Harga Mati

1652 Kata
Sesampainya di Jember, seorang pemuda menunggu kami di depan stasiun. Kata Baim, Johan, namanya. Sahabat mereka satu lagi, si pemilik bengkel. Ini pertama kali aku bertemu dengannya setelah beberapa kali hanya mendengar lewat cerita Baim. Johan memberikan motornya untuk dipakai Baim dan aku. Sementara dia berboncengan dengan Fikri. Begitu melihat pagar rumah dari jarak beberapa meter, jantungku mulai berdentam-dentam tak karuan. Tak peduli berapa banyak aku menghirup udara dan mengembuskannya, tetap saja aku tidak bisa merasa tenang. "Yakin kamu mau masuk, Fik?" tanya Johan yang sudah duduk kembali di atas motornya. Fikri mengangguk tanpa ragu. "Aku diajari untuk bertanggung jawab sama orang tuaku." Dia menepuk pelan pundak Johan. "Ya udah, good luck ya. Kalian utang cerita sama aku." Johan menunjuk Baim dan Fikri bergantian. "Suwun yo, bro." Baim mengucapkan terima kasih sebelum Johan melajukan motornya meninggalkan rumahku. "Ayo," ajak Baim. Karena aku tak kunjung bergerak dari tempatku berdiri, Baim menggandengku sedikit menyeret. "Ada tamu," desisku karena melihat mobil terparkir di depan rumah. "Iya, Papa sama Mama," sahut Baim yang berhasil membuatku terbeliak. "Mereka tahu?" Sekarang perutku terasa mulas mendadak. "Menurutmu?" Baim melempar balik pertanyaan. "Hubungan kita nggak sesimpel itu, Fi. Keluarga udah terlibat. Dan untuk masalah ini pun nggak bisa hanya kita yang menyelesaikan. Itulah gunanya berpikir sebelum berbuat." Tiba-tiba saja ekspresi Baim berubah menjadi kesal. Aku menelan ludah dengan susah payah, sebelum akhirnya mengikutinya melangkah masuk rumah. Fikri mengiringi kami dalam diam. Entah sekacau apa perasaan dan pikirannya sekarang. Semoga aku masih punya kesempatan untuk minta maaf padanya nanti. Aku meremas tangan Baim. "Aku takut, Kak." Baim tidak merespon kata-kataku, tapi genggamanku dibalasnya. Begitu saja sudah berhasil membuatku merasa tidak sendirian meski tak membuat tenang. Begitu Baim mengucapkan salam, semua mata di ruang tamu tertuju pada kami. Aku menunduk, tak berani membalas tatapan-tatapan yang seolah-olah bisa mengulitiku, terutama sorot mata Ayah. "Ya Allah, Sofia." Ibu langsung menyambutku dengan tangisan dan pelukan erat. Begitu dalam dekapannya, pertahananku jebol. Air mata yang sedari tadi kutahan, keluar juga. Tapi ini bukanlah waktunya bersembunyi di balik ketiak Ibu. Karena rengkuhan itu mau tak mau harus kulepaskan dan aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan. Tentu saja di hadapan semua orang ini. Rasanya aku tak punya muka saat harus menyapa dan bersalaman dengan orang tua Baim. Malu luar biasa. Dan aku seketika tersadar, entah seperti apa hancurnya perasaan ayah atas perlakuan anak perempuannya. "Fik, kenapa ada di sini?" Aku bisa menangkap nada terkejut dari suara Mama Baim. Fikri menyalami kedua orang tua Baim. "Apa kabar, Ma, Pa?" Lihatlah, dia bahkan memanggil Mama dan Papa pada orang tua Baim. Apa yang akan dikatakan mereka jika tahu apa yang telah terjadi. Calon menantu dan sahabat anak mereka saling mencintai. Astaga! Aku tak bisa membayangkannya. "Lho, Dek Rahmi kenal?" tanya Ibu keheranan. Bude Rahmi mengangguk mantap. "Fikri ini teman baiknya Baim. Sudah seperti anak sendiri. Sebenarnya ada apa ini?" Mama Baim bingung beberapa wajah di hadapannya, mencari jawaban. "Duduk dulu, biar Baim jelasin," pinta Baim dan kami semua duduk dalam diam. Sementara aku menunduk dalam. Merasakan debar-debar dalam d**a seperti orang yang hendak dieksekusi mati. Nasibku bergantung pada apa yang akan Baim katakan. Baim menghela napas panjang sebelum mulai bicara. "Sofia sudah cerita semua sama Baim, Pakde. Sejak awal Baim sudah tau kalau Sofia pernah dekat dengan seseorang." Kata pembuka Baim berhasil membuat ayah terkejut. Tidak lama, lalu wajah ayah kembali datar. "Tapi Baim nggak tahu kalau lelaki yang Sofia maksud adalah Fikri. Fikri ini sahabat Baim, tapi dia juga baru tahu kalau Baim dan Fia tunangan karena Baim nggak pernah cerita," lanjutnya. "Baim terima Fia karena dia janji bakal belajar buka hati untuk Baim, tapi kalau ternyata perasaan Fia nggak berubah ke Fikri, itu sudah di luar prediksi." Baim diam seolah memberi kesempatan untuk Ayah mungkin akan bicara. "Lalu?" tanya Ayah. "Baim kenal Fikri dengan baik dan bisa menjamin kalau Pakde menerima Fikri ...." "Tidak," potong Ayah tegas. "Kalau kamu mau memutuskan hubungan dengan Sofia, saya terima. Tapi saya tidak akan menerima Fikri apa pun alasannya." Sama sekali tak ada keraguan dalam kata-kata Ayah. "Tapi, Pakde ...." "Im," sela Papa Baim. "Fokus saja dengan urusanmu dan Sofia dulu. Selesaikan satu-satu." Baim seketika terdiam. Aku memejamkan mata sejenak, berharap air mata yang sudah menganak-sungai di wajah ini bisa berhenti. Tapi toh sia-sia. Meski sudah dihapus, wajahku tetap saja basah. "Boleh saya bicara sebentar?" tanya Fikri. "Agar saya bisa segera pergi dari sini dan kalian bisa menyelesaikan masalah keluarga ini tanpa terganggu dengan kehadiran saya," pintanya dan Papa Baim menyilakan. "Saya minta maaf kalau jadi penyebab kekacauan ini. Saya datang ke sini bukan untuk minta Baim membujuk Ayah Sofia agar menerima saya. Sama sekali bukan. Saya cuma mau orang tua Sofia tahu kalau Sofia pergi dari rumah bukan karena ajakan saya tapi karena keinginannya sendiri," ucapnya dengan tenang tapi penuh penekanan. "Saya bukan anak yang tidak punya aturan dan orang tua saya mengajarkan saya untuk bertanggung jawab atas segala tindakan yang saya lakukan. Karena itu saya ada di sini." Fikri menghela napas pelan. "Kedatangan saya kemarin adalah kesalahan. Saya minta maaf," lanjutnya. "Saya minta maaf pada orang tua Sofia juga pada keluarga Baim karena sudah mengacau. Saya tidak mau merusak hubungan yang sudah terjalin ini. Saya benar-benar minta maaf, Pakde." Fikri menatap Ayah menunggu respon atas pernyataannya. "Saya juga minta maaf." Ayah berdeham pelan. "Kemarin saya panik karena Sofia tidak ada sehingga mengucapkan kata-k********r yang tidak semestinya." Ayah sama sekali tidak menunjukkan ekspresi ramah pada Fikri meski ucapan permintaan maafnya terdengar tulus. "Tapi keputusan saya tetap tidak akan berubah," putusnya kemudian. "Saya mengerti," sahut Fikri. "Itu hak Pakde atas Sofia. Saya cuma mau meluruskan tuduhan Pakde atas saya. Dan saya rasa semua sudah jelas." Fikri diam sebentar. "Kalau begitu saya permisi." Lalu dia berdiri. Aku menatapnya dengan pandangan mengabur. Siapa tahu setelah ini aku tak bisa melihatnya lagi. Aku tahu ayah tak akan membiarkanku keluar rumah lagi setelah ini terlepas dari pernikahan ini akan terjadi atau tidak. Aku pasti akan jadi tawanan rumah setelahnya. Sebelum keluar, Fikri sempat menatapku sebentar lalu dia menghilang dari balik pintu tanpa berkata sepatah kata lagi. Selesai sudah. Kisahku dengannya sudah tak ada harapan. Sesaat suasana ruangan ini menjadi hening. Semua terpekur dengan pikiran masing-masing. "Seumur hidup belum pernah saya semalu ini," ucap Ayah memecah keheningan. "Saya minta maaf atas perbuatan putri saya. Kalau kalian ingin membatalkan hubungan ini, saya terima dengan lapang dada." Kali ini Papa Baim menghela napas panjang. "Tidak ada hubungan yang berjalan lancar, Mas. Selalu ada saja kerikil yang menghadang," sahut pria itu bijak. "Masalah ini, saya tidak akan memutuskannya sendiri. Sejak awal saya tidak memaksa Baim untuk berjodoh dengan Sofia. Sekarang pun saya juga tidak akan memaksa. Terserah pada yang mau menjalaninya." "Saya paham," balas Ayah dengan kepala sedikit tertunduk. "Silakan, Im." Menyakitkan rasanya melihat Ayah tak berani mengangkat wajah. Aku kembali memejamkan mata berharap mendengar jawaban terbaik dari Baim. Selesai. Itu adalah yang kuharapkan. Untuk apa terus berjalan jika tak bisa beriringan. Hatiku sedang tak ingin dihuni orang baru sekarang. Untuk beberapa saat masih tak ada jawaban dari Baim. Semua terdiam, aku menunggu. Karena merasa terlalu lama, aku membuka mata untuk melihatnya. Ternyata dia sedang menatapku lekat. "Ayo, kita lanjutkan," ucapnya membuatku tersentak. Dia memutus pandangan, beralih pada Ayah. "Baim terima Sofia, Pakde. Pertunangan ini tidak akan diputuskan." Aku terbeliak tak percaya. Ingin protes, Ibu meremas tanganku pelan. "Diam, Nduk," perintahnya. Aku hendak mengabaikan kata-kata Ibu. Kenapa aku tak diberi kesempatan untuk bicara? Setidaknya tanya keputusanku. Bukankah ini hidupku? Baru saja bibirku bergerak, remasan tangan Ibu menguat. "Kamu yakin, Im?" tanya Bude Rahmi memastikan. Baim mengangguk. "Iya, Ma," sahutnya mantap. Aku benar-benar tak mengerti apa yang dia pikirkan. Bude Rahmi kemudian terdiam, seolah tidak mempermasalahkan keputusan anaknya. "Baiklah." Ayah bersuara lagi. "Kalau memang kamu yakin akan tetap menikahi Sofia, saya mau pernikahannya diadakan Minggu depan." Satu lagi keputusan di luar logika! "Kalau kamu keberatan, saya tidak masalah. Carilah perempuan yang lebih baik dari Sofia. Kamu pantas mendapatkannya." Ayah menatap lurus pada Baim, menunggu tanggapan. "Baik." Lagi-lagi tak ada keraguan dari jawabannya. "Saya nggak masalah." Aku berdiri, tanpa berkata-kata memilih meninggalkan ruangan itu. Untuk apa terus berada di sana kalau ada aku atau tidak, keputusan hidupku tetap di tangan mereka. Aku ini apa? Boneka?! Aku masuk ke kamar, menutup pintu dengan kasar. Kalau tak ingat punya tetangga dan tak ingat sudah membuat malu ayah, aku pasti sudah berteriak hingga puas sekarang. Tapi yang bisa kulakukan hanya membekap wajah dengan bantal agar tangisku tak terdengar keluar. Aku masih menangis hingga kehabisan napas lalu menghela udara dengan rakus. Duduk di lantai dengan punggung bersandar pada ranjang dan bantal di pelukan. Aku terdiam dengan sisa-sisa isakan. Saat pintu kamar diketuk seseorang dari luar, aku bergeming. Tak menyahut, tak juga mengijinkan siapapun itu untuk masuk. Toh, pintu tetap saja dibuka setelahnya. "Bicaralah, Bude tunggu di sini." Itu suara Ibu. Tak lama Baim muncul dari balik pintu, menatapku dengan sorot mata entah apa artinya. Untuk pertama kalinya aku balas menatapnya dengan perasaan benci luar biasa. Dia punya kuasa untuk pergi, tapi memilih bertahan. Entah apa maksudnya. Baim melangkah mendekat lalu berjongkok dengan lutut bertumpu pada lantai, tepat di hadapanku. "Aku tau bukan ini yang kamu mau," ucapnya sambil menatapku lekat. "Tapi percayalah, ini satu-satunya jalan terbaik buat kita. Terutama buat kamu." Dia mengelus kepalaku lembut lalu berdiri. Sebelum Baim keluar, aku memanggilnya. Dia berhenti, menunggu. "Ini hidupku, tapi aku nggak dikasi kesempatan untuk bicara. Aku bahkan nggak ditanya maunya apa." Air mata yang menetes di pipi, kuhapus kasar. "Oke, ayo kita menikah. Lalu kita lihat nanti apa yang akan terjadi." Baim tertegun menatapku. "Sampai ketemu Minggu depan, Kak Baim." Aku tersenyum tipis yang mungkin terlihat sinis. "Sekarang, keluar," ucapku datar. Aku tahu Baim terkejut melihat sikapku, tapi aku tak peduli. Dia tak berkata apa-apa, memilih keluar kamar. Ayah boleh menguasai hidupku, tapi aku penguasa penuh atas hatiku. Aku yang menentukan akan mencintai siapa, bukan Ayah. Jika Ayah menginginkan aku menikah, baiklah. Tapi aku tak akan pernah mencintai Baim sampai kapanpun. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN