Berminggu-minggu setelah malam itu, sikap Baim berubah menjadi dingin. Dia masih menyentuhku, tapi tak sesering sebelumnya. Tak ada lagi kehangatan yang terpancar dari sorot matanya. Dulu hubungan kami sudah tak hangat, sekarang jadi berjarak.
Dan tiap kali aku ingin meminta maaf, kata-kata maaf itu hanya berhenti di ujung lidah, selalu tak terucap. Entahlah kenapa begitu sulit sekali mengatakannya.
Akhir-akhir ini, Baim juga sering keluar rumah. Ada saja yang perlu dibeli, katanya. Kalau sesekali aku bilang ingin ikut, dia selalu mengatakan tak usah. Sudahlah aku belum betah tinggal di sini, sikapnya itu makin membuatku merasa sepi.
"Aku kangen Ibu," kataku di suatu petang.
Dia tak mengalihkan fokus dari ponselnya, tapi aku yakin dia mendengarkan.
"Ya, nanti. Kalau ada long weekend," sahutnya kemudian.
"Weekend besok gimana?" tanyaku. "Nginep sehari juga nggak apa-apa," tawarku setelahnya.
"Jangan besok, aku capek."
"Weekend-nya masih beberapa hari lagi, masa udah tahu kalau bakal capek dari sekarang?" kejarku. Jawabannya seperti dibuat-buat.
Dia tak menyahut, justru berdiri dari duduknya.
"Mau ke mana?" tanyaku heran.
"Cari angin." Jika sudah menjawab begitu, maka dia baru akan pulang satu hingga dua jam kemudian.
Mengesalkan!
Saat dia pulang, kami kebetulan berjalan berpapasan. Aku mencium aroma yang tak biasa. Kutahan tangannya agar berhenti berjalan kemudian mengendusnya sedikit.
"Kak Baim ngerokok?" Kuabaikan wajah tak nyamannya atas perlakuanku.
Dia mengernyit. "Tadi abis dari warung, banyak yang ngerokok." Dilepaskannya cekalan tanganku dari tangannya.
Aku tak menahan, kubiarkan dia masuk ke kamar mandi. Jika dia mengaku begitu, tak mungkin kupaksa memberi jawaban lain. Meski hati kecilku sedikit ragu. Aku sudah pernah melihatnya merokok sekali. Bukan tak mungkin sekarang dia melakukannya lagi.
Akhir pekan ini kami tak ke mana-mana. Baim sibuk kencan dengan mobilnya di bengkel. Sampai tengah hari kutanya dia pulang jam berapa. Katanya sebentar lagi, tapi nyatanya sampai langit hampir menggelap, suara mobilnya baru terdengar di depan rumah.
Dia cuma bilang harus antri, ada beberapa bagian dari mobil yang harus diservis lebih lama, dan sebagainya. Bahkan ketika aku menekuk muka sampai esok harinya, dia seperti membutakan mata. Ah, sudahlah. Lama-lama aku lelah. Merajuk, tapi tak digubris. Dan kekesalan hari itu mencair sendiri.
Minggu depannya, aku mencoba lagi. Mengajaknya pulang ke Jember, tapi lagi-lagi dia menolak. Okelah tak mengapa, kupikir bisa jalan-jalan saja di sekitar Malang. Yang penting aku tak melihat tembok rumah lagi, tembok rumah lagi.
"Aku mau servis motor, Fi. Minggu depan aja." Tanggapannya saat kucetuskan ide jalan-jalan itu.
Aku berusaha menabahkan diri untuk bicara sesantai mungkin. Kalau kami bertengkar, habis sudah kesempatan untuk pergi keluar.
"Di mana? Sini aku yang bawa motornya. Daripada aku bosan di rumah, biar aku yang servis," tawarku. "Jadi, weekend kita bisa keluar." Kupikir itu ide cukup brilian.
Sementara dia sama sekali tak berminat mengalihkan matanya dari layar televisi untuk meresponku.
"Kak," tegurku karena cukup lama tak ada tanggapan yang dia berikan.
Dia menghela napas. "Minggu depan aja," putusnya yang sungguh membuatku kesal setengah mati.
"Aku bosan di rumah!" Kali ini aku tak mau repot menjaga emosi lagi. "Kak Baim bisa pergi ke mana aja sesukanya, tapi aku nggak bisa. Aku pengen kerja, nggak boleh! Minta pulang sehari aja, sibuuuk terus." Kutatap dia dengan perasaan berapi-api siap adu mulut.
Namun, Baim hanya menatapku dengan ekspresi datar. "Ayo, besok keluar," ajaknya tiba-tiba.
Mataku melebar, perlahan rasa kesal seolah-olah menguap sedikit demi sedikit. "Beneran?" Nada bicaraku turun beberapa oktaf dibandingkan sebelumnya.
Baim mengangguk meski terlihat malas.
"Mau ke mana?" Aku tergoda juga untuk bertanya.
"Dokter kandungan," sahutnya enteng, tapi terasa seperti pukulan keras bagiku.
Aku diam beberapa saat. Dia juga diam, seolah-olah memang menunggu reaksiku.
Aku menghela napas berat lalu berdiri dan beranjak dari ruang tengah itu. Tanpa bicara sama sekali, aku berniat masuk ke kamar.
"Buat konsultasi," ucap Baim lagi dari arah belakangku. "Mau promil atau pilih kontrasepsi."
Langkahku seketika berhenti. Aku mematung, belum sanggup berbalik.
"Jangan seperti maling, melakukan sesuatu diam-diam," lanjutnya kemudian.
Aku tersentak hebat. Otakku berusaha mencerna apa maksudnya. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah dia pasti mendengar apa yang kubicarakan dengan Tante Yuli.
Aku berbalik menghadapnya. Dia masih memasang wajah sedatar tadi. Tak terlihat marah ataupun kesal. Mungkin beberapa minggu ini dia sudah melatih penguasaan diri untuk sampai pada pembicaraan malam ini.
"Apa maksudnya?" Aku berusaha keras bicara setenang mungkin untuk mengimbangi sikap datar Baim.
Dia tersenyum tipis, terlihat seperti sebuah ejekan di mataku. "Kamu tahu maksudku," sahutnya. "Aku menjijikkan, ya?"
Aku tertegun mendengar pertanyaannya itu. Bibirku bergerak hendak bicara, tapi kemudian kembali terkatup rapat karena tak tahu harus berkata apa. Pada akhirnya aku hanya bisa berdiri kaku tanpa menyahut apa-apa.
Baim membuang muka, memutus pandangan mata kami. "Lakukanlah apa yang kamu mau, Fi. Terserah," katanya lalu berdiri, meninggalkan ruang tengah. Langkahnya tertuju ke pintu keluar rumah.
Kakiku terasa lemas ketika akhirnya kuseret menuju sofa. Detak jantungku berdentam-dentam hebat. Sementara pikiranku terasa kosong.
Jika Baim menghadapi situasi ini dengan kemarahan, rasanya akan lebih mudah dihadapi. Tapi sikapnya ini justru membantingku jauh ke jurang rasa bersalah. Dan aku tak tahu harus berbuat apa.
Jadi, aku hanya duduk, diam, berpikir--tapi tak bisa karena kini kepalaku terasa penuh dengan entah apa. Terlalu banyak beban pikiran yang berkelindan dalam kepala. Hingga tanpa terasa tiba-tiba saja mataku sudah basah.
Aku masih duduk di tempat yang sama--sofa depan televisi--menunggu Baim pulang. Sementara jarum jam di dinding mulai merangkak menuju angka sebelas malam. Namun, belum ada tanda-tanda pintu rumah yang dia tutup tadi akan terbuka kembali. Aku pun belum tahu harus bagaimana nanti. Karena pada kenyataannya, rencana KB diam-diam itu belum juga kulakukan hingga sekarang.
Aku sudah menghela napas berulang kali, tapi rasa sesak di d**a tak juga berkurang. Seperti ada bongkahan batu besar mengganjal di sana.
Lelah menunggu, aku hampir tertidur saat mendengar suara kunci diputar. Mataku seketika terbuka lebar, ketika menoleh, benar Baim sudah pulang. Dia sama sekali tak melihatku saat berjalan menuju kamar. Aku beranjak lalu menyusulnya.
Entah dorongan dari mana, begitu berada di kamar, aku langsung menabrak tubuhnya dari belakang. Memeluk erat lalu menangis sejadi-jadinya bersandarkan pada punggung lebarnya. Bisa kurasakan tubuh Baim menegang, tapi dia cuma diam. Beruntung dekapanku tak dilepaskan.
"Aku nggak KB. Sumpah aku nggak KB," ucapku lirih di sela isakan. Setelah mengatakannya, sesak di dadaku perlahan berkurang. Menyimpan pengakuan inilah yang membuatku tersiksa sendiri sedari tadi.
Baim tetap diam, membiarkanku memeluknya hingga puas, hingga tangisku mereda, hingga lilitan tanganku di tubuhnya perlahan melonggar. Kemudian dilepaskannya dengan pelan tanganku dari dadanya.
Tanpa menoleh, dia berkata, "Terserah, Fi. Aku udah nggak peduli." Suaranya terdengar rendah dan lelah. Setelah mengatakan itu, dia beranjak menuju kamar mandi. Selanjutnya suara gemericik air yang terdengar.
Seperti orang linglung, aku bergerak menuju ranjang. Menjatuhkan tubuh di sana, merayap menyembunyikan diri di balik selimut. Lalu menangis lagi.
Dia sedang menghukumku. Ya, pasti dia sedang ingin menghukumku sekarang.
***