Sejak awal menikah, Baim selalu mencoba membuat hubungan kami senormal pasangan pada umumnya. Mengajak bicara, bercanda, dan mengobrol santai tiap sepulang kerja, meski reaksiku selalu sama, datar-datar saja. Dia juga menepati janjinya untuk sering-sering mengajakku bepergian seperti yang dia katakan saat kami masih masa penjajakan. Dia tetap gigih memperbaiki hubungan kami meski berjuang sendiri. Namun, sekarang sekat itu bisa kurasakan. Tidak hanya aku yang menciptakan, tapi Baim juga. Meski semua masih berusaha kami lakukan sewajarnya--kami masih bicara, seperlunya; masih tidur bersama; masih makan berdua. Yang jelas rumah ini jadi terasa sepi, walau berpenghuni. Sudah dua hari sejak perselisihan kami tentang kontrasepsi itu, kebekuan di antara kami belum cair juga. Kalau biasanya Bai

