"Kenapa kamu nggak ngasi tau aku?" suaranya terdengar berat karena menahan emosi.
Aku diam, tak tahu harus berkata apa. Hingga tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat kami. Aku seketika terbelalak melihat siapa yang mengendarai motor itu. Terlebih saat helmnya telah dibuka.
Aku dan Baim sama-sama berdiri secara spontan.
"Kamu sudah gila, ya?" teriak Fikri tepat di depanku dengan ekspresi marah. Aku belum pernah melihat Fikri seperti ini. Dia tak pernah bicara kasar sebelumnya.
Aku tersentak, tapi ada perasaan tak terima yang bergejolak. "Iya aku udah gila. Puas?" balasku juga dengan suara tinggi. Untuk beberapa saat kami saling tatap dengan sorot penuh kemarahan. Kurasakan tatapan Fikri melunak saat pandanganku mulai berkaca-kaca. Mungkin dia bisa melihat itu dan emosinya sedikit mereda.
Tubuhku merosot, duduk kembali di trotoar. Semua yang terjadi ini benar-benar menguras energiku. Satu per satu, Baim dan Fikri, ikut duduk juga. Kami bertiga tak satu pun yang bicara.
"Ini karma ya?" Tiba-tiba Baim berkata begitu dengan pandangan menerawang.
"Ini takdir," timpal Fikri dengan suara pelan. Aku hanya diam memperhatikan mereka dalam kebingungan. Entah apa yang mereka maksudkan.
Baim mendengkus. "Takdir buat kamu, karma buat aku," ralatnya.
"Kalian ngomongin apa sebenarnya?" Aku ikut menimpali karena penasaran.
"Dan kamu, Sofia ... nggak pernah mikir sebelum melakukan sesuatu," tuduh Baim, mengabaikan pertanyaanku.
Aku kembali diam karena yang diucapkannya benar.
Baim menghela napas berat. "Kamu tau dari mana Sofia ada di sini, Fik?"
"Ayahnya telepon aku, marah-marah dan maki-maki aku. Nuduh aku bawa kabur anaknya." Wajah Fikri terlihat kesal. "Terus aku ke stasiun karena berpikir dia ke Banyuwangi. Tapi kata petugas stasiun liat dia naik kereta jurusan Malang. Aku langsung nyusul ke sini," lanjutnya.
Aku bisa mengerti kalau Fikri marah. Ayah pasti bicara kasar padanya. Aku hapal betul seperti apa tabiat ayah. Dan semua ini, akulah penyebabnya.
"Maaf," ucapku lirih. "Aku minta maaf."
"Sayangnya, permintaan maaf itu nggak menyelesaikan apa-apa," sahutnya lalu berdiri sambil mengerang sebal.
"Mau ke mana?" tanya Baim.
"Aku capek duduk dari tadi." Fikri meregangkan ototnya.
"Ya udah balik ke kontrakan aja. Bentar lagi juga maghrib," saran Baim yang langsung disetujui oleh Fikri.
Sesampainya di kontrakan, Baim menyuruhku istirahat di kamarnya, sedangkan dia dan Fikri berada di ruang tamu. Aku merebahkan tubuh ke tempat tidur, rasanya sangat melelahkan. Kuedarkan pandangan ke seluruh kamar. Di ruangan ini hanya ada ranjang ukuran sedang, sebuah lemari dua pintu, kaca panjang tergantung di dinding dan sebuah meja tulis.
Perlahan aku memejamkan mata, rasanya baru setengah kehilangan kesadaran saat pintu kamar diketuk dari luar. Dengan enggan, aku beranjak bangun dan mendapati Baim di balik pintu.
"Aku mau keluar sama Fikri. Pintu aku kunci dari luar," kata Baim.
"Mau ke mana?" tanyaku. "Aku ikut, ya?"
Baim menggeleng. "Jangan," larangnya. "Aku butuh ngomong empat mata sama Fikri."
"Kalian nggak bakal berantem, kan?" Entah kenapa pikiran itu terlintas di kepala. Tadi saat Fikri baru tiba, kupikir akan ada perselisihan di antara keduanya. Saling menyalahkan, misalnya. Tapi ternyata sampai sekarang mereka terlihat biasa-biasa saja. Takutnya mereka mencari tempat lain untuk ribut agar tak perlu cekcok di hadapanku.
Baim tersenyum sinis. "Mungkin dia perlu ditonjok sekali atau dua kali. Jangan khawatir, nggak bakal bikin dia nggak ganteng lagi."
Aku terbelalak. "Aku serius, Kak!"
"Aku juga serius," katanya dengan ekspresi wajah yang mendukung.
Fikri mendengkus tepat ketika aku akan bicara lagi. Aku melihatnya, pandangan kami bertemu, tapi dia melengos lalu keluar rumah.
Baim juga akan beranjak, tapi aku menahan tangannya. "Kak."
Dia melepas cekalan tanganku. Aku kembali mencekal tangannya ketika dia baru berjalan satu langkah.
