Part 10. Takut Ketahuan

1123 Kata
POV Andre "Aku minta maaf sudah ninggalin kamu, