Malang, 2018
Hari itu, aku tak langsung masuk ke rumah mertua. Berdiam sebentar di luar sembari melatih wajah untuk tersenyum manis ketika masuk nantinya. Memastikan pula tak ada sisa-sisa tangis yang bisa terlihat. Lalu setelah berhasil hingga berada di kamar, aku langsung mengirimkan pesan pada Baim yang isinya :
'Aku mau pulang hari ini ke Malang atau aku nggak jamin bisa terus bersandiwara di depan Mama Papa.'
Dan dia mengabulkan.
Pernikahan ini jauh dari kisah indah layaknya cerita fiksi yang sering k****a atau drama yang kerap kutonton serialnya. Jauuuh bahkan terkadang aku muak menjalaninya. Tapi aku tak pernah sedikitpun lupa untuk menjaga harga diri lelaki yang kusebut suami itu. Setidaknya, aku masih bisa bersandiwara di hadapan para orang tua agar terlihat bahwa kami baik-baik saja. Masih memfilter curhatan-curhatan yang kugelontorkan pada Kak Mia. Masih tahu caranya membawa diri di hadapan orang-orang yang dia kenal. Berbicara senormal mungkin dengannya agar harga dirinya tetap terjaga.
Sudah pernahkah aku bilang, kalau dia lelaki baik yang cukup romantis? Lelaki yang mungkin diidam-idamkan oleh banyak perempuan untuk dijadikan imam. Lelaki yang sebenarnya dulu pernah membuatku jatuh hati begitu dalam. Tapi kini aku membencinya. Bukan karena sudah ada seseorang yang kucintai, tapi lebih karena ketika aku tak memiliki pilihan, dia punya kesempatan yang sangat besar untuk membebaskanku. Sayangnya, dia melepas peluang itu dan membuatku terjebak di sini.
Sejak kembali ke Malang, bisa dibilang hubungan kami tak kembali baik-baik saja seperti sebelumnya. Meski beberapa hari setelah dari Surabaya, kebekuan antara aku dan Baim pelan-pelan mencair begitu saja dengan sendirinya. Tak ada obrolan khusus untuk mengurai sisa-sisa masalah. Tak ada pula ucapan permintaan maaf untuk menghapus rasa sakit di d**a masing-masing. Pokoknya, tahu-tahu kami bersikap kembali normal--yang tak bisa disebut benar-benar normal juga. Intinya kami sudah berbaikan.
Aku sedang menatap layar ponsel yang berisi pesan dari Baim. Isinya, 'Sabtu besok anak Marko ulang tahun. Dikasi kado apa ya?'
Marko, teman kerja Baim sekaligus teman satu kontrakan di sini dulu. Sebelum Baim menikah, Marko tinggal di sini juga. Dia pindah setelah mendapat rumah sendiri dan bisa memboyong keluarga kecilnya. Saat aku kabur ke sini dulu, Marko sudah tidak ada. Jadi, aku baru benar-benar mengenalkan setelah resmi menjadi istri Baim.
'Dia suka apa?' balasku.
'Kalo aku tanya bapaknya, ntar dia ngelunjak nyebut yang aneh-aneh dan mahal-mahal.'
Aku tersenyum tipis membaca pesan itu lalu mulai berpikir kado apa yang cocok untuk anak laki-laki usia dua atau tiga tahun? Aku tak tahu pasti usianya, ya sekitar itulah.
'Beli mainan aja.'
'Iya, nanti kamu aja yang pilih.'
'Mau beli kapan?'
'Nanti?'
'Oke.'
Jika sudah begini aku tak perlu repot memasak. Kami bisa makan di luar sekalian. Syukurnya meski anak mama, Baim bisa makan semua. Tak harus makanan rumahan.
Kami sepakat akan pergi ke toko mainan setelah makan malam di luar. Sepanjang melahap lalapannya tadi, Baim bilang lebih baik jangan beli mainan. Khawatir apa yang kami beli ternyata Jeski sudah punya. Setengah memaksa, aku menyuruhnya menghubungi Marko untuk bertanya kesukaan anaknya.
"Spiderman," kata Baim seusai menelepon Marko. Kami berjalan beriringan di mall masih belum tahu akan menuju ke mana.
"Kalau kostum gimana?" saranku. "Coba tanya dulu, Jeski udah punya belum. Biar nggak mubazir."
Kali ini tak perlu memaksa seperti sebelumnya, Baim langsung mengirimkan pesan. Kami memutuskan langsung menuju toko pakaian anak-anak sambil melihat-lihat selama menunggu jawaban Marko.
"Lucu, ya." Baim berhenti di depan rak gantung baju balita perempuan. Segala jenis dress anak-anak tergantung di sana. Dia tersenyum, menyentuh salah satu baju itu. "Semoga ntar punya anak cewek dulu. Pasti lucu, pakai baju ala princess gini."
Aku pura-pura tak dengar, memilih melihat-lihat ke tempat pakaian anak laki-laki.
"Belum punya, kata Marko." Tiba-tiba Baim sudah berdiri di sebelahku, meninggalkan gantungan baju-baju perempuan tadi.
Tak menunda, aku langsung bertanya pada pramuniaga. Agar tak perlu berlama-lama di sini lalu membuat Baim mengkhayal lebih tentang memiliki momongan. Aku bukan tak menyukai anak-anak, aku hanya belum ingin memilikinya.
Beruntung, kostum yang kami cari tersedia. Jadi, kami bisa langsung membayar bahkan meminta pihak toko untuk membungkusnya dengan kertas kado. Ada rasa lega menjalar saat kami melangkah keluar meninggalkan toko itu.
"Mau langsung pulang?" tanyaku. Tak ada lagi yang ingin kubeli. Aku juga sedang malas hanya sekadar berkeliling memutari pusat perbelanjaan ini.
"Kalau ke rumah Marko gimana? Ngasi kadonya."
Aku mengernyit. "Bukannya ulang tahun masih hari Sabtu?"
"Ulang tahunnya besok, tapi pestanya diadakan Sabtu biar pas libur kerja," sahut Baim sembari menggandengku. "Kita kan belum punya anak, nggak harus datang ke pesta juga," gumamnya kemudian.
Ah, begitu rupanya.
"Ya, udah. Ayo." Lebih baik memang tak hadir di acara yang banyak anak-anaknya. Aku malas kalau nanti harus ditanya-tanya sudah hamil atau belum. Lalu Baim akan membahas tak ada habisnya.
Rumah Marko berada di daerah perkampungan. Tak besar, tapi nyaman. Bagian yang paling kusukai adalah halaman kecil di depan. Ada kolam ikan minimalis dan taman yang begitu cantik dibangun di sana. Aku bukan pecinta tanaman, karenanya tak satu pot pun ada di rumah. Tapi aku tak menolak menikmati keindahan hijaunya dedaunan dan bunga berwarna-warni.
Marko dan Maria menyambut kami dengan hebohnya. Mereka benar-benar pasangan klop dan ramai. Keduanya hobi bercanda. Saat pertama mengenal dulu, aku merasa seperti teman lama yang baru bertemu. Tak ada rasa canggung, tak ada cerita tak nyambung. Bahkan topik pembicaraan seperti tak ada habisnya.
"Kasi tau dokter kandungan langganan Maria, dong," celetuk Baim setelah kami mengobrol santai ke sana ke mari.
Aku mengeluh dalan hati. Kenapa juga dia harus berkata begitu.
"Oh, ada," sahut Maria. "Nanti aku kasi tau. Mau promil?" tanyanya antusias.
"Dulu Maria sebulan setelah nikah langsung jadi," timpal Marko. "Punyamu yakin ada isinya, Im? Nggak encer?"
"Sialan," maki Baim, tapi tak terlihat tanda-tanda dia tersinggung dengan olokan temannya itu.
Aku yang tak suka orang lain menjadikan kami lelucon karena aku belum juga hamil.
Sementara Maria langsung memukul bahu suaminya. "Hush!" tegurnya lengkap dengan pelototan, tapi Marko malah cengengesan.
"Jangan diambil hati, ya, Fi," ujar Maria padaku. Mungkin dia bisa melihat perubahan ekspresi wajahku. "Mereka berdua biasa bercanda."
Aku memaksakan diri untuk tersenyum.
"Masuk, yuk," ajak Maria. "Sekalian ngecek Jeski." Dia mengulurkan tangan, aku menyambutnya lalu kami masuk bersama-sama.
Jeski sedang asyik bertelungkup di depan televisi menonton serial anak-anak. Dia masih memakai kostum Spider-Man pemberian Baim tadi. Begitu kami menyerahkan kado itu, langsung dibongkarnya lalu dipakai sambil berlonjak kegirangan. Mengingat momen itu, seulas senyum tersungging di bibirku.
"Kamu nggak pakai a**************i, kan?" Pertanyaan Maria mengalihkan perhatianku dari Jeski.
Aku menggeleng lalu mendekat saat dia menepuk sofa tempatnya duduk. Kami berada di ruang tengah sekarang. Menerima bocah tiga tahun menonton televisi.
"Nggak langsung hamil bukan berarti bermasalah, kok. Bisa juga karena stres, jadi kualitas reproduksi kita menurun," jelas Maria. "Coba cari waktu buat quality time, Fi."
Aku diam. Aku tahu betul hal-hal yang Maria katakan itu. Stres memang bisa jadi pemicu. Terlebih hubunganku dengan Baim bisa dibilang lebih sering tak harmonis.
"Pernah hitung masa subur?" Maria tampaknya masih bersemangat memberi informasi. Sementara aku sama sekali tak antusias, tak berminat. Atau lebih tepatnya belum berminat.
Aku menggeleng lagi. "Aku nggak ngerti hitungannya. Siklus bulananku kadang tepat, kadang nggak."
Dia mengangguk-angguk. "Biasanya perlu catat siklus tiga bulan terakhir. Coba konsul aja nggak apa-apa, kok. Kayaknya Baim udah ngebet. Dulu sebelum nikah dia suka nongkrong di sini kalau weekend, main sama Jeski." Dia tersenyum kecil. "Dia tuh family man banget, Fi. Pasti bisa jadi ayah yang baik."
Aku tak tahu harus menanggapi perkataan Maria itu bagaimana. Jadi lagi-lagi aku hanya tersenyum saja. Dia benar dan aku tak akan meragukan kalau Baim akan menjadi ayah yang hebat. Masalahnya memang bukan pada Baim, tapi padaku. Aku hanya belum siap.
Obrolan mengenai kehamilan berlanjut dengan Maria bercerita pengalamannya mengandung anak pertama. Aku hanya mendengar tanpa menyela. Tak tertarik bertanya-tanya juga. Untuk apa? Nanti saja kucari tahu banyak hal kalau memang sudah ingin ada kehidupan tumbuh dalam diriku. Sekarang belum perlu.
Hampir jam sembilan malam, Baim baru mengajakku pulang. Sepanjang perjalanan aku cuma diam. Entah kenapa kata-kata Marko tadi menancap dalam di hatiku. Rasa kesalnya tak hilang-hilang juga.
"Kenapa sih harus nanya soal dokter segala?" Akhirnya aku tak tahan juga menyimpannya.
Baim mengernyit, mungkin dia heran dengan nada ketusku.
"Kenapa memangnya?"
"Nggak usahlah nanya-nanya! Dokter kan banyak," dumelku makin kesal. "Aku nggak suka sama omongan Marko tadi."
Baim berdecak. "Kamu kayaknya mulai kehilangan selera humor. Dia cuma bercanda," belanya.
"Bercanda seperti itu nggak sopan." Aku masih tak mau kalah.
"Terselahlah, Fi. Terserah. Diajak keluar biar nggak bosen, biar seneng, malah marah-marah." Dia balik mengomel.
Aku mengerucutkan bibir, menekuk muka, lalu melipat kedua tangan di d**a.
"Jadi siapa dokternya? Maria ngasi tau?" tanyanya setelah kami diam sebentar.
"Nggak tau, aku nggak ingat," jawabku acuh tak acuh. "Dan nggak minat."
Dia mengembuskan napas kasar, terlihat kesal, tapi tak berkata apa-apa.
"Aku bukan mesin penghasil anak. Jadi nggak perlu buru-buru. Tunggu aja, nanti juga ada hasilnya." Aku kembali mengoceh karena merasa belum puas melampiaskan rasa kesal.
"Gimana bisa ada hasilnya kalau tiap habis melakukannya, kamu cepat-cepat ke kamar mandi. Kamu sengaja emang, kan," tuduhnya keterlaluan.
Aku menoleh cepat, menatapnya dengan marah. "Ya udah, bikin anak aja sama orang lain sana!"
Dia balas menoleh. "Astaghfirullah," ucapnya lalu kembali melihat ke depan. "Kamu nyuruh aku zina, Fi? Atau ...." Dia menggantung ucapannya sebentar, "nikah lagi?"
Aku spontan memukul bahunya. Dia mengaduh sembari mengelus bekas pukulanku lalu tertawa.
Aku membuang muka, melihat keluar jendela. Tawanya itu terdengar sangat menyebalkan.
"Beneran boleh bikin sama yang lain?"
"Tauk!" sahutku galak tanpa menoleh.
Dia tertawa lagi lalu kurasakan elusan di kepalaku. Ajaibnya rasa kesal yang tadinya menyesaki hatiku sedikit memudar.
***