Dia menoleh, lalu menatapku dengan sorot yang tak bisa kupahami artinya. "Khawatir banget, ya, sama Fikri."
Aku langsung melepaskannya. Bukan bermaksud begitu. Aku khawatirkan pada keduanya, tapi sepertinya Baim salah sangka.
"Hati-hati," ucapku kemudian.
Baim tak menyahut lalu pergi keluar rumah.
Sepeninggal mereka, aku kembali ke kamar dan baru sadar kalau meja tulis Baim menyimpan banyak foto di balik permukaan kacanya. Aku mendekat untuk melihat-lihat, menyingkirkan satu dua barang yang menghalangi pandangan. Kesemuanya foto-foto Baim bersama teman-temannya. Dan hampir di setiap foto, ada Fikri juga di sana.
Aku tersenyum miris. Sebegitu dekatnya mereka, aku baru tahu sekarang. Dan mungkinkah kedekatan itu akan merenggang karena kebodohanku?
Cukup malam ketika kudengar suara orang di luar kamar. Ternyata aku jatuh tertidur karena menunggu kedatangan Baim dan Fikri yang lumayan lama. Kurenggangkan otot tubuh sebelum beranjak meninggalkan ranjang kemudian keluar kamar.
Baim duduk di ruang tamu sedang bermain ponselnya. Di meja tergeletak sekantong plastik cukup besar berisi camilan, kukira. Aku mendekat, Baim menggeser duduknya memberiku tempat lebih lebar untuk duduk.
"Kenapa bangun?" tanyanya.
Aku menjatuhkan diri di sebelahnya lalu mengecek isi plastik hitam itu, mencari sesuatu yang bisa dimakan. "Lapar," sahutku bersamaan dengan tangan meraih sekotak s**u cair.
"Mau dibelikan makanan berat?"
Aku menggeleng mantap lalu mulai menyeruput s**u coklat di dalam genggaman. Tak kulihat Fikri, mungkin sudah tidur.
"Kak Baim nggak tidur?" Aku meliriknya, sedangkan dia masih asyik dengan benda pintar di tangannya.
"Iya, sebentar lagi," sahutnya.
"Tidur di mana?"
"Kenapa kamu mau berbagi tempat sama aku?"
Aku berdecak, dia tersenyum singkat. Ada rasa lega sedikit menelusup di dadaku melihatnya sudah bisa bercanda dan tersenyum kembali. Betapa kejadian-kejadian hari ini membuatku melihat sisi lain dari Baim dan Fikri. Juga sisi lain dari diriku sendiri.
"Itu kamar kosong." Baim mengedikkan dagunya menunjuk pintu di seberang pintu kamar mandi di hadapan kami. "Fikri udah tidur duluan."
Sesuai dugaanku. Fikri tak pernah kuat bergadang.
"Dia marah banget, ya?"
"Hmm." Baim bergumam. "Dia kesal sama omongan ayahmu."
"Ayah ngomong apa?"
"Pakde bilang kalo Fikri nggak punya aturan dan orang tuanya nggak bisa didik anak," jelas Baim. "Kalau aja Pakde nggak bawa-bawa orang tuanya, Fikri nggak akan semarah itu."
"Semua gara-gara aku."
"Memang," sahut Baim sebegitu entengnya, membuatku bungkam.
Aku bisa paham kenapa Fikri murka. Andai saja aku mendengar kata-kata ibu untuk tak menyuruh Fikri datang ke rumah. Tapi berandai-andai sekarang juga tak ada guna.
"Sekarang kamu nyesel?" tanya Baim tiba-tiba, begitu kebetulan dengan apa yang baru kupikirkan. Dia menatap, menelisik seolah-olah mencari sesuatu di wajahku. Mungkin dia berusaha menemukan gurat penyesalan.
Aku mengedikkan bahu. "Nggak tahu," sahutku. "Maksudku, aku nyesel karena udah bikin kekacauan, tapi ini ... pertama kali dalam hidup aku punya keberanian."
Haruskah keberanian ini kusesali?
Baim mendengkus. "Berani melakukan hal yang jelas-jelas kamu tahu itu salah, apa yang bisa dibanggakan dari itu, Fi?"
Aku menunduk diam, merasa tertampar oleh kata-kata Baim. Miris juga kalau dipikir-pikir. Harusnya keberanian ini muncul saat sebelum ada hubungan yang terjalin dengan Baim. Maka aku akan benar melakukannya. Sayangnya, keberanian ini muncul terlambat, maka semua menjadi tak tepat.
Kuhela napas dalam, menyandarkan tubuh pada sofa dengan kepala mendongak menatap atap rumah. Pikiranku mulai melayang ke mana-mana hingga tersadar satu hal.
"Kenapa Kak Baim bilang kalau ini karma?" Pertanyaan yang kusimpan dari tadi dan baru sempat kutanyakan karena baru mengingatnya.
Baim mengobok-obok plastik di meja, mengambil sebungkus snack. "Karena dulu aku pernah ngambil pacar Fikri," sahutnya kemudian.
Aku terbelalak. "Serius?" tanyaku tak percaya.
Baim mengangguk sambil mengunyah. "Nggak terang-terangan ngambil, sih," sahutnya setelah mulut kosong. "Cuma waktu itu Fikri bilangnya mau break biar bisa fokus garap skripsi. Ceweknya nggak sabar, katanya break itu cuma kata putus yang diperhalus. Bermula dari patah hati, dia jadi sering curhat ke aku, eh ujung-ujungnya dia bilang suka."
"Terus?" tanyaku tertarik.
"Sialnya, aku juga naksir," akunya.
Aku terdiam, tak tahu harus merespon seperti apa. Cerita ini benar-benar tak terpikirkan pernah terjadi di antara mereka.
"Karena itu Kak Baim bilang kalau yang terjadi sekarang adalah karma?"
"Mungkin," jawabnya. "Aku nggak tahu. Lagian aku dulu jadian setelah Fikri udah beneran selesai sama cewek itu. Fikri udah balik ke Jember setelah selesai sidang," lanjutnya. "Cuma kejadian ini bikin aku ingat masa lalu. Terjebak dengan cewek yang sama dengan sahabat itu nggak menyenangkan."
Tentu saja. Aku paham rasanya meski tak pernah mengalaminya.
"Tidur sana," suruh Baim setelah cukup lama kami saling diam. "Besok kita berangkat pagi."
***
Baim dan Fikri sepakat akan berangkat jam enam pagi ke Surabaya. Ketika aku protes karena terlalu pagi, mereka bilang kami masih harus mampir tempat makan, harus mengurus pengiriman motor Fikri menggunakan kereta, juga belum lagi halangan-halangan yang bisa saja terjadi sepanjang perjalanan. Akhirnya aku menurut saja karena ternyata kereta yang akan kami tumpangi berangkat jam sembilan dari Surabaya.
Aku menghentikan langkah ketika mendengar suara obrolan Fikri dan Baim di teras. Mereka sudah siap sejak tadi dan memilih menungguku di teras.
"Jadi kayak gini ya rasanya?" Pertanyaan Baim tidak ada hubungannya dengan topik pembicaraan mereka tadi tentang perjalanan yang akan kami tempuh, makanya aku memilih berdiri di belakang pintu untuk mendengar apa yang dia maksud.
"Rasanya apa?" Fikri tanya balik. Aku melihat mereka dari celah pintu. Mereka duduk membelakangi pintu.
"Sesakit ini yang kamu rasakan dulu?" Baim memperjelas pertanyaannya.
"Menurutmu?" Fikri menoleh pada Baim.
"Sorry," ucap Baim.
Fikri berdecak. "Udah lewat, nggak usah dibahas."
"Kenapa masih mau temenan sama aku?" Pertanyaan Baim membuat Fikri mengernyit. Aku bisa melihatnya walau sekilas.
"Kenapa aku harus nggak temanan sama kamu?" tanyanya heran.
Baim mengusap wajahnya kasar. "Kalo aku ada di posisi kamu dulu, mungkin kita sekarang udah nggak temenan lagi."
"Sekarang aku ngelakuin hal yang sama seperti yang kamu lakukan dulu. Kamu ngga mau berteman lagi sama aku?" Fikri membalik pertanyaan Baim.
"Kasus kita beda, Fik. Sejak awal Sofia sukanya sama kamu. Kamu nggak jadi orang ketiga di antara aku dan Sofia, tapi aku jadi orang ketiga di antara kamu dan Sheilla."
Aku baru tahu nama perempuan itu, Sheilla. Sebelumnya Fikri tidak pernah sekali pun bercerita tentang mantannya padaku. Dibujuk bagaimanapun dia tetap tidak mau bercerita. Sedangkan Baim tidak pernah menyebut nama tapi sesekali masih bercerita soal mantannya.
"Jadi kamu duluan yang naksir Sheilla?"
"Nggalah." bantah Baim cepat.
"Ya udah ngga usah dibahas, udah basi juga." Fikri menumpukan tangannya ke lantai teras. "Aku ngga mau ngorbanin persahabatan cuma karena cewek. Lagian aku tau kamu nggak sengaja, kamu cuma terjebak di tempat dan waktu yang nggak tepat. Sama seperti aku sekarang, berada di tempat dan waktu yang ngga tepat. Dan terjebak di dalamnya."
Aku menghela napas mendengar ucapan itu. Betapa aku telah mengacaukan banyak hal.
"Aku akan melepas Sofia. Kamu bisa sama dia," kata Baim setelah diam cukup lama.
Aku menggigit bibir menunggu respon Fikri karena dia tidak langsung menanggapi kata-kata Baim.
"Bukan kamu yang bisa menentukan, Im. Sofia bukan milik kamu, tapi milik ayahnya." Lalu mereka tidak bicara lagi.
Aku termangu, bersandar pada dinding di balik pintu. Berusaha menyiapkan diri sebelum pergi dari sini dan harus menghadapi entah apa pun itu yang ada di hadapan nanti.
***