POV andin
Kantung kemihku terasa berat, kupaksakan diri untuk bangun demi mengosongkan kantung kemihku.
Setelah kembali dari panggilan alam mataku tertuju pada tempat tidur di sebelahku, rapi dan kosong, tidak ada penampakan raga suamiku disana.
Kemana dia?
Segera memeriksa ruang keluarga di depan kamar kami, kamar anak anak di sebelahnya kemudian keruang tamu hasil nihil.
Kemana kamu mas? pergi kok gak pamit?
Perasaanku campur aduk, kuatir, kesal, gelisah, marah bercampur aduk menjadi satu, berkali kali aku mengintip rumah mbak Medina melalu jendela samping, curiga jika suamiku berada di rumah pelakor itu.. tetapi tidak ku dapati tanda tanda kehidupan disana.
Di mana suamiku?
Tidak tenang! mencoba melanjutkan tidur di sofa tetap saja mataku tidak bisa terpejam, tidak ingin kegelisahan menguasai hatiku segera kulangkah kaki untuk mengambil wudhu.
Ya ... sholat Tahajjud kulaksanakan,
"Ya Allah, lindungilah keluargaku dari segala sesuatu yang buruk, dari bahaya yang mengintai, dari malapetaka yang akan menghancurkan.kokohkan hati ini jika engkau memang benar sedang memberikan cobaan"
Meringkuk di atas sajadah setelah hati terasa tenang, tak lama azan subuh kembali membangunkanku artinya aku kembali menjalankan tugasku sebagai seorang ibu rumah tangga.
"Ayah kemana ibu?" tanya Dzaki saat kami sarapan di meja makan.
"Hm. ayah sedang ada pekerjaan"
"Ayah sibuk Abang." Abi menyela
Aku mengangguk membenarkan ucapan Abi.
"Masa sibuk terus Ibu?."
Pertanyaan dari dzaki selalu membuatku memutar otak untuk mencari jawaban, sesuai dengan usianya dzaki anak yang cukup kritis dalam menanggapi sesuatu.
"Ayah sudah tidak sayang lagi sama kita." Faiz putra bungsuku ikut menyela meskipun mulutnya penuh dengan makanan.
"Sayang, ayah sedang cari uang buat jajan kita, buat beli es krim, buat main di play ground, buat beli ayam pop, ayah perlu uang yang baaaaaaaaaaanyak buat kita" tanganku membentang kekiri dan kanan saat memperagakan kata banyak.
Memberikan penjelasan kepada anak anak tidak segampang memberikan penjelasan pada orang dewasa, kita harus menyediakan bahasa yang kongkrit yang bisa diterima oleh akal pikiran mereka yang belum kompleks.
Setelah selesai sarapan kami bersiap untuk berangkat ke TK dan Paud menggunakan sepeda motor, namun saat membuka garasi kudapati mobil mas andre masih bertengger rapi di tempatnya.
Kembali menjadi sebuah pertanyaan di dalam hatiku yang memang gelisah, apakah suamiku bermalam di rumah mbak Medina?
Kami sudah berada di atas sepeda motor, namun mataku masih menatap kediaman mbak medina, menatap seluruh penjuru rumah untuk mencari Tanda tanda keberadaan mas andre disana namun apa yang kudapatkan menatap dari kejauhan?
Mobil Medina keluar dari bagasi, kaca jendela terbuka menampakan pemiliknya yang memandangku dan melemparkan seulas senyum lalu membunyikan klakson dua kali menandakan mbak Medina sedang mengucap selamat pagi kepada diriku.
Aku membalas senyuman manis itu dengan terpaksa, ingin rasanya aku bertanya tentang keberadaan suamiku, namun akal sehatku masih berusaha positif thinking, masih banyak kemungkinan lain yang akan terjadi.
***
Sebuah cafe di depan sekolah anakku adalah tempat pertemuanku dengan Jessi, tempat ini adalah tempat favorit para orang tua untuk menunggu anaknya.
"Suamiku tidak tidur dirumah.."
"So... " Jessi menanggapiku dengan santai, aku sampai kesal di buatnya.
"Apa yang akan aku lakukan?"
"Mending ikuti saran ibu kamu deh.. cerai aja sama suamimu itu dari pada nyusahin gitu"
BRAKKKK
Semua orang memandang kami saat aku berhasil menghantam meja dengan tanganku, rasa kesalku terhadap ucapan Jessi membuat tenagaku bertambah berkali lipat.
"Sorry" Jessi menundukkan kepala kepada beberapa orang yang memandang kepada kami.
"Kalau aku ingin ikut saran ibu aku tidak akan menceritakan masalahku kepada kamu" aku sewot, kubuang pandanganku kemana saja yang jelas aku tidak menatap wajah yang menyebalkan itu.
"Oke..oke.. maaf, i am sorry.. mau kamu gimana?" Jessi menyentuh bahuku.
"Aku mau suamiku kembali seperti dulu"
"Saran yang kemaren sudah di coba?" tanya Jessi lembut.
Aku mengangguk.
"Hasilnya bagaimana?"
Aku menggeleng.
"Dia tidak tertarik?" tebak Jessi asal.
"Jangankan tergoda mas Andre bahkan terlihat jijik melihatku berpakaian sexy dan berlaku centil, dia bahkan membiarkanku tidur sendiri dan pergi entah kemana hingga sekarang dia tidak kembali" sebenarnya malu menceritakan aib rumah tanggaku kepada Jessi, tapi aku mau bagaimana lagi hanya dengan berbagi cerita mengurangi sedikit beban perasaanku.
"Jangan putus asa, lakukan lagi, goda suamimu kembali. "
"Tidak, aku tidak ingin melakukannya lagi"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin merendahkan harga diriku Jes.. mas Andre sudah berkali kali melakukannya, aku tidak ingin harga diriku kembali terluka" mataku mulai basah, hatiku mulai bersedih.
"Kau sedang berjuang"
Jessi menarik kepalaku kedalam pelukannya, aku rasakan kehangatan dan ketentraman dalam dekapan Jessi, tak ku tahan lagi tangisan itu, kubiarkan dia tumpah hingga sesak di dadaku berkurang.
Ingin rasanya berbagi cerita kepada Jessi lebih lama, namun Abi dan Faiz sudah keluar dari sekolah paud disusul oleh dzaki, untuk sementara kami harus mengakhiri obrolan dan berjanji akan ketemu lagi pada esok harinya.
Sesampainya dirumah aku tidak mendapati lagi pintu yang terkunci, hanya tertutup rapat.
Sepertinya mas Andre sudah pulang.
Aku segera masuk kedalam rumah mencari keberadaan mas Andre, segudang pertanyaan sudah kusiapkan, mas Andre harus jujur kepadaku.
Pintu kamar kubuka dengan tergesa gesa, netraku langsung menangkap sosok mas Andre yang terbaring meringkuk menggunakan selimut, hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Brrrrrr brrrrrrr brrrrrrr" saat ku dekati tubuh mas Andre terdengar suara rintihan orang menggigil.
Aku mempercepat langkah menghampir mas Andre, kulihat wajahnya sangat pucat, tes suhu segera kulakukan, panas tubuhnya mencapai 38 Drajat Celcius namun mas Andre menggigil.
"Ya ampun mas, tubuh kamu panas banget, kamu sudah minum obat?"
Mas Andre menggeleng.
"Kok bisa sih mas?" aku sangat panik kemudian segera mengambil alat kompres tidak lupa membawa serta Paracetamol yang selalu tersedia di dalam kotak obat.
Mas Andre menurut saja apa yang aku lakukan pada dirinya, sambil mengompres aku menyuapi mas Andre nasi putih beserta ayam goreng yang aku buat pagi tadi, setelahnya aku langsung memberikan obat, beberapa saat kemudian mas Andre langsung tertidur dengan dengkuran halusnya.
Kemana kamu mas?
Sama siapa?
Apa yang kau lakukan?
Kenapa tidak izin dulu kepadaku?
Kenapa gawaimu tidak aktif?
dan lain-lain.
Semua pertanyaan yang kusiapkan seharusnya sudah ku lontarkan kepada mas Andre namun saat ini pertanyaan itu hanya mampu ku ucapkan di dalam hati saja.
Setelah mengurus mas Andre aku kembali kedapur untuk mempersiapkan makan siang anak anakku dan tidak lupa aku membuatkan bubur untuk mas Andre, setelah selesai aku segera memanggil anak anak untuk segera makan siang.
Terdengar pintu di ketuk, aku meninggalkan anak anak yang sedang menyantap makan siang untuk melihat siapa yang bertamu.
"Hallo mbak Andin, selamat siang. "
Wajah manusia yang tidak diharapkan kehadirannya saat ini muncul di hadapanku siapa lagi kalau bukan Medina.
"Hallo mbak Medina, ada apa ya?"
"Maaf mengganggu, boleh saya masuk?"
"Maaf mbak, keluarga saya sedang istirahat tidak bisa di ganggu, silahkan utarakan disini saja tujuan mbak Medina datang kemari"
"Maaf mbak, saya hanya mau mengantar ini, bubur ayam, tadi saya buat lebih, eh teringat sama keluarga mbak Andin dan anak anak mbak Andin, dari pada mubazir mending untuk mereka"
Bubur? ngapain mbak medina repot repot buat bubur untuk di kasihkan sama tetangga? datang kesini masih pakai seragam abdi negara lagi?
"Mbak..." mbak Medina menyodorkan rantang yang masih tergantung di tangannya.
"Oh ya! terimakasih" aku langsung mengambil rantang itu dan langsung menutup pintu karena tidak ingin berbasa basi terlalu lama dengan mbak medina.
Rantang berisi bubur itu kuletakan di atas meja ruang tamu, kutatap rantang itu dengan penuh kebencian, meskipun aku belum punya bukti jika mas Andre telah berselingkuh dengan Medina tapi aku mempercayai apa yang telah di wanti wanti oleh Bu Maya kepadaku, Medina adalah pelakor dan aku sangat tau pelakor akhir zaman pasti lebih garang di banding istri sah.