POV : Hara
Pukul lima pagi, sebelum alarm berbunyi, sebelum Jakarta mulai berderap dengan hiruk-pikuknya, aku sudah terjaga. Bukan karena tidak bisa tidur—meski memang sulit sejak kemarin—tapi karena ada sesuatu yang mendesak di dadaku, seperti deadline yang tidak bisa ditunda lagi.
Hari pertama.
Reo masih terlelap di sampingku, wajahnya tenang dalam cara yang hanya bisa dimiliki orang-orang yang tidur tanpa mimpi buruk. Aku mengamati garis rahangnya, cara rambutnya acak-acakan, cara dadanya naik-turun dalam ritme yang sudah sangat familiar bagiku. Berapa lama lagi aku akan ingat detail-detail ini? Berapa lama lagi wajah ini akan terasa seperti rumah bagiku?
Aku bangkit dengan hati-hati, kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Kamera digital yang kemarin kami beli masih dalam kotaknya di meja rias, beserta tripod kecil dan memory card cadangan. Reo sempat protes tentang harga—"Kenapa tidak pakai ponsel saja?"—tapi aku berkeras menginginkan yang terbaik. Jika ini akan menjadi satu-satunya cara untuk mengingatku tentang cinta, maka kualitasnya harus sempurna.
Di dapur, aku menyalakan kamera untuk pertama kalinya. Lampu merah kecil berkedip, menandakan sedang merekam. Jantungku berdebar lebih kencang dari yang seharusnya untuk kegiatan sesederhana ini.
"Okay," bisikku ke lensa, suaraku masih serak karena baru bangun. "Hari pertama dari... proyek cinta kami." Aku tersenyum canggung. "Namanya belum final. Mungkin 'Seratus Hari Terbaik Kami' atau 'Dokumentasi Cinta' atau... aku tidak tahu. Yang penting, ini permulaan."
Aku memutar kamera, menunjukkan apartemen kecil kami yang masih gelap. "Ini rumah kami. Tidak besar, tidak mewah, tapi... ini tempat dimana kami belajar menjadi suami-istri. Dimana Reo mengajariku cara membuat omelet yang tidak gosong, dimana aku mengajarkan Reo bahwa tidak apa-apa menaruh cangkir kotor di wastafel semalaman."
Aku berhenti bicara, tiba-tiba sadar betapa absurdnya ini. Berbicara sendiri pada pukul lima pagi, merekam sudut-sudut apartemen seolah ini adalah dokumenter penting. Tapi kemudian aku ingat wajah Dr. Sarah kemarin: "Emosi dan perasaan cinta tersimpan di bagian otak yang berbeda dengan memori faktual. Tapi seiring waktu... ya, itu mungkin terjadi."
Aku berdeham, kembali fokus pada kamera. "Maaf, aku gugup. Ini pertama kalinya aku berbicara pada kamera untuk... untuk alasan seperti ini." Jeda. "Reo masih tidur. Dia tidak tahu aku sudah bangun. Dia akan kaget kalau tahu aku sudah mulai tanpa dia."
Seperti dipanggil, suara langkah kaki terdengar dari kamar tidur. Aku cepat-cepat mematikan kamera dan meletakkannya di counter, pura-pura sedang menyiapkan sarapan ketika Reo muncul dengan rambut seperti sarang burung dan mata setengah terbuka.
"Pagi," gumamnya sambil menggaruk perut.
"Pagi, sayang."
Ia berjalan mendekat, memelukku dari belakang. Dagunya bertumpu di bahuku, dan aku bisa mencium aroma tidurnya—campuran sabun dan sesuatu yang purely Reo. "Kamu bangun cepat."
"Tidak bisa tidur."
"Karena..." ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi kami berdua tahu jawabannya.
Aku menoleh dalam pelukannya. "Reo, apakah kita mulai hari ini?"
Ia menatapku, masih setengah mengantuk tapi mulai fokus. "Kamu yakin?"
