Aku tak tahu mana yang lebih buruk, menyesal karena pernah melakukan sesuatu atau menyesal karena tak pernah mencoba. Sejak perjalanan dari stasiun menuju rumah, aku terus menimbangnya. Mungkin apa yang akan kukatakan bisa membawa dampak besar yang tak baik, tapi jika aku terus diam mungkin aku akan menyesal seumur hidup karena terus memupuk rasa takut.
Aku menghampiri ibu yang sedang sibuk dengan menu makan malam di dapur. Tidak memasak, hanya memanaskan saja untuk kemudian ditata di meja.
"Bu," panggilku ragu. Keberanian tak serta-merta tumbuh dalam diri seorang penakut sepertiku. Aku bahkan bisa merasakan suaraku bergetar padahal baru memanggil saja.
"Opo, Nduk?" Ibu merespon tanpa mengalihkan perhatian dari masakannya.
Aku menggigit bibir, memantapkan hati. "Fia nggak mau nikah sama Kak Baim, Bu." Lidahku begitu berat saat meluncurkan kata-kata itu, tapi kemudian rasa lega dan takut pilin-memilin menjadi satu di dadaku.
Ibu sontak menoleh. "Ngomong opo tho kamu? Jangan sembarangan," tegur ibu tegas.
"Fia nggak cinta sama Kak Baim," ucapku pelan seolah-olah kata-kata itu kutujukan untuk diri sendiri.
"Nggak cinta?" Ibu mematikan kompor lalu menghadap sepenuhnya kepadaku. "Sejak awal kamu menerima perjodohan ini. Sekarang kamu sudah tunangan dan baru ngomong soal cinta? Jangan bikin malu orang tua, Sofia." Ibu hanya memanggilku Sofia ketika benar-benar ingin aku tahu kalau beliau serius dengan perkataannya.
"Fia cinta orang lain." Seperti orang tuli, aku mengabaikan kata-kata Ibu.
Ibu terbelalak. "Ya Allah, Nduk! Sudah, nanti ayahmu dengar. Ibu akan anggap kamu ndak pernah ngomong seperti ini." Nada bicara ibu terdengar panik.
"Tapi Fia cinta orang lain, Bu." Aku meremas pelan lengan Ibu agar Ibu mau mengerti perasaanku.
"Siapa?" Suara berat ayah membuatku dan ibu spontan menoleh. Aku mendapati ayah berdiri di depan pintu dapur.
Rasanya belum pernah jantungku berdegup sekencang ini. Seperti mau meledak saking kerasnya. Tapi aku sudah terlanjur maju, tidak mungkin mundur lagi.
"Siapa?" ulang Ayah dengan suara berat tertahan. Aku tahu dari ekspresi wajahnya, ada amarah yang bergulung-gulung di d**a Ayah.
Tubuhku gemetar, air mata mulai keluar tanpa bisa ditahan. Jika di hadapanku ada kaca, pasti aku bisa melihat pantulan wajahku yang sudah memucat sekarang.
"Fikri," sahutku nyaris tak keluar suara. Aku berdeham pelan lalu mengulang, "Namanya Fikri."
Ayah diam dan diamnya itu sungguh membuatku semakin ketakutan.
"Tinggal di Jember?"
Aku mengangguk takut-takut.
"Suruh dia ke sini habis Isya nanti. Ayah mau ketemu."
Aku terbeliak tak percaya. Semudah itu?
"Ayah mau ngasi kesempatan?" tanyaku memastikan.
Tak ada jawaban, Ayah langsung berbalik meninggalkan dapur. Berjalan terus keluar rumah, pasti akan ke masjid.
Aku masih mematung di tempat. Berusaha mencerna semua yang terjadi begitu cepat.
"Nduk," tegur ibu menyadarkanku dari ketertegunan, "Jangan," ujar Ibu mengingatkan.
Aku masih diam, mengerjap beberapa kali lalu menghela napas dalam-dalam. "Dulu dia pernah ke sini, Bu." Bisa kutangkap ada keterkejutan di wajah Ibu. "Tapi Fia usir karena Fia takut," lanjutku. "Sekarang Ayah ngasi kesempatan, kenapa nggak Fia coba?"
"Ayahmu bukan ngasi kesempatan. Ayahmu mau memberi peringatan. Kasian temanmu."
Aku mengembuskan napas pelan. "Dicoba aja dulu," gumamku lalu beranjak meninggalkan dapur. Ibu tak menahan kali ini.
Aku langsung menghubungi Fikri, tapi hingga nada sambung habis, teleponku tak terjawab. Kucoba menelepon lagi, tapi hasilnya masih sama. Kucoba lagi dan lagi, hingga panggilan ke lima barulah Fikri menjawab.
"Halo."
Aku terdiam. Rasa frustrasi karena Fikri tak kunjung mengangkat telepon dan shocked effect akibat permintaan ayah yang di luar dugaan, membuatku tak tahu harus memulai dari mana.
"Fi." Fikri bersuara lagi.
Aku menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Aku sudah bilang sama ayah," ujarku.
"Hah?" Dia pasti bingung.
"Aku sudah ngomong sama ayah ... tentang kita."
"Apa?!" Fikri terdengar shock. "Kamu udah nggak waras?" tanyanya dengan nada tinggi. "Kita udah bahas tadi, kan! Baim itu sahabatku, Fi. Kamu mikir nggak?"
"Tapi aku nggak cinta sama Baim!" Seperti kesetanan, aku mulai ikut meninggikan suara.
"Masalah ini, bukan cuma tentang perasaanmu. Maaf, aku nggak bisa ke sana."
"Oke, fine," sahutku dengan suara putus asa. "Nggak usah ke sini." Aku langsung menutup telepon tanpa menunggu responnya.
***
Kutekan tombol pada remote control terus mengganti-ganti channel pada televisi tanpa tahu akan menonton apa hingga ibu menegurku. "Mau nonton opo, tho, Nduk?" Ibu mengambil remote di tanganku.
Aku menghela napas panjang, merasa gelisah.
"Belum datang?" Suara berat Ayah membawa pandanganku pada sosoknya yang berdiri di depan kamar.
Dengan berat hati, aku menggeleng. Mataku menghangat saat melirik jarum jam yang sedang menuju angka delapan. Waktu isya sudah lewat sejak tadi.
Ayah mendengkus. "Laki-laki pengecut, kamu perjuangkan!" Tak diucapkan dengan nada tinggi, tapi penuh dengan kesinisan.
Aku meremas bantal sofa di pangkuan. "Dia pasti datang," ujarku mantap.
Ayah tak membalas ucapanku, kembali masuk kamar.
"Ibu malah berdoa, semoga dia tidak datang," celetuk Ibu setengah bergumam. "Kalau kamu pikir ayahmu akan membatalkan perjodohan ini, kamu salah besar, Fia." Ibu menatapku dengan serius.
Aku diam sejenak. "Siapa tahu Ayah akan berubah pikiran setelah ketemu dia."
Ibu geleng-geleng kepala. "Ya, sudah. Terserah. Kadang ibu lupa kalau kamu anak ayahmu. Sama-sama keras kepalanya. Jangan libatkan ibu kalau ada apa-apa, tanggung sendiri." Ibu hendak beranjak meninggalkanku saat terdengar suara ketukan dari pintu depan.
"Fia betul, kan." Aku tersenyum menang meski belum tahu siapa yang datang lalu langsung melesat menuju ruang depan. Hati kecilku berkata, dia pasti datang. Dan saat kubuka pintu, ya, kutemukan dia di sana. Berpenampilan begitu rapi dengan ekspresi wajah terlihat tegang bercampur kesal.
Aku tersenyum lebar menyambutnya. "Aku tau kamu pasti akan datang," ujarku tanpa bisa menyembunyikan ekspresi senang.
Dia menatapku datar. "Kamu tau, aku benci kamu."
Aku mengulum senyum. "Itu terdengar seperti kamu sedang bilang, I love you."
Dia mendengkus, tapi tak menolak saat aku menggamitnya untuk mengajak masuk. Belum sempat melangkah, dia menahan tanganku.
"Janji satu hal dulu," pintanya tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya.
"Apa?"
"Apapun keputusan ayah kamu, terima dan jangan membantah," ucapnya penuh penekanan.
Aku mengangguk lalu kembali membimbingnya untuk masuk. Sebelum beranjak untuk memanggil ayah, Fikri sempat berkata, "Persiapkan diri kamu untuk kecewa, Fi."
Aku menatapnya lekat. "Apapun hasilnya, kita lihat aja nanti," ujarku. "Yang jelas, kamu berada di sini aja aku udah makasi banget."
Fikri diam, aku segera masuk untuk memanggil ayah. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan ruang tamu, ayah muncul di hadapanku dengan wajah yang jauh dari kata ramah.
Aku memperkenalkan Fikri pada Ayah seadanya, lalu kami duduk bertiga di ruang tamu. Aku berharap ibu ikut serta, tapi belum ada tanda-tanda ibu akan muncul. Hendak memanggilnya, aku terlalu enggan meninggalkan Fikri sendirian menghadapi ayah.
"Jadi sudah berapa lama kamu kenal Sofia?" Ayah mulai membuka pembicaraan. Suaranya yang berat dan besar selalu berhasil membuat jantungku berdebar tiap kali Ayah sedang bicara dalam mode serius seperti itu.
Aku melirik Fikri, mengamati bagaimana reaksinya.
"Tiga tahun lebih, Pakde," jawab Fikri setenang mungkin. Dia memang terlihat tegang tapi masih bisa bersikap tenang. Aku iri dengan kontrol diri Fikri yang begitu baik. Kalau aku jadi dia pasti sudah gemetar saking gugupnya.
"Jadi kalian sudah dekat selama itu?" tanya Ayah tanpa basa-basi.
"Saya dan Fia dekat selama hampir dua tahun."
"Setelah itu?"
"Setelah itu hubungan kami renggang," jawab Fikri jujur.
"Dan setelah hubungan kalian renggang, kamu baru datang ke sini?" tanya Ayah dengan sorot mata mengintimidasi. "Apa kamu tahu kalau Sofia sudah bertunangan?"
Aku mencium bau penolakan. Belum apa-apa ayah sudah langsung menembak ke titik inti begitu. Mungkin seharusnya aku mendengarkan kata-kata Ibu.
Fikri diam sesaat. Mungkin dia sedang memilih jawaban agar tak salah. "Saya tahu Sofia sudah bertunangan," jawabnya masih dengan tenang. "Saya datang ke sini karena diundang. Saya cuma nggak mau bikin Sofia kecewa."
Ayah mengangguk samar. "Saya hargai keberanianmu. Tadi saya pikir kamu hanya seorang pengecut yang tidak berani datang, ternyata saya salah."
Sesaat jantungku berdegup tak karuan mendengar ucapan ayah, kemudian berdetak-detak dengan cepat. Berusaha meraba ada maksud apa di balik kata-kata itu. Adakah simpati yang tersembunyi di sana?
Pembicaraan terjeda karena Ibu muncul dengan membawa minuman. Diletakkannya di hadapan Fikri dan tanpa dikomando lelaki itu langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman setelah mengucap terima kasih. Lelaki semanis itu harusnya bisa menawan hati ayah dengan mudah. Andai belum ada Baim.
"Dulu dia pernah ke sini, Yah." Ibu ikut-ikutan mengambil peran. Suara ibu yang adem dan santai, sedikit membantu mengurai ketegangan. "Diminum dulu, Le."
Fikri mengangguk. "Injih, terima kasih." Kemudian dia menyeruput sirup dingin buatan ibu. Aku yakin tenggorokannya sekering milikku.
"Kapan kamu ke sini? Kenapa saya tidak tahu?" tanya ayah kemudian setelah Fikri menyudahi minumnya.
"Saya nggak sempat masuk, Pakde. Fia nggak mengijinkan karena takut. Dia nyuruh saya pulang," jelasnya apa adanya. "Sejak dulu saya serius sama Fia, tapi Fia nggak pernah berani bicara sama orang tuanya. Karena itu hubungan kami renggang."
"Sudah betul itu." Ayah sama sekali tak mau repot-repot mengubah cara bicaranya menjadi lebih ramah. "Kamu datang dulu atau sekarang, hasilnya tetap sama."
Jika Fikri cuma diam, aku langsung merasa lemas hingga menyandarkan punggung ke sofa. Jalan buntu kini membayang di kepalaku.
"Keluarga kami memiliki tradisi," lanjut Ayah. "Dan Sofia hanya akan menikah dengan lelaki dari keluarga atau kerabat. Jelas kamu tidak termasuk salah satunya. Apalagi mendekati perempuan yang sudah bertunangan, jelas itu salah. Kamu tahu?"
"Yah." Aku menyela. "Dia nggak mendekati Fia."
Ayah menatapku dengan marah. "Lalu apa?" tanyanya dengan sedikit membentak. Seumur-umur, semenakutkan apapun sosok Ayah di mataku, belum pernah beliau meninggikan suaranya padaku di hadapan orang lain. "Dia tidak akan ada di sini kalau tidak mendekatimu lagi. Kamu tidak akan lancang ingin membatalkan pertunangan kalau tidak sedang digoda sama dia." Ayah menunjuk ke arah Fikri. Aku yakin momen inilah yang ayah tunggu. Momen memuntahkan kemarahannya.
Aku menatap ayah dengan pandangan mengabur. "Dia nggak seperti itu," belaku dengan suara bergetar. "Ini kemauan Fia, bukan kemauannya. Dia sama sekali nggak minta. Fia nggak cinta---"
"Persetan dengan cinta!" potong ayah makin naik pitam. "Kamu akan menikah dengan Baim, itu harga mati!" Ayah berdiri. "Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, kamu bisa pergi," kata Ayah pada Fikri. Walaupun tidak menggunakan nada tinggi, tetap saja usiran itu terdengar menyakitkan.
Fikri terdiam beberapa saat. "Baik. Saya permisi," ucapnya kemudian dia beranjak dari sofa, mengucap salam sebelum keluar dari rumahku.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan agar tangisku tak pecah. Sementara Ayah bergerak menuju pintu, menguncinya lalu masuk ke rumah tanpa memperdulikanku.
Rasanya sakit sekali. Jika Ayah memang tak bisa menerima Fikri, seharusnya tak memintanya untuk datang. Aku tak mengundangnya ke sini untuk diinjak-injak harga dirinya. Lagipula ini hidupku, seharusnya aku berhak menentukan apa yang kuinginkan. Kalau ayah bisa membuat keputusan atas Fikri, aku juga bisa membuat keputusan untuk Baim. Lihat saja nanti.
***