Bab 4: Ritual Cinta Baru

1490 Kata
POV : Reo Minggu kedua dokumentasi, dan aku mulai mengerti kenapa sutradara film selalu terlihat lelah. Membawa kamera kemana-mana ternyata lebih menguras mental daripada fisik. Bukan karena beratnya—kamera digital kami cukup ringan—tapi karena tanggung jawab untuk menangkap momen-momen yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Setiap detik dengan Hara sekarang terasa berharga dan sementara pada saat yang sama. Pagi ini kami jalan-jalan ke Taman Suropati, ritual mingguan yang biasanya kami lakukan tanpa banyak berpikir. Tapi sekarang, dengan kamera di tangan, aku melihat segala sesuatu dengan mata yang berbeda. Cara Hara berhenti di depan pohon beringin tua dan mengelus batangnya, seperti menyapa teman lama. Cara ia tertawa ketika burung pipit hinggap di dekat kakinya. Cara ia mengumpulkan daun kering yang bentuknya menarik—kebiasaan yang dulu aku anggap aneh, sekarang terasa penting untuk diabadikan. "Kenapa kamu selalu ngumpulin daun kering?" tanyaku sambil merekam ia yang sedang membungkuk, memeriksa daun maple yang sudah cokelat keemasan. "Untuk bookmark," jawabnya tanpa mengangkat kepala. "Setiap buku yang aku baca, aku tandai dengan daun yang aku kumpulkan hari itu. Jadi kalau suatu hari aku buka buku lama, aku bisa ingat dimana aku ketika membacanya." Ia mengangkat daun itu, memeriksanya dengan teliti. "Daun ini dari hari kita jalan-jalan pertama kali setelah vonis dokter. Nanti akan aku pakai untuk menandai halaman buku diary yang sedang aku tulis." "Kamu nulis diary?" "Mulai kemarin. Hal-hal yang mungkin tidak tertangkap kamera. Perasaan, pikiran, mimpi..." Ia menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Hal-hal yang ingin aku ingat tapi takut lupa." Aku berhenti merekam, tiba-tiba merasa seperti voyeur di hidupku sendiri. "Hara..." "Jangan kasihan sama aku, Reo." Suaranya tegas tapi tidak marah. "Ini bukan tentang kasihan. Ini tentang... persiapan. Seperti orang yang akan pindah ke luar negeri, mereka kan simpan foto-foto rumah lama biar tidak homesick." "Bedanya, mereka bisa pulang kalau mau." Hara berhenti berjalan. Daun di tangannya bergetar sedikit, tapi ia tetap tersenyum. "Makanya aku harus pastikan 'rumah' yang aku tinggalkan ini terekam dengan baik." Kami melanjutkan jalan dalam keheningan yang tidak nyaman. Aku mengarahkan kamera ke jalanan, ke orang-orang yang berlalu-lalang, ke apa saja kecuali wajah Hara yang sedang berjuang tidak menangis. Kadang cinta itu artinya tahu kapan harus tidak merekam. Di bangku taman, kami berhenti untuk istirahat. Aku meletakkan kamera di pangkuan, tidak merekam, hanya mengamati Hara yang sedang memberikan remah roti kepada burung-burung dara. Ada ketenangan dalam gerakannya, seperti ritual meditasi. "Kamu tahu," katanya tanpa menoleh, "dulu nenek selalu bilang, kalau kita baik sama hewan, kita akan diingat di alam lain." "Alam lain?" "Entah lah. Mungkin surga, mungkin kehidupan selanjutnya, mungkin cuma dalam ingatan burung-burung ini." Ia tertawa kecil. "Kedengarannya konyol ya?" "Tidak." Aku meraih tangannya yang tidak sedang memegang roti. "Tidak konyol sama sekali." Seorang kucing belang tiga warna mendekat, mengeong manja. Hara langsung berbinar-binar, mengeluarkan suara-suara aneh yang ia klaim sebagai "bahasa kucing." "Halo, cantik," sapanya sambil mengulurkan tangan. "Kamu lapar ya? Sayang aku cuma bawa roti, tidak bawa ikan." Kucing itu mengendus tangannya, kemudian mulai berputar-putar di sekitar kaki Hara. Aku mengambil kamera, mulai merekam tanpa sadar. "Hara sama kucing," gumamku ke kamera. "Kombinasi yang selalu bikin aku iri. Kucing-kucing selalu langsung suka sama dia. Aku udah bertahun-tahun kenal sama kucing tetangga, tetap aja dia lari kalau lihat aku." "Karena kamu terlalu tegang," kata Hara sambil mengelus kucing itu. "Kucing bisa merasakan energy. Kamu harus rileks." "Aku sudah rileks." "Kamu bilang rileks tapi bahu kamu tegang, rahang kamu kenceng, mata kamu fokus seperti mau interview kerja." Aku sadar ia benar. Bahkan sekarang, sambil merekam momen sesederhana ini, aku merasa seperti sedang menjalankan misi penting. Seolah kalau aku melewatkan satu detik, satu angle, satu ekspresi, maka kenangan itu akan hilang selamanya. "Reo," suara Hara lebih lembut sekarang. "Aku tidak akan hilang besok. Atau minggu depan. Kita masih punya waktu." "Berapa lama?" "Tidak tahu. Tapi hari ini, aku masih di sini. Sepenuhnya di sini. Jadi... bernapas, oke?" Aku menarik napas dalam-dalam, perlahan menghembuskannya. Kucing itu menoleh ke arahku, mata kuningnya menatap dengan penasaran, kemudian berjalan mendekat. "Lihat tuh," bisik Hara. "Dia mau kenalan." Aku meletakkan kamera di bangku, mengulurkan tangan. Kucing itu mengendus, kemudian menyentuhkan hidungnya ke jari-jariku. Sentuhan kecil yang hangat. "Pertama kalinya," kataku, hampir tidak percaya. "Karena kamu sudah rileks." Kami duduk di bangku itu sampai kucing pergi, dalam keheningan yang kali ini terasa nyaman. Tidak ada kamera yang merekam, tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Hanya kami, bangku taman, dan sore yang perlahan berubah menjadi senja. Sore harinya, kami ke studio seni tempat Hara mengajar. Ruang kecil di lantai dua ruko kawasan Kemang, yang dinding-dindingnya penuh dengan lukisan anak-anak—monster berwarna-warni, rumah dengan cerobong asap, keluarga yang digambar dengan stik figure tapi penuh cinta. "Hara Sensei!" teriak seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun ketika melihat kami masuk. "Kenapa bawa kamera?" "Ini Om Reo, suami Sensei," kata Hara sambil mengelus rambut anak itu. "Dia lagi belajar jadi sutradara film." "Wah, keren! Sensei mau jadi artis?" Hara tertawa. "Bukan artis, sayang. Cuma... dokumenter tentang kehidupan sehari-hari." Aku merekam Hara berinteraksi dengan lima anak muridnya. Ada yang usianya lima tahun, ada yang hampir sepuluh. Semua dari latar belakang yang berbeda-beda—ada yang orang tuanya drop-off pakai mobil mewah, ada yang diantar naik angkot sambil bawa bekal nasi bungkus. Tapi di depan Hara, mereka semua sama. Dia memiliki cara mendengarkan yang membuat setiap anak merasa penting. Ketika Dimas, anak laki-laki berusia enam tahun, bercerita tentang lukisan dinosaurusnya, Hara mendengarkan dengan antusias yang tulus. "Ini T-Rex, tante. Dia paling ganas. Tapi sebenarnya dia baik, cuma tidak ada yang mau berteman sama dia karena giginya serem." "Kasihan ya," kata Hara sambil mengambil kuas. "Gimana kalau kita buatkan dia teman? Dinosaurus apa yang kira-kira mau berteman sama T-Rex?" "Yang baik hati!" "Yang mana yang baik hati?" "Yang makan tumbuhan!" "Brachiosaurus?" "Iya!" Aku merekam percakapan itu, terpesona oleh cara Hara mengubah cerita tentang monster menjadi cerita tentang persahabatan. Ini sisi Hara yang jarang aku lihat di rumah—Hara guru, Hara yang inspiratif, Hara yang membuat dunia terasa lebih baik dengan kehadirannya. "Sensei," suara Sari, anak perempuan yang paling kecil. "Kenapa Om terus-terusan rekam Sensei?" Hara menoleh ke arahku, kemudian kembali ke Sari. "Karena Om Reo ingin mengingat betapa cantiknya kalian. Kalau udah besar nanti, dia bisa tonton videonya lagi dan ingat betapa lucunya Sari waktu masih kecil." "Tapi Sensei juga ikut terekam." "Iya." "Berarti Om juga ingin ingat betapa cantiknya Sensei." Dari mulut babes. Aku berhenti merekam sejenak, menatap Hara yang wajahnya memerah. Ia tersenyum ke arahku—senyum yang dipenuhi cinta dan sedikit malu. "Iya," jawabku akhirnya. "Om ingin selalu ingat betapa cantiknya Sensei kalian." Malam harinya, kami menonton hasil rekaman sambil makan pizza yang kami pesan karena terlalu lelah untuk masak. Video demi video diputar di laptop, cahayanya menerangi wajah kami yang fokus. "Aku terlihat... bahagia sekali ya di video-video ini?" komentar Hara ketika melihat dirinya tertawa bersama anak-anak tadi sore. "Karena kamu memang bahagia." "Atau karena aku baik dalam berpura-pura?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Aku menghentikan video, menatapnya. "Maksudmu?" "Maksudku..." Hara ragu-ragu. "Kadang aku tidak tahu lagi mana yang tulus dan mana yang... performance. Aku tahu kamera sedang merekam, jadi aku berusaha terlihat baik-baik saja. Tapi apakah aku benar-benar baik-baik saja, atau aku cuma terbiasa acting?" "Hara..." "Aku takut, Reo." Suaranya mulai bergetar. "Aku takut video-video ini akan jadi bukti betapa pandainya aku bohong. Betapa baiknya aku menyembunyikan ketakutan. Dan suatu hari, kalau aku lupa semuanya dan nonton video ini, aku akan berpikir, Wah, perempuan ini terlihat sangat bahagia. Pasti hidupnya mudah." Aku mematikan laptop, menarik Hara ke dalam pelukan. Tubuhnya bergetar, tidak dari dingin tapi dari emosi yang sudah terlalu lama ditahan. "Dengar aku," kataku sambil mengelus rambutnya. "Kebahagiaan dan ketakutan bisa ada bersamaan. Kamu bisa benar-benar bahagia sama anak-anak itu tadi sore, dan di saat yang sama takut lupa wajah mereka. Kamu bisa benar-benar mencintaiku, dan di saat yang sama takut lupa bagaimana rasanya dicintai. Itu bukan kebohongan, sayang. Itu manusia." "Tapi bagaimana kalau suatu hari aku lupa bagaimana rasanya takut? Bagaimana kalau aku lupa bahwa hidup ini berharga?" "Maka tugasku untuk mengingatkanmu. Setiap hari. Bahwa hidup ini berharga karena kamu ada di dalamnya." Kami berpelukan dalam keheningan ruang tamu yang hanya diterangi cahaya lampu jalanan dari jendela. Pizza setengah dimakan dingin di meja, laptop tertutup, kamera diletakkan di sofa—semua barang yang menandakan kehidupan normal, kehidupan yang tidak tahu bahwa waktunya terbatas. "Reo," bisik Hara di telingaku. "Hmm?" "Besok kita rekam aku menangis, oke? Biar video kita juga punya bagian yang jujur." Aku mencium puncak kepalanya. "Oke. Tapi kita juga rekam kamu tertawa. Biar seimbang." "Deal." Dan dalam pelukan itu, aku menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang bahagia bersama. Cinta juga tentang bersedia patah hati bersama, takut bersama, dan tetap memilih untuk mencintai meskipun tahu bahwa setiap hari membawa kita lebih dekat pada perpisahan. Kamera boleh merekam kebahagiaan kami, tapi yang tidak akan pernah bisa direkam adalah keputusan kami untuk tetap memilih cinta, bahkan ketika cinta itu menyakitkan. Bahkan ketika cinta itu punya tanggal kedaluwarsa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN