bc

100 HARI TERAKHIR BERSAMAMU

book_age16+
19
IKUTI
1K
BACA
BE
family
submissive
drama
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Bagi Hara, seorang wanita ceria dengan semangat seni yang besar, pernikahan bukanlah akhir dari cerita cinta—melainkan awal dari sebuah proyek paling indah yang ingin ia bangun bersama suaminya, Reo. Namun di usia yang masih muda, Hara menerima vonis mengejutkan: Alzheimer stadium awal. Perlahan tapi pasti, hari-harinya akan hilang… ingatan demi ingatan akan tergerus, termasuk cinta yang kini ia genggam begitu erat.

Alih-alih menyerah, Hara mengusulkan sebuah ide: "Mari rekam 100 hari pernikahan kita."

Bukan sekadar dokumentasi—tetapi kapsul cinta, harapan, dan tawa, agar jika ia lupa segalanya, setidaknya ada bukti bahwa ia pernah sangat mencintai, dan dicintai.

Reo, seorang pria yang lebih pendiam dan rasional, setuju. Ia mulai merekam—dari hari pertama mereka bangun sebagai pasangan sah, hingga hari-hari penuh canda, pertengkaran kecil, kebiasaan aneh, bahkan detik-detik hening yang terasa paling nyata. Kamera menjadi saksi bisu dari cinta yang tumbuh, berubah, dan diuji oleh penyakit yang tak memberi ampun.

Namun di hari ke-100… Hara bangun dan tak mengenali siapa Reo.

Video-video itu kini beralih fungsi: dari kenangan menjadi petunjuk, dari dokumentasi menjadi jangkar, dari rutinitas menjadi satu-satunya cara Reo mencintai Hara kembali—setiap hari, dari awal.

Setiap pagi, ia putar satu video. Setiap malam, ia jelaskan siapa dirinya. Ia tidak meminta Hara mencintainya kembali… ia hanya ingin hadir untuknya, bahkan saat ia menjadi orang asing baginya sendiri.

Tapi ketika Hara mulai mempertanyakan kenyataan, video-video itu tak lagi cukup. Reo pun dihadapkan pada pertanyaan memilukan:

Apa arti cinta jika hanya satu orang yang mengingatnya? Dan sampai kapan ia sanggup mencintai seseorang yang tak lagi mengenal dirinya?

100 Hari Terakhir Bersamamu adalah sebuah surat cinta yang perlahan terbakar oleh waktu, sebuah kisah tentang keberanian mencintai di tengah hilangnya makna, dan tentang bagaimana manusia bisa tetap bertahan… bahkan ketika kenangan tak lagi berpihak

