Aku menatap nanar pagar rumah di depanku. Tertutup rapat. Aku bahkan tidak tahu apakah penghuninya berada di dalam atau tidak. Kalau kosong, entah aku harus kemana. Mari coba peruntungan saja. Siapa tahu aku tak terlalu sial dan ada yang membukakan pintu.
Kubuka pagar lalu masuk, mulai mengetuk pintu rumah. Beberapa kali ketukan tak juga ada jawaban. Aku masih terus mencoba tapi hasilnya nihil. Kuhela napas dalam-dalam, berusaha untuk tak panik. Aku sudah kurang tidur semalaman, ditambah lelah hati dan lelah badan membuatku sama sekali tak bisa berpikir.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Aku bergumam sendiri sambil memejamkan mata dan membenturkan kepala ke daun pintu di depanku. Entah benturan yang ke berapa, kepalaku hanya menghantam angin. Karena kehilangan tumpuan, aku segera membuka mata. Kulihat pintu terbuka.
"Sofia." Lelaki di hadapanku terlihat terkejut. Dia hanya memakai kaus dan celana rumahan selutut. Rambutnya basah berantakan. Handuk kecil di tangannya yang menggantung di udara menjelaskan kenapa aku butuh waktu lama untuk dibukakan pintu. Sepertinya dia baru selesai mandi.
Mataku mendadak menghangat lalu tetes demi tetes mengucur bebas.
"Kamu ...." Dia tampak kebingungan. "Kenapa bisa di sini?" Dilebarkannya pintu lalu sedikit menyingkir untuk memberiku ruang agar bisa masuk.
Namun, aku bergeming. Kurasakan air mataku makin deras. Aku kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Hanya tangis yang berjejalan di kerongkonganku sekarang. Bicara sedikit, maka tangisku akan pecah.
Baim tak memaksa bertanya, dia meraih bahuku agar mau bergerak lalu membimbing duduk di ruang tamu.
"Tunggu, ya," pamitnya berjalan ke belakang. Tak lama dia kembali dengan membawa segelas air putih. "Minum dulu."
Aku tak menolak. Setengah dari isi gelas seketika berpindah ke perutku. Kini tangisku sudah lebih reda. Aku mulai bisa menguasai diri. Tapi masih memilih diam dengan menggenggam erat gelas yang kupegang. Aku tak tahu harus berbuat apa, tak tahu harus memulai dari mana. Aku benar-benar kacau.
Baim mengambil gelas dari tanganku, meletakkannya di meja. "Sudah bisa cerita?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Aku pergi dari rumah," sahutku dengan suara serak dan pelan.
Baim terkejut, tapi dia tak berkata apa-apa. Mungkin saking kagetnya, hingga butuh beberapa waktu untuk merespon.
"Kenapa?"
Bukannya bicara, kelenjar air mataku justru kembali bekerja. Tak peduli meski kuhapus setiap tetes yang keluar, tetes lainnya terus susul-menyusul.
Baim mengembuskan napas, dia beranjak lagi sepertinya kali ini masuk ke kamar. Saat kembali, dia membawa ponsel. "Aku kabari ayahmu dulu," katanya.
"Jangan. Jangan sekarang," pintaku.
"Kalau gitu kamu aja yang telepon."
Aku menggeleng. "Aku nggak bawa HP."
Dia mengembuskan napas pelan. "Sejak kapan kamu keluar dari rumah?"
Aku membersit hidung. "Tadi sebelum subuh."
Baim geleng-geleng kepala. "Kamu kabur dari rumah tanpa bawa HP, mikir nggak gimana cemasnya ayah dan ibu kamu ketika pagi nggak nemuin anaknya di rumah? Apapun masalah yang sedang kamu hadapi sekarang, bukan seperti ini cara menyelesaikannya. Jangan kekanakan, Sofia," omelnya masih dengan suara lembut.
Aku penasaran, masihkah dia bisa bersikap sebaik ini jika tahu penyebab aku meninggalkan rumah dan datang ke sini?
Aku diam, tidak melarangnya lagi. Telepon sudah tersambung, Baim sengaja mengaktifkan loudspeaker ponselnya.
"Halo." Itu suara Ayah.
"Assalamualaikum, Pakde. Sehat?"
"Waalaikumus salaam. Alhamdulillah, Im. kamu gimana?"
"Baik, Pakde," sahutnya. "Baim cuma mau ngabarin kalau Sofia ada di sini."
Jeda sejenak. "Alhamdulillah," balas Ayah dengan suara yang aneh. "Pakde ke sana sekarang."
Aku tertegun. Saat Ayah berbicara lebih panjang, aku baru yakin kalau suaranya bergetar. Ayah menangis. Lelaki segalak ayah menangis?
"Ngga usah, Pakde. Biar Baim yang antar Fia pulang ke Jember." Baim melirikku sekilas dengan ekspresi kesal.
"Baik, kalau begitu. Maafkan sikap Sofia, ya, Im."
"Iya, Pakde."
Lalu telepon ditutup, Baim memfokuskan perhatiannya kepadaku.
"Hari ini kamu bikin ayahmu nangis." Dia geleng-geleng kepala lagi. "Itu keterlaluan, Sofia. Coba sekarang jelaskan, ada masalah apa sampai kamu kabur dari rumah? Dan kenapa Pakde minta aku maafkan sikap kamu?" cecarnya.
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Aku nggak bisa nikah sama Kak Baim."
Dia tersentak kaget. "Maksudnya?"
Aku tidak langsung menjawab, memejamkan mata sejenak sembari memikirkan dengan kata apa aku harus memulai. "Aku menyukai orang lain dan ayah tahu," ujarku tanpa berani melihat Baim.
"Terus?"
Kata demi kata meluncur cukup lancar dari mulutku tentang bagaimana ayah meminta lelaki yang kusukai datang ke rumah, tentang bagaimana ayah menanggapi kedatangan itu dan keputusan harga matinya yang tak bisa diubah. Dari semua cerita itu tak ada yang kutambah pun kukurangi, hanya saja aku tetap belum menyebut nama Fikri.
Selama bercerita, aku tetap tak berani melihat wajah Baim. Dia juga hanya diam mendengarkan. Kalau saja tak terlihat sosoknya berada di sebelahku, aku merasa seperti sedang bicara sendiri saking senyapnya.
"Aku minta maaf," tutupku sembari melirik sedikit untuk melihat reaksinya.
Baim masih diam, dia hanya menghela napas berat. Hingga beberapa saat kemudian bibirnya masih tertutup rapat.
"Kak," tegurku pelan. Aku sudah menyiapkan diri kalau dia ingin marah, akan aku terima.
"Kenapa nggak ngomong dulu sama aku?" tanyanya. "Kalau sudah gini, aku nggak tahu harus berbuat apa."
"Memangnya bakal ada bedanya?"
Baim menatapku gusar. "Memangnya apa yang kamu harapkan? Kamu pikir ayahmu akan membatalkan hubungan yang sudah melibatkan keluarga hanya karena anaknya jatuh cinta? Jangan bodoh!"
Aku terdiam. Berusaha menelan kenyataan yang terasa pahit ini.
Baim menyandarkan kepalanya ke sofa, memijat keningnya sembari memejamkan mata. Kami sama-sama diam hingga suara perutku memecah keheningan.
Baim mengangkat kepalanya, menatapku. "Kamu ... belum makan?"
Aku menggeleng pelan. Terakhir makanan masuk ke perutku, sebelum kedatangan Fikri tadi malam. Itu pun tak banyak karena aku kehilangan selera. Saat meninggalkan rumah sebelum subuh tadi, hingga menuju stasiun dan akhirnya sampai di sini, aku hanya minum air. Sekarang aku lapar luar biasa.
"Aku ganti baju dulu terus kita cari makan di luar." Dia berdiri hendak masuk kamar, aku memanggilnya.
"Kamar mandi di mana?"
Dia menunjuk pintu biru di depan ruang tamu lalu kembali melangkah masuk kamar. Begitu dia menghilang, aku yang beranjak menuju kamar mandi.
Baim mengajakku ke warung soto yang tak jauh dari kontrakannya. Semenjak keluar dari rumah, hingga sampai warung, hingga soto pesanan kami datang dan kami mulai makan, Baim sama sekali tak bicara. Diamnya itu sungguh membuatku mati gaya. Rasanya akan lebih mudah jika dia mengomel, dan kami bisa berdebat tentang masalah ini. Didiamkan begini justru membuatku serba salah.
"Kak Baim marah sama aku?"
Dia melirik, tak langsung merespon karena mulutnya masih penuh. Begitu kosong, dilemparkannya tatapan tajam ke arahku. "Menurutmu?" tanyanya. "Coba aja kondisinya dibalik. Gimana reaksimu kalau ada di posisiku sekarang?"
Aku diam, menunduk, melanjutkan makan. Tetap saling diam hingga mangkok kami sama-sama kosong, dan bahkan sampai Baim mengajak meninggalkan warung itu, tak ada obrolan yang berarti. Aku mengatakan padanya bahwa belum melakukan sholat Ashar. Dia mengajakku ke masjid terdekat, masjid milik universitas swasta terbesar di kota itu. Kontrakan Baim memang di daerah sana. Setelah selesai, kami tak langsung kembali ke kontrakan, melainkan duduk-duduk di tepi jalan.
"Kenapa kemarin kamu minta cepat-cepat nikah?" Meski tak lagi memasang wajah datar, keramahan Baim belum kembali.
Aku memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. "Aku nggak bohong waktu bilang pengen dekat Kak Baim," jawabku. "Karena tetap di Banyuwangi, itu artinya aku akan terus ketemu dia. Gimana bisa lupa kalau terus ketemu. Sementara aku harus belajar cinta sama Kak Baim."
Dia kembali diam. Aku benar-benar merasa tak enak sekarang. Dia memang tak banyak bicara untuk menunjukkan kemarahannya, tapi ekspresinya itu menunjukkan kalau dia kecewa.
"Kenapa Kak Baim diam aja?" tanyaku setelah kami saling diam cukup lama.
"Aku nggak tau mau ngomong apa. Aku butuh berpikir," jawabnya tanpa melihatku.
Akhirnya aku memilih kembali diam, hingga suasana hening di antara kami dibuyarkan oleh suara dering ponsel Baim.
"Halo." Baim menjawab teleponnya entah dari siapa.
"Aku di daerah kampus. Dekat masjid. Kenapa?" Baim mengernyitkan dahi lalu menoleh padaku sambil terus mendengarkan lawan bicaranya di telepon.
"Iya." Dia mengakhiri teleponnya lalu menatapku tajam.
Apa lagi ini? Tadi tatapan itu sudah hilang.
"Mantan kamu ... Fikri?" tanyanya tanpa melepas pandangan matanya dariku.
Aku tersentak lalu mengangguk pelan. Tapi tidak berani bertanya apakah yang menelponnya tadi adalah Fikri.
***