"Tidak," jawabku jujur. "Tapi aku lebih tidak yakin kalau kita tidak mulai."
Reo mengangguk perlahan, kemudian melihat kamera di counter. "Kamu sudah mulai tanpa aku?"
"Hanya... warming up."
Ia tertawa kecil, suara yang selalu berhasil menenangkanku. "Baiklah. Mari kita mulai dengan benar."
Aku menyalakan kamera lagi, kali ini meletakkannya di tripod yang menghadap ke dapur. Kami berdua berdiri di depan lensa, Reo dengan tangan melingkar di pinggangku, aku dengan kepala bersandar di dadanya.
"Take two," kataku ke kamera. "Hari pertama proyek kami. Kami berdua. Reo dan Hara." Aku menoleh ke Reo. "Mau bilang sesuatu?"
Reo kelihatan sangat tidak nyaman. Bahunya tegang, senyumnya kaku. "Eh... hai, kamera. Saya Reo. Ini... istri saya, Hara."
Aku tidak bisa menahan tawa. "Kamu bicara seperti sedang interview kerja!"
"Aku tidak terbiasa dengan ini!"
"Tidak ada yang terbiasa, bodoh. Santai saja."
Tapi justru karena kekakuannya itulah yang membuat momen ini terasa nyata. Bukan performa yang dipoles, bukan kebahagiaan yang dipaksakan. Hanya kami berdua, canggung dan mencoba, di pagi hari yang masih berbau kemungkinan.
Aku memutar kamera menghadap Reo. "Sekarang tunjukkan ritual kopi pagi-pagi kamu."
"Kenapa harus direkam? Ini hal biasa."
"Justru karena biasa makanya harus direkam. Suatu hari... suatu hari aku mungkin lupa bagaimana cara kamu membuat kopi untukku."
Reo diam sejenak, kemudian mengangguk. Ia mulai mengeluarkan alat-alat: coffee maker, gula, s**u kotak, dua cangkir biru muda yang kami beli di pasar loak Jatinegara. Gerakannya sistematis, seperti ritual yang sudah dilakukan ribuan kali.
"Tiga sendok gula untuk Hara," katanya sambil memasukkan gula ke cangkir. "Karena dia bilang kopi tanpa gula seperti hari tanpa matahari. Sangat dramatis untuk ukuran minuman."
"Aku dengar itu!" protestku dari belakang kamera.
"Dan tanpa gula untuk saya, karena saya sudah cukup manis secara natural."
Kali ini aku benar-benar tertawa, dan kamera menangkap suara tawa itu. Reo tersenyum—senyum pertama yang natural sejak kamera mulai merekam.
"Sekarang giliranku," kataku, memutar kamera ke arah meja makan. "Ini saatnya Hara melakukan ritual pagi yang kurang produktif."
Aku mengambil sketchbook yang selalu ada di meja makan, beserta pensil 2B yang sudah pendek karena sering dipakai. Reo membawa dua cangkir kopi dan duduk di seberangku. Kamera diposisikan untuk menangkap kami berdua.
"Setiap pagi," kataku sambil membuka sketchbook, "aku menggambar Reo. Tidak peduli dia sedang makan, membaca, atau bahkan sedang mengantuk. Aku gambar dia."
"Kenapa?" suara Reo dari belakang cangkir kopinya.
"Karena wajahmu berbeda setiap hari. Kadang lelah, kadang bahagia, kadang bingung karena lupa taruh dompet dimana. Aku ingin mengingat semua versi wajahmu."
Pensil mulai bergerak di atas kertas. Garis-garis halus membentuk mata Reo yang sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku definisikan. Bukan hanya cinta—ada sesuatu yang lebih dalam. Seperti seseorang yang sedang menghafalkan.
"Hara," suaranya pelan.
"Hmm?"
"Apakah kamu takut?"
Tanganku berhenti bergerak. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap kopi yang mengepul dari cangkir kami.
"Setiap detik," jawabku tanpa mengangkat mata dari sketsa. "Aku takut bangun besok dan lupa rasa kopi buatanmu. Takut lupa bagaimana suaramu ketika memanggil namaku. Takut lupa kenapa aku jatuh cinta padamu."
"Kamu ingat kenapa kamu jatuh cinta padaku?"
Aku akhirnya mengangkat mata, menatapnya langsung. "Karena kamu orang pertama yang tidak pernah bilang lukisanku 'cantik.' Kamu bilang lukisanku 'jujur.' Dan aku menyadari bahwa selama ini aku tidak ingin terlihat cantik—aku ingin terlihat nyata."
Reo tersenyum, kali ini benar-benar natural. "Dan kamu ingat kenapa aku jatuh cinta padamu?"
"Karena aku satu-satunya orang yang tidak keberatan kamu makan mie instan untuk sarapan?"
"Karena kamu satu-satunya orang yang melihat aku sedang makan mie instan jam tujuh pagi dan bukannya menghakimi, kamu malah bilang, 'Boleh aku cobain? Kayaknya enak.'"
Kami tertawa bersama, dan untuk sesaat, kamera terlupakan. Hanya ada kami, kopi, dan sketsa setengah jadi yang mulai menyerupai pria yang sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada wanita yang sama.
Siang hari berlalu dengan kamera yang ikut kemana-mana. Reo merekam aku membereskan studio seni, cara aku menata cat air menurut gradasi warna—kebiasaan obsesif yang selalu ia tertawakan. Aku merekam Reo bekerja di laptop, cara alisnya berkerut ketika konsentrasi, cara ia berbicara sendiri ketika mengetik email penting.
"Kamu sadar kamu ngomong sendiri?" tanyaku dari belakang kamera.
"Tidak, aku tidak ngomong sendiri."
"Tadi kamu bilang, 'Tidak, Pak Joko, data ini tidak masuk akal' dengan nada kesal gitu."
"Itu... bukan ngomong sendiri. Itu praktik argumentasi."
"Dengan siapa?"
"Dengan... audiens imajiner."
"Yang namanya ngomong sendiri, Reo."
"Shut up."
Malam hari, kami duduk berdampingan di sofa, laptop terbuka, menonton video pertama kami. Cahaya dari layar menerangi wajah kami yang fokus, mata yang tidak berkedip karena tidak ingin melewatkan satu detik pun.
"Kamu lihat betapa kaku-nya aku di awal?" Reo berkomentar ketika melihat dirinya yang berbicara seperti robot di pagi hari.
"Kamu lihat betapa dramatis-nya aku?" balasku ketika melihat diriku sendiri bermonolog tentang ritual kopi. "Aku terdengar seperti sedang baca puisi."
"Kamu memang selalu dramatis. Itu salah satu hal yang paling aku suka dari kamu."
Aku menoleh padanya. "Serius?"
"Serius. Kamu membuat hal-hal biasa terasa... penting. Istimewa. Seperti cara kamu bicara tentang kopi pagi, atau cara kamu menggambar aku setiap hari. Kamu membuat hidup ini terasa seperti worth documenting."
Kata-kata itu menyentuh tempat yang paling dalam di dadaku. Aku meraih tangannya, menggenggam erat.
"Reo, kita akan ingat hari ini, kan?"
"Tentu saja."
"Tidak, maksudku... kita berdua. Kita berdua akan ingat hari ini."
Ia diam sejenak, kemudian mencium keningku. "Kita akan ingat hari ini," bisiknya.
Tapi dalam keheningan yang mengikuti, kami berdua tahu bahwa janji itu mungkin tidak bisa ditepati. Mungkin suatu hari, hanya satu dari kami yang akan mengingat hari pertama ini. Hanya satu dari kami yang akan menonton video ini dengan mata berkaca-kaca, mengingat betapa bahagianya kami dulu.
Hanya satu dari kami yang akan mengingat seperti apa rasanya masih utuh.