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Vonis yang Mengubah Segalanya
Ruang tunggu rumah sakit pagi itu terasa seperti limbo—terlalu terang namun tanpa kehangatan, terlalu sunyi namun dipenuhi bisikan tak kasat mata dari kegelisahan yang mengendap di udara. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi kopi dari mesin otomatis di sudut ruangan, menciptakan kombinasi yang aneh namun entah mengapa familiar. Hara duduk di kursi plastik berwarna hijau pucat, tangannya meremas erat jemari Reo dengan intensitas yang tak biasa baginya. Biasanya, ia adalah orang yang tak pernah diam—selalu bergerak, selalu berbicara, selalu menemukan sesuatu yang menarik untuk diamati. Tapi pagi ini, hanya ada gemetar halus di ujung jarinya yang mengkhianati kecemasan yang berusaha ia sembunyikan. "Lihat poster itu," bisiknya sambil menunjuk dinding di seberang mereka. "Lima langkah mencuci tangan yang benar. Siapa yang butuh lima langkah hanya untuk cuci tangan? Dua langkah sudah cukup—sabun, bilas, selesai. Atau mungkin tiga kalau kamu mau hitung air mengalir sebagai langkah terpisah." Reo tidak tertawa seperti biasanya. Bahkan tidak tersenyum. Matanya menatap lurus ke depan dengan fokus yang terlalu intens, rahangnya mengeras seperti sedang menahan sesuatu yang ingin meledak. Hara mengenal suaminya cukup baik untuk tahu bahwa Reo sedang membangun benteng dalam dirinya—cara khasnya menghadapi situasi yang tak bisa dikontrol. "Dan poster sebelahnya," Hara melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih tinggi, berusaha mengisi keheningan yang mulai terasa mencekik. "Piramida makanan sehat. Mereka bilang harus makan sayur lima porsi sehari. Lima porsi! Kalau aku makan sebanyak itu, perutku bakal seperti balon." Kali ini Reo menoleh, setengah tersenyum. "Kamu sudah sarapan tadi." "Roti bakar dengan selai kacang tidak termasuk sayuran, Reo." "Selai kacang dari kacang. Kacang adalah tanaman." "Dengan logika seperti itu, cokelat juga sayuran karena berasal dari kakao." "Teknis, memang benar." Percakapan kecil itu berhasil mencairkan sedikit ketegangan, membuat bahu Reo turun beberapa sentimeter dari posisi tegang yang sudah ia pertahankan sejak tadi. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pintu ruang dokter terbuka dengan bunyi klik yang terdengar terlalu keras di telinga mereka, dan seorang perempuan berjas putih keluar sambil memanggil nama mereka dengan suara yang profesional namun tidak tanpa empati. Dr. Sarah Wijaya—dokter yang wajahnya terlalu muda untuk menangani diagnosis-diagnosis berat, pikir Hara. Atau mungkin itu hanya cara otaknya menolak kenyataan, mencari alasan untuk tidak mempercayai apa yang akan dikatakan perempuan ini. Ruang praktek Dr. Sarah dipenuhi diplom dan sertifikat yang terpajang rapi di dinding kayu, seperti tentara kecil yang berbaris untuk membuktikan kredibilitas. Ada bau samar lavender dari diffuser di sudut ruangan—upaya yang baik untuk menciptakan suasana tenang, meski tidak cukup berhasil. Ada tanaman kecil di sudut meja—peace lily yang mekar putih, ironisnya mekar sangat indah di ruangan tempat harapan sering kali mati. Hara duduk di tepi kursi, masih menggenggam tangan Reo dengan erat, sementara matanya mengembara ke sana kemari, mencoba menunda momen yang tak terhindarkan. "Hasil MRI dan tes neuropsikologi sudah keluar," Dr. Sarah membuka file dengan hati-hati, seolah kata-kata di dalamnya adalah benda tajam yang bisa melukai. "Hara, saya tahu ini bukan berita yang mudah untuk didengar." Waktu bergerak seperti sirup kental. Hara merasakan detak jantungnya bergema di telinga seperti drum yang dipukul terlalu keras, mengalahkan suara dokter yang mulai menjelaskan tentang atrofi hippocampus, plak amiloid, dan istilah-istilah medis lainnya yang terdengar seperti bahasa asing. Dia mencoba fokus pada kata-kata itu, mencoba memahami, tapi otaknya seolah dibungkus kapas. Hanya satu frasa yang menghantam lebih keras dari yang lain, menembus kabut kebingungan dan ketakutan yang menyelimutinya: "Alzheimer stadium awal, onset dini." Dunia berhenti berputar. Hara menatap dokter itu, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar, seperti aktor yang lupa dialog di tengah pertunjukan. Di sampingnya, genggaman Reo mengerat hingga hampir menyakiti, tapi ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan adalah kekosongan yang aneh—seperti jatuh dalam mimpi, ketika tubuh terasa melayang namun pikiran terlalu lambat untuk memahami apa yang terjadi. Seperti mencoba berteriak dalam air, dimana suara tidak pernah sampai ke permukaan. Bagian dari dirinya—bagian yang rasional, yang terlatih menghadapi krisis kecil dalam hidup seperti deadline kerja atau masalah keuangan—berusaha memproses informasi ini secara logis. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang lebih dalam dan lebih primitif, menolak keras. Ini tidak mungkin terjadi. Tidak pada usia dua puluh delapan. Tidak ketika hidup baru saja mulai terasa sempurna. "Pada usia dua puluh delapan tahun?" suara Reo akhirnya memecah keheningan, rendah dan parau. "Kasus langka, tapi bukan tidak mungkin. Genetic early-onset Alzheimer bisa muncul pada usia yang sangat muda. Berdasarkan riwayat keluarga yang Hara ceritakan tentang neneknya..." Hara tidak mendengar lanjutan penjelasan itu. Suara Dr. Sarah menjadi seperti murmur di latar belakang, teredam oleh desingan dalam telinganya sendiri. Matanya tertuju pada jendela besar di belakang Dr. Sarah, di mana pohon mangga tua melambai tertiup angin pagi. Daun-daunnya berguguran perlahan, satu per satu dalam gerakan yang hampir seperti tarian, dan Hara tidak bisa menahan pikiran yang mengerikan: apakah begini cara ingatannya akan hilang nanti? Satu per satu, dalam gerakan yang indah namun tak terhindarkan, sampai tidak ada yang tersisa selain cabang-cabang kosong? Ia membayangkan otaknya seperti pohon itu—perlahan kehilangan daun-daun memori. Pertama daun-daun kecil: nama teman sekelas SD, lirik lagu yang dulu ia hafal, rasa es krim pertama yang ia coba. Kemudian daun yang lebih besar: wajah-wajah keluarga jauh, cerita-cerita masa kecil, skill-skill yang dipelajari bertahun-tahun. Dan akhirnya, daun-daun terbesar dan terpenting: wajah Reo, suaranya, sentuhan tangannya, rasa cintanya. "Berapa lama?" tanya Reo. Suaranya begitu tenang hingga terdengar menakutkan. "Sulit diprediksi pasti. Bisa lima tahun, bisa sepuluh. Tapi..." Dr. Sarah ragu-ragu. "Mengingat progres yang sudah terlihat dari tes, saya memperkirakan kita punya waktu sekitar tiga hingga lima tahun sebelum stadium akhir." Tiga hingga lima tahun. Angka-angka itu bergema dalam kepala Hara seperti hitungan mundur. Tiga hingga lima tahun sebelum ia lupa cara mengikat sepatu. Tiga hingga lima tahun sebelum ia tidak mengenali wajah Reo. Tiga hingga lima tahun sebelum ia menjadi orang asing bagi dirinya sendiri. "Ada pengobatan untuk memperlambat progres," Dr. Sarah melanjutkan dengan nada yang berusaha menenangkan. "Terapi kognitif, obat-obatan, perubahan gaya hidup..." Hara akhirnya bicara, suaranya seperti bisikan: "Dokter, apakah saya akan lupa bahwa saya mencintai suami saya?" Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut. Dr. Sarah menatapnya dengan mata yang penuh simpati—tatapan yang sudah terlalu sering ia berikan kepada pasien-pasien lain dalam situasi serupa. "Emosi dan perasaan cinta tersimpan di bagian otak yang berbeda dengan memori faktual," jawabnya pelan. "Tapi seiring waktu... ya, itu mungkin terjadi." Hara mengangguk sekali, perlahan. Kemudian ia berdiri, masih menggenggam tangan Reo. "Terima kasih, Dokter. Kami perlu waktu untuk... memproses ini." Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang memekakkan telinga, jenis keheningan yang terasa lebih berat daripada suara. Reo menyetir dengan fokus berlebihan, tangannya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih, mata terpaku pada jalan seolah-olah mengendarai mobil adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kontrol dalam hidup yang tiba-tiba terasa chaos. Hara menatap keluar jendela, melihat Jakarta yang bergerak seperti biasa—orang-orang bergegas ke kantor dengan tas selempang dan cangkir kopi, pedagang kali lima membuka lapak dengan gerakan yang sudah menjadi otomatis, anak-anak sekolah berlarian di trotoar sambil tertawa. Dunia terus berputar dengan rhythm yang sama, tidak peduli bahwa dunia mereka berdua baru saja runtuh. Di lampu merah Senayan, Reo akhirnya membuka suara. "Kita akan hadapi ini bersama." Hara menoleh padanya. Mata Reo lurus ke depan, tapi ia bisa melihat guratan-guratan kekhawatiran yang mulai terbentuk di sudut matanya. Suaminya yang selalu tenang, yang selalu punya solusi untuk semua masalah, kali ini terlihat sama lupa dan takutnya seperti dirinya. "Reo," bisiknya. "Aku takut lupa rasanya mencintaimu." Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa disaring, langsung dari tempat terdalam di hatinya yang paling takut. Reo menoleh sekilas, dan untuk sesaat, topeng ketenagannya runtuh. Matanya berkaca-kaca. Lampu hijau menyala. Mobil di belakang mereka membunyikan klakson. Reo kembali fokus menyetir, tapi tangannya yang bebas bergerak mencari tangan Hara, menggenggamnya erat. Di dashboard, tanpa mereka sadari, layar ponsel Reo menyala—aplikasi kamera terbuka entah karena tersentuh atau mungkin karena takdir. Cahaya merah kecil berkedip, menandakan sedang merekam. Momen itu—ketakutan pertama mereka, janji tak terucap untuk saling menjaga, genggaman tangan yang berkata lebih banyak daripada kata-kata—terekam dalam diam. Seolah alam semesta sudah mulai menunjukkan jalan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.6K
bc

TERNODA

read
201.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Kali kedua

read
221.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook