Sore itu apartemen kecil mereka dibanjiri cahaya emas yang menyusup melalui jendela ruang tamu, melewati tirai tipis berwarna krem yang sudah mulai pudar di beberapa bagian. Biasanya, ini adalah jam favorit Hara—golden hour yang membuat segala sesuatu terlihat seperti lukisan Impressionis, moment ketika dunia seolah dibungkus filter i********: alami. Tapi hari ini, cahaya itu hanya menerangi keheningan yang sudah berlangsung selama tiga jam sejak mereka pulang dari rumah sakit, keheningan yang terasa lebih berat daripada apapun yang pernah mereka alami dalam satu tahun pernikahan mereka.
Reo menemukan Hara duduk di lantai parket yang dingin, punggung bersandar pada sofa lusuh berwarna krem yang mereka beli second dari tetangga sebelah—sofa yang dulunya mereka anggap sebagai 'furniture pertama kami sebagai pasangan dewasa' dan sekarang hanya terlihat seperti perabot usang yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Di pangkuannya terbuka album foto pernikahan mereka—album yang masih berbau lem dan kertas baru, baru berusia sebulan, dengan sampul kulit imitasi yang mereka pilih karena budget terbatas tapi tetap ingin terlihat elegan.
Foto-foto mereka tersenyum dari halaman-halaman itu: Hara dalam gaun putih sederhana yang ia pilih setelah berminggu-minggu browsing online karena "tidak terlalu berlebihan untuk upacara kecil-kecilan", Reo dalam kemeja putih dan celana hitam yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya yang dua puluh sembilan tahun. Ada foto mereka berciuman di hadapan penghulu, foto saat memotong kue pengantin yang dibuat sendiri oleh ibu Hara, foto candid ketika mereka tertawa karena Reo hampir menjatuhkan cincin.
Air mata menggenang di mata Hara, menciptakan prisma kecil yang membiaskan cahaya sore, tapi anehnya, ia tersenyum—senyum yang akan sering Reo ingat kemudian, senyum yang akan muncul dalam mimpi-mimpinya di malam-malam yang paling sulit. Senyum yang sekaligus bahagia dan patah hati, seperti seseorang yang mengucapkan selamat tinggal pada dirinya sendiri tanpa berkata apa-apa.
"Kita terlihat begitu... naif di foto-foto ini," bisik Hara tanpa mengangkat mata dari album. "Seperti dua orang yang mengira mereka punya waktu selamanya."
Reo berjalan mendekat dengan langkah yang pelan, seolah takut mengganggu moment rentan ini, kakinya terasa berat. Ia duduk di lantai di samping Hara, bahunya menyentuh bahu istrinya dengan kehati-hatian, mencoba memberikan kehadiran tanpa tekanan. "Kita memang punya waktu," katanya, meski suaranya tidak meyakinkan bahkan bagi telinganya sendiri. Bahkan ia tidak yakin apakah ia sedang mencoba meyakinkan Hara atau dirinya sendiri.
"Berapa lama, Reo? Lima tahun? Tiga tahun? Atau mungkin dua tahun sebelum aku mulai bertanya siapa namamu setiap pagi?"
Reo tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan seperti itu.
Hara membalik halaman album. Foto candid mereka saat sesi foto pre-wedding di Monas—Hara tertawa hingga mata menyipit karena Reo salah tingkah saat fotografer menyuruh mereka berpelukan romantis, sesuatu yang tidak natural bagi mereka berdua yang lebih suka spontanitas. "Aku ingat hari itu kamu bilang kamu tidak suka difoto karena tidak photogenic. Kamu bilang kamu lebih suka berada di belakang kamera daripada di depannya. Sekarang lihat—kamu begitu tampan di sini. Kamu tersenyum seperti... seperti orang yang benar-benar bahagia."
"Hara..."
"Tidak, biarkan aku bicara." Hara menutup album, memeluknya erat ke d**a. "Aku punya ide."
Reo menoleh, menunggu.
"Aku ingin kita merekam seratus hari pertama pernikahan kita."
"Apa?"
Hara bangkit berdiri dengan energi yang tiba-tiba, album masih digenggam erat di tangannya. Matanya berbinar dengan intensitas yang familiar—cara matanya berbinar ketika ia mendapat inspirasi untuk lukisan baru, atau ketika ia punya ide untuk project seni bersama anak-anak di studio tempat ia mengajar, atau ketika ia menemukan solusi untuk masalah yang sudah berhari-hari ia pikirkan.
"Maksudku, bukan sekadar foto-foto statis seperti ini." Ia menggerakkan tangannya ke arah album. "Video. Video yang bergerak, bersuara, hidup. Setiap hari. Mulai dari besok—hari ke dua belas pernikahan kita—sampai hari ke seratus. Kita rekam semua. Cara kamu membuat kopi di pagi hari dengan ritual anehmu itu—tiga sendok untuk aku, tanpa gula untuk kamu, diaduk searah jarum jam lima kali. Cara aku selalu lupa meletakkan kunci di tempat yang sama sampai kamu akhirnya memasang hook khusus di dekat pintu. Cara kita bertengkar soal siapa yang harus mencuci piring karena kita berdua benci cuci piring. Cara kita tertawa sampai sakit perut karena joke yang bahkan tidak lucu tapi entah kenapa lucu untuk kita."
Reo menatapnya, bingung dan sedikit khawatir. "Hara, aku tidak yakin ini ide yang sehat..."
"Kenapa?"
"Karena..." Reo mencari kata-kata yang tepat. "Karena terdengar seperti kamu sedang mempersiapkan diri untuk mati."
"Bukan karena aku akan mati, Reo." Hara berlutut di hadapannya, meletakkan album di samping. Tangannya memegang kedua tangan Reo, hangat dan sedikit berkeringat. "Karena aku akan... melupakan bagaimana rasanya hidup."
Kata-kata itu menghantam Reo seperti pukulan di solar plexus. Ia menatap mata Hara—mata cokelat tua yang selalu membuatnya merasa tenang, yang sekarang dipenuhi ketakutan dan determinasi dalam proporsi yang sama.
"Bayangkan," Hara melanjutkan, suaranya mulai bergetar. "Suatu hari nanti, aku akan bangun dan tidak tahu siapa kamu. Tidak ingat bagaimana suaramu ketika tertawa. Tidak ingat bagaimana kamu selalu mengecek pintu dua kali sebelum tidur, atau bagaimana kamu suka makan mie instan pakai keju padahal kamu tahu itu tidak sehat."
Reo menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
"Tapi kalau kita punya video-video itu, mungkin... mungkin aku bisa mengingat kembali. Atau setidaknya, aku tahu bahwa aku pernah hidup. Benar-benar hidup. Dengan seseorang yang mencintaiku."
Keheningan mengisi ruangan. Di luar jendela, suara klakson mobil dan teriakan pedagang sayur keliling berlanjut seperti soundtrack kehidupan normal yang terasa sangat jauh dari kenyataan mereka.
"Hara," Reo akhirnya bicara, suaranya serak. "Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukan itu. Merekam kita setiap hari, mengetahui bahwa suatu hari video-video itu akan menjadi satu-satunya cara untukmu mengenalku... itu terlalu menyakitkan."
Hara diam sejenak, kemudian tersenyum—senyum yang berbeda dari sebelumnya. Lebih sedih, tapi juga lebih tenang. "Kalau begitu, anggap saja ini bukan untuk nanti. Anggap saja ini untuk sekarang. Untuk kita yang masih utuh, yang masih ingat kenapa kita saling jatuh cinta."
Ia bangkit dan berjalan ke jendela, membelakangi Reo. Cahaya sore membuat siluetnya terlihat seperti lukisan—garis-garis lembut yang akan hilang jika tidak segera diabadikan.
"Kamu tahu kenapa aku jatuh cinta padamu, Reo? Bukan karena kamu tampan—meski kamu memang tampan," Hara tertawa kecil. "Tapi karena kamu selalu memperhatikan detail kecil. Cara kamu ingat bahwa aku suka kopi dengan tiga sendok gula meski kamu bilang itu terlalu manis. Cara kamu selalu membawa payung cadangan karena kamu tahu aku sering lupa cek cuaca. Cara kamu diam-diam merapikan sketsa-sketsaku yang berserakan tanpa pernah mengeluh."
Reo berdiri, mendekatinya. "Aku masih melakukan semua itu."
"Aku tahu. Dan aku ingin mengingat itu. Selamanya, jika bisa. Tapi jika tidak bisa..." Hara menoleh, matanya berkaca-kaca tapi tetap tersenyum. "Setidaknya ada bukti bahwa aku pernah dicintai sepenuh hati oleh seseorang."
Mereka berdiri berhadapan di depan jendela, cahaya emas menerangi wajah mereka yang penuh dengan emosi yang tidak bisa diucapkan. Reo mengangkat tangannya, mengelus pipi Hara dengan ibu jari.
"Jika kita melakukan ini," katanya pelan, "kita harus berjanji untuk jujur. Tidak hanya merekam hari-hari baik. Juga hari-hari buruk. Ketika kita bertengkar, ketika kita frustasi, ketika kamu mulai... ketika gejalanya mulai terlihat. Jika ini akan menjadi satu-satunya cara untuk mengingatmu tentang kita, maka aku ingin semuanya nyata."
Hara mengangguk, air matanya akhirnya jatuh. "Nyata. Tidak ada pura-pura bahagia."
"Tidak ada pura-pura bahwa ini tidak menakutkan."
"Tidak ada pura-pura bahwa kita tidak akan patah hati."
Mereka berpelukan di depan jendela itu, dua orang yang tahu bahwa mereka baru saja membuat perjanjian yang akan mengubah sisa hidup mereka. Bukan perjanjian pernikahan yang penuh harapan tentang masa depan yang panjang, tapi perjanjian untuk menghidupi cinta dalam bayang-bayang kehilangan.
Reo mengambil ponselnya dari saku celana, membuka aplikasi kamera. "Apakah kita mulai dari sekarang?"
Hara menghapus air matanya, kemudian tersenyum—senyum yang pertama kali terlihat tulus sejak pagi itu. "Ya. Mari kita mulai dari sekarang."
Kamera mulai merekam. Layar kecil menangkap gambar mereka berdua—Hara dengan mata sembab tapi senyum penuh harapan, Reo dengan ekspresi yang mencampur cinta dan ketakutan. Dalam rekaman pertama mereka, suara Hara terdengar jelas:
"Ini hari pertama dari proyek seratus hari terakhir... eh, seratus hari terbaik kami. Dan kami berjanji akan merekam semuanya. Yang indah, yang menyakitkan, yang biasa-biasa saja. Karena cinta yang nyata tidak hanya terdiri dari momen-momen sempurna."
"Tapi juga momen-momen seperti ini," Reo menambahkan, suaranya hampir berbisik. "Ketika kita takut kehilangan satu sama lain, tapi memilih untuk tetap mencintai."
Kamera terus merekam saat mereka berpelukan lagi, matahari sore perlahan tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta, meninggalkan mereka dalam kehangatan cahaya yang sebentar lagi akan hilang—persis seperti waktu yang mereka miliki.