku belum rela, tapi inilah kehidupan nyata. Karena aku bukan berada dalam negeri dongeng yang setiap kisahnya selalu diakhiri dengan kata bahagia selamanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN