Rules

1543 Kata
TV Series Walking Dead seasson 7 cukup membuat Jisoo dan Rose kecanduan menontonya, hingga sampai pukul 22.00 KST mereka masih asik duduk di sofa tengah apartement sambil memegang toples keripik singkong kesukaan mereka.  Sambil menikmati drama thriller itu Rose menanyakan keberadaan Jennie dan Lisa yang sampai malam begini belum juga pulang,      "Apa mereka masih di cafe unnie?" Rose melihat jam dinding dan kemudian menoleh ke arah Jisoo.      "Entahlah, tadinya aku mau nyusul mereka, tapi dijalan aku merasa sedikit pusing jadi aku memutuskan untuk langsung pulang." balas Jisoo sambil memegangi kripik di tangan kanan nya.  Rose mengendus kasar sambil mengalihkan pandanganya kembali ke TV berukuran 30 ichi, "Ini salahmu, kenapa kau biarkan mereka diluar berduaan?! kau tau kan mereka itu berbeda..".  Chaesoo tau persis hubungan Jenlisa, mereka semua memang bersahabat, tapi persahabatan yang dijalani Jenlisa sedikit agak berbeda, karena Jennie selalu meminta hal hal yang diluar lingkup persahabatan,  Meminta Lisa menciumnya setiap pagi, menggendongnya jika Jennie merasa sedikit malas beranjak dari sofa ke kamarnya, menyuapinya jika Jennie sedang tidak nafsu makan, dan tingkah manja lain nya.  Apakah Jennie seperti ini pada Rose dan Jisoo? sebenernya dia melakukan hal yang sama, hanya saja Jisoo dan Rose menanggapinya dengan biasa dan sesekali memaksa Jennie untuk sedikit mandiri, sedangkan Lisa?? Dia selalu menuruti semua permintaan Jennie, dan yang membuat hubungan Jenlisa semakin berbeda adalah karena Lisa bukanlah wanita seutuhnya, jadi.. orientasi s*x nya adalah menyukai wanita.      "Kita bersahabat chaeng-ah, mereka tidak akan menghancurkan persahabatan kita." Jisoo bicara sambil merangkul pundak Rose dengan mata yang masih fokus ke TV.     "Meskipun begitu, kita harus mengingatkan mereka lagi unnie~" Rose menolehkan wajahnya pada wajah Jisoo, menatap lekat sambil berkerut dahi karena dia takut hal buruk terjadi pada persahabatnya yang sudah bertahun tahun ini.                                                                                              ~¤~ Pukul 00.00 KST di apartment Jenchulichaeng,  Jisoo dan Rose sudah tidak menoton TV Series lagi, melainkan mereka duduk diatas meja makan yang berada di ruang tengah apartement, menunggu Jennie dan Lisa yang belum juga pulang,  Tiliiitt tiittt Sensor door apartement berbunyi, itu artinya Jennie dan Lisa sudah pulang. Jenlisa terdengar masuk apartment sambil terkikik geli membicarakan  hal lucu saat mereka di jalan tadi. Chaesoo langsung berdiri dan berlari menuju pintu masuk . Jennie dan Lisa yang baru masuk dan ingin membuka sepatu sedikit tersentak dengan kedatangan Chaesoo yang sambil berlari, apalagi tatapan mereka kini sangat menakutkan,      "Ka-kami pulang.." Lisa berucap dengan terbata sambil menatap rose dan Jisoo bergantian.  Rose menatap tajam 2 orang yang baru pulang ini, memunculkan ekspresi datar dan kemudian dia pergi dengan tergesa menuju meja makan lagi, sedangkan Jisoo.. dia menatap dingin Jennie dan Lisa yang pulang tengah malam,      "Masuklah... kami ingin bicara." Jisoo berucap dan langsung berlalu menghampiri Rose yang sedang duduk di meja makan sambil mengatur amarahnya.  Rose sangat khawatir pada Jennie dan Lisa karena tidak pulang hingga tengah malam, itu sebabnya dia sangat marah ketika melihat Jennie dan Lisa pulang dengan tertawa kecil, mereka tidak memikirkan Chaesoo yang mungkin saja menunggu mereka di apartement dengan perasaan khawatir.  Rose tau, Lisa pasti bisa melindungi Jennie, tapi... satu satunya ancaman bagi Jennie adalah Lisa itu sendiri. Itu sebabnya Lisa tidak tidur bersama Jennie, melainkan dengan Rose, karena Chaesoo takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan di kamar jika mereka tidur berdua. Yaaa... biar bagaimanapun Lisa memiliki adik yang bisa menegang kapan saja, dan mereka tidak ingin adik Lisa menegang karena tidur berdua Jennie.      "Kalian tau kan peraturan persahabatan kita apa?" Jisoo bicara dengan nada rendah sambil menatap Jennie dan Lisa bergantian.  Jennie duduk di samping Lisa, sedangkan Jisoo dan Rose menatap tajam kedua sahabatnya dari sebrang meja. Jenlisa sibuk menundukan kepala tak berani melihat mata Chaesoo yang tengah mengintrogasinya,      "Pertama, tidak boleh pulang larut malam." Jisoo mulai menghitung jumlah peraturan yang dibuat oleh mereka semua.      "Kedua, tidak boleh berkencan dengan salah satu dari kita." Peraturan bagian ini dibuat sudah lama, tepatnya sejak mereka SMP. Saat itu mereka bertekad untuk menjaga persahabat ini dengan tidak mengencani salah satu dari mereka, karena mereka takut jika itu terjadi maka persahabatan ini bisa hancur, alih alih mengantisipasi jika salah satu dari mereka berkencan lalu putus, maka bisa dipastikan persahabat mereka pun ikut terputus.  Lisa mulai mengangkat kepalanya pelan, menunjukan wajah memelasnya pada Chaesoo. Dia jadi merasa bersalah karena meminta Jennie menemaninya membeli mouse portable untuk laptop nya di Plaza Bundang; sebuah mall yang menjual beberapa sparepart komputer.  Mereka memang pulang malam hari ini, tapi bukan berarti mereka berkencan. Itulah mengapa Lisa berani megangkat kepalanya menatap sendu Jisoo yang sedang mengintrogasinya;dia ingin menyangkalnya.      "Mian... tapi kami hanya membeli ini di mall." Lisa berucap sambil menunjukan sebuah kantung plastik kecil yang di pegangnya sejak pulang tadi.           "Sampai malam?!" Rose mulai ikut bersuara, mengintimidasi 2 sahabat di depanya yang sibuk mengerucurkan bibir.      "Aniya Chaeng-ah, hanya saja tadi setelah membeli itu aku lapar, lalu kita makan di kedai ayam." Kali ini Jennie yang menjawab, dia juga merasa bersalah karena terlalu banyak memesan makanan hingga bingung sendiri cara menghabiskanya.      "Kami tidak berkencan, kenapa Unnie menyebutkan peraturan itu?" Lisa bertanya dengan ekspresi yang masih sama memelasnya.     "Aku hanya ingin mengingatkan kalian. Kalau diantara kita, tidak ada yang boleh memiliki perasaan lebih dari sahabat. Kalian ingat kan?" ujar Jisoo pada Jennie dan Lisa.  Entah kenapa, Jennie dan Lisa merasa kalau Chaesoo sedang mencurigai mereka. Mengendus kesal sambil mengalihkan pandanganya dari Jisoo, Jennie menunjukan perasaan tak nyamanya atas ucapan Jisoo barusan.  Jennie dan Lisa tau persis peraturan itu, dan mereka tidak pernah sedikitpun berfikiran untuk melanggarnya. Perasaan mereka sampai saat ini pyurr adalah perasaan sahabat. Lisa menolehkan wajahnya menghadap Jennie yang tengah memasang wajah kesal, sejenak dia merasa kecurigaan ini terjadi karena kondisi tubuh dan orientasi s*x Lisa yang berbeda,      "Apa ini karena aku berbeda? " Lisa menatap Chaesoo dengan sayu, begitu melas wajah Lisa hingga Chaesoo merasa tidak enak hati sendiri.      "Arra.. aku memang beda. Tapi... aku sungguh menyayangi kalian seperti saudara! apakah sebenarnya kalian tidak bisa menerima aku sebagai sahabat kalian?" Lisa kembali membuat perasaan Chaesoo menjadi lebih tidak enak lagi.  Bukan begitu maksud Chaesoo, hanya saja... Jenlisa memang menjalani persahabat ini dengan berbeda pula. Bukan hanya Chaesoo yang merasakanya, bahkan seluruh mahasiswa kampus yang mengenal mereka pun beranggapan sama.     "Lisa.. maksudku bukan itu. Semua bisa saja terjadi, misalnya aku bisa saja memiliki perasaan dengan Jennie, atau sebaliknya.... semua kemungkinan itu bisa saja ada Lisa." Jisoo bicara lembut pada Lisa, mencoba meluruskan asumsi buruk Lisa tentang pembicaraan ini.      "Maj-a Maj-a (Benar), tentu saja aku menerimamu Lisa, setulus hatiku! aku sangat menerima dan menyayangimu. Hanya saja aku takut... aku takut kehilangan kamu dan juga Jennie Unnie" Rose ikut meluruskan maksud dari pembicaraan ini.      "Kami mengerti. kalian tidak perlu khawatir, kami tidak akan menghancurkan persahatan kita selama bertahun tahun." Balas Jennie sambil tersenyum hangat menatap sahabatnya.  Lisa dan Jennie berhasil menjelaskan kesalahan mereka hari ini, dan Jisoo dan Rose pun sudah mengingatkan mereka. Setelah membicarakan ini dengan sedikit drama, akhirnya mereka bisa kembali bicara santai.                                                                                          ~¤~ Pukul 10.00 KST, Jenchulicaheng  sedang asik duduk di atas rumput taman kampus sambil beberapa kali mengambil foto wefie mereka. Beberapa kali Jennie meminta take ulang karena wajahnya yang terlihat tembam di kamera,      "Yaakk Unnie! pipi mu memang sudah seperti itu sejak dulu, aish saat kau masih kecil malah lebih parah" Rose berdecak sebal saat beberapa foto cantiknya terpaksa di hapus oleh Jennie.      "Hey Chipmunk! kau sebaiknya bercermin, pipi mu juga tembam tau! lagian... jangan bahas wajah kecil ku, dasar" Jennie membalas ejekan Chaeng padanya, membuat Lisa dan Jisoo menertawakan keduanya puas.      "Untunglah wajah kita selalu sempurna sejak kita kecil Unnie Hahahahha" Lisa berucap pada Jisoo sambil menaikan 2 alisnya dengan penuh percaya diri, membuat Channie malas mendengarnya tapi mereka tidak bisa membantah, karena memang begitulah kenyataanya. Jisoo bahkan mengangkat tanganya dan melakuakan high five dengan Lisa sambil menertawakan Channie yang sibuk memegan pipi mereka yang oversize.  Sapaan seorang wanita memecahkan keriangan antara keempatnya, Jennie pun langsung berdiri menyapa hangat wanita itu. Diikuti dengan Lisa, Rose dan Jisoo yang akhirnya berdiri juga menyapa kedatangan wanita yang sudah mereka kenal sejak masuk kuliah,     "Hai semuanya..." wanita ini melambaikan tangan kearah Jenchulichaeng.           "Hai.. kau sendirian? mana teman temanmu?" tanya Jisoo pada teman sekelas Jennie ini.  Wanita itu menoleh ke belakang sejenak, melihat ke 3 temanya yang sudah berjalan masuk ke dalam gedung dan kemudian kembali menatap Jisoo , "Mereka baru saja masuk..." Balasnya.      "Jennie-yaa, Ayo masuk bersama.." ajaknya lembut pada Jennie.      "ah, Nee.. Lisa, Chaeng, Unnie... Aku masuk duluan yah, lagipula kasian Chahee sendirian masuk kelasnya." Jennie berpamitan pada teman temanya dan langsung meraih lengan Chahee untuk di peluk.  Yah... Chahee adalah teman Jennie di kelas, mereka cukup akrab hingga 2 tahun ini mereka banyak melalui hal bersama. Itu sebabnya Jisoo, Rose dan Lisa juga mengenal Chahee, karena Jennie sering membicarakan Chahee juga.  Jennie dan Chahee berjalan menuju kelas, namun tiba-tiba Chahee menghentikan langkahnya dan menepikan Jennie di tembok lorong.     "Ada apa Chahee??" Jennie bertanya heran karena tiba tiba Chahee berhenti. Chahee memasang wajah malu sambil mengelus anak rambut di tengkuknya, "hemm.. Jennie-yaa , aku ingin bertanya sesuatu."     "Tanya saja!"          "Apa... kau dan Lisa berkencan?" Tanya Chahee penasaran. Jennie sedikit tersentak, lagi dan lagi orang orang salah paham akan kedekatan Jennie dan Lisa. Jennie menghembuskan nafas lirih dan menjawabnya "Aniyaa Chahee.. kau tau aku dan Lisa adalah sahabat." Jelasnya. Chahee menahan senyum, "Kalau begitu... apakah aku boleh mendekatinya Jennie-yaa?? Apa kau mengizinkanku? Bolehkah?" Chahee menghujami Jennie dengan pertanyaan yang seolah mendesak. Jennie berkerut dahi, kenapa pula Chahee harus meminta izinnya. Tapi... sejujurnya Jennie belum mau jikalau Lisa memiliki kekasih, alasanya sudah pasti dia takut Lisa-nya akan diambil! Dia tidak ingin perhatian dan kasih sayang Lisa saat ini diambil orang lain.     "Hemm.. lakukan saja jika kau mau. Tak perlu izinku." Jennie berjalan meninggalkan setelah menjawab pertanyaan Chahee barusan.     "YES!" Chahe berucap girang sambil  menyiku kan lengan dan mengepalkan tangan kegirangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN