“Ternyata gak cuman galak, tapi juga gila,” bisik Adelina. Anggara mengangguk. Atau lebih tepatnya tidak ada alasan bagi Anggara untuk tidak menyetujui ucapan Adelina barusan. Guru baru mereka itu berbicara dengan ular besar hingga setengah jam lamanya. Dalam pembicaraan itu, emosi yang Yurtira hadirkan berubah-ubah. Yurtira tertawa, kemudian sedih hingga menangis, lalu marah, begitu terus, berulang-ulang hingga setengah jam. Ular merah mulai berdiri. Tampaknya kondisinya membaik, dan stamina tubuhnya telah kembali. Kinara dan yang lainnya langsung lari menjauh, takut ular menyerang mereka lagi. Tapi tidak dengan Yurtira. Perempuan pendek gempal itu malah diam di tempat. Seolah tidak tahu bahwa ular itu bisa menelannya hidup-hidup kapan saja. Yurtira kini melambaikan tangan ke arah ula

