Pagi-pagi, aku dan Baim berangkat menuju villa di Batu. Kami menyusul Tante Yuli yang sedang berlibur di sana. Karena keterbatasan waktu setelah meninjau kampus untuk Raka, Tante sekeluarga tak mampir ke rumah. Karenanya kami yang mendatangi mereka. Rencananya Tante Yuli akan menginap semalam, besok langsung kembali ke Banyuwangi.
Rasanya sudah lama sekali aku tak mengobrol dan tertawa selepas ini. Bertemu dengan Raka dan adik ibuku itu, Sofia yang dulu seperti muncul kembali. Kekonyolan Raka dan sikap teduh Tante membuatku merasa begitu nyaman dan senang. Sesaat segala beban seperti bisa kuempaskan dari pikiran.
Para lelaki sedang melanjutkan membakar sisa jagung. Sementara aku membantu Tante membawa peralatan kotor ke dalam untuk kemudian dicuci.
"Gimana, sih, ceritanya Fikri bisa ke rumah, Fi? Tante nggak jelas dengar ceritanya dari ibu kamu."
Pertanyaan Tante Yuli berhasil membuat gerakan tanganku yang sedang menggosok piring kotor seketika melambat. Sejak bertemu tadi, aku sudah menahan mulut agar tak bercerita apapun atau mengeluh tentang perasaanku. Eh, ternyata malah Tante mengorek informasi.
Aku memilih menyelesaikan mencuci piring yang tersisa satu lagi. Setelah mengeringkan tangan, aku memberi isyarat pada Tante agar ikut duduk di meja makan.
"Fia yang suruh dia datang."
Tante mengernyit. "Kok bisa? Memangnya kalian masih jalin komunikasi?"
Tante Yuli memang tidak tahu kalau Fikri kembali bekerja di cabang Banyuwangi. Terakhir aku bercerita saat Fikri mengakhiri hubungan kami dan setau Tante pemuda itu berada di Jember.
"Dia mutasi ke Banyuwangi lagi. Terus kantornya kerjasama dengan kantor Bu Rossi. Jadi kami sering ketemu, Tan."
Tante Yuli membulatkan bibirnya membentuk huruf o. "Jadi kamu balikan diam-diam?"
Aku menggeleng cepat. "Justru waktu ketemu lagi, dia cuek banget, Tan. Seolah-olah nggak kenal," jelasku sembari mengingat serentetan peristiwa di masa lalu. "Makanya waktu itu Fia setuju saat ayah dan ibu ngomongin soal perjodohan."
"Terus?"
Aku mengedikkan bahu, melempar pandangan pada piring-piring basah yang tertelungkup di rak plastik. "Ternyata nggak semudah yang Fia bayangkan. Fia kira bakal bisa lupain Fikri dan buka hati buat Kak Baim. Ternyata Fia salah," jelasku.
"Waktu itu Baim sudah tahu?"
Aku mengangguk. "Sejak awal Fia jujur. Cuma ya mana nyangka kalau ternyata mereka saling kenal dan sahabatan. Sebelum ketahuan kalau mereka temenan, Fikri seperti mau deketin Fia lagi."
Tante mengangguk-angguk. "Karena itu kamu galau?"
Aku mengiyakan. "Saat itu Fia cari cara biar bisa pulang bareng lagi dan saat pulang bareng itu kami banyak ngobrol." Aku menghela napas pelan lalu melanjutkan, "Setelah sampai rumah, Fia ngerasa hampa. Dan Fia akui pada ibu kalo ada cowok lain, ternyata ayah dengar."
Aku bisa merasakan mataku memanas. Mungkin Tante Yuli menangkap kaca-kaca di mataku karena dia tiba-tiba meraih tanganku lalu menepuk-nepuk pelan. Rasanya seperti ada aliran kekuatan yang menjalar dari hangatnya genggaman tangan Tante Yuli.
"Ayah yang minta Fikri datang." Aku berhenti sebentar karena tangis mulai memenggal suaraku. "Fia pikir ada harapan, ternyata ayah cuma mau menjatuhkan Fikri aja. Itu yang bikin Fia nelangsa banget, Tan."
Genggaman Tante terasa mengerat. "Tante mengerti perasaanmu," ucapnya lembut. "Tapi Tante juga paham perasaan orang tuamu."
Aku menunduk. Aku juga mengerti bahwa orang tuaku menginginkan yang terbaik. Tapi pilihanku juga tak buruk. Hanya saja aku tak pernah diberi kesempatan. Hanya pandangan orang tua yang dianggap benar, sedangkan anak dianggap tak tahu apa-apa.
"Gimana hubunganmu dengan Baim?"
Aku hanya sanggup menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu. Apa yang harus aku jabarkan? Pertengkaran-pertengkaran kami?
Tante menghela napas. "Cobalah berdamai dengan hatimu, Fi," sarannya. "Tante yakin Baim bisa bikin kamu bahagia."
Aku melepaskan genggaman Tante, mengusap mataku yang basah. "Entahlah, Tan," sahutku. "Rasanya ini sangat berat."
"Mungkin nanti kalau sudah punya anak ...."
"Nggak," potongku cepat. "Fia sangat nggak mengharapkan kehadiran anak. Nggak sekarang, entah kapan."
Perempuan di hadapanku ini sedikit terkejut. "Kalian sepakat menunda?"
Aku menggeleng. "Baim udah pengen, Fia yang belum mau."
"Terus Baim nggak keberatan?"
Aku diam. Bukankah aku tak pernah menyampaikan secara gamblang kalau aku belum mau punya anak dulu. Tuduhan-tuduhan Baim selama ini terkesan bahwa dia sendiri ragu-ragu.
"Dia nggak tahu. Cuma beberapa kali kami ribut soal ini," jawabku kemudian. "Fia nggak mau perasaan terjebak dalam pernikahan ini jadi semakin buruk kalau ada anak," akuku dengan jujur. Aku tak bisa bercerita pada ibu tentang semua ini karena pasti akan disalahkan. Tidak juga pada Kak Mia, karena aku merasa tak cukup nyaman. Dan sekarang rasanya dadaku sedikit lega bisa membagi apa yang kusimpan sendirian selama ini. Tante Yuli selalu bisa kuandalkan menjadi pendengar tanpa menjadi seorang hakim.
Tante menghela napas lagi. Aku tahu ini sama sekali bukanlah cerita ringan yang cocok untuk pertemuan singkat. Seharusnya kami bercerita yang membikin hati senang saja. Bukan obrolan berat seperti ini.
"Kamu nggak KB?" Pertanyaan itu membuatku terkejut.
Aku menggeleng.
"Kalau memang niat menunda, lebih baik pakai kontrasepsi aja. Daripada tahu-tahu hamil malah bikin makin runyam, kan."
Ah, aku tak pernah berpikir sejauh itu. Selama ini aku hanya terus berdoa dan berharap siklus bulananku tetap datang setiap bulannya. Dan hingga hari ini harapan itu masih terkabulkan.
"Baim nggak akan setuju, Tan. Malah dia mau ngajak promil ke dokter." Aku tercenung sebentar. "Apa diam-diam aja, ya?"
Sebenarnya ini ide gila yang terbersit begitu saja.
"Ya, kamu yang lebih tahu mana baiknya," timpal Tante sekaligus sebagai penutup obrolan kami.
Malamnya, Baim mengajak langsung pulang. Meski Tante Yuli menawarkan menginap karena memang masih ada satu kamar kosong lagi, tapi Baim menolak. Karena besok pagi dia sudah harus bekerja. Dan aku setuju saja. Lebih baik perjalanan malam daripada harus kejar-kejaran waktu di pagi hari. Sudah cukup sekali saja waktu kami liburan ke Omah Kayu waktu itu.
Selama di perjalanan pulang, Baim tak banyak bicara. Dia fokus pada jalanan, sedangkan aku fokus memikirkan tentang penundaan hamil yang sempat kubahas dengan Tante tadi. Bagaimana caranya menunda diam-diam? Mungkin aku bisa mencari tahu terlebih dahulu di internet. Jika memang perlu, aku bisa berkonsultasi dengan bidan yang praktek di perumahan kami saat Baim bekerja nanti.
Memikirkannya saja adrenalinku terpacu dengan hebatnya. Jelas ini bukan hal baik yang akan kulakukan. Entah apa yang akan terjadi jika ketahuan. Belum-belum rasa was-was sudah menggerogotiku.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri lalu masuk kamar. Baru beberapa langkah menjauhi pintu kamar, Baim menyusul masuk. Dan aku terkejut ketika dia tiba-tiba memeluk dari belakang.
Tubuhku sontak menegang saat dia menyingkirkan rambut dari bahuku. Bibirnya mulai menjelajah. Sementara tangannya sudah menyusup di balik kausku. Aku berusaha menahan tangan itu agar tak semakin liar.
"Kak," tegurku. "Nggak capek ya abis nyetir? Besok harus kerja pagi." Aku berusaha menolak dengan halus, tapi Baim mengabaikannya. Dia sama sekali tak berhenti.
Rengkuhan Baim pada tubuhku semakin merapat seiring dengan sentuhannya yang makin intens. Aku masih berusaha melepaskan diri, meski jelas kalah tenaga darinya.
"Aku capek, Kak. Please," ucapku setengah memohon, tapi tetap tak ada tanggapan darinya.
Ketika tangannya mulai menelusup ke balik pakaian dalamku, aku menepisnya. "Stop!"
Dia sontak mengendurkan pelukan dan tak membuang kesempatan, aku segera melepaskan diri. Berbalik agak menjauh agar bisa berdiri berhadapan dengannya. Kutatap dia dengan napas tersengal-sengal, efek dari perpaduan gejolak emosi dan adrenalin.
Aku tak bisa menguraikan dengan pasti seperti apa ekspresi Baim sekarang. Yang jelas ada gurat keterkejutan di wajahnya. Mungkin dia tak pernah mengira kalau aku akan menolak. Bagaimanapun perlakuannya membuatku tak nyaman. Selama ini dia tak pernah se-frontal ini. Biasanya dia selalu membujuk dengan lembut, bukan ujug-ujug begitu.
"Aku capek," ulangku, tapi dia cuma diam.
Dia hanya menatapku dengan sorot mata yang tak kupahami menyimpan rasa apa di balik manik hitam itu. Kemudian dia meninggalkan kamar masih dengan mulut terkatup rapat.
Aku terduduk di sisi ranjang begitu pintu kamar ditutupnya. Tubuhku sedikit gemetar dengan perasaan kacau balau.
Ada apa dengannya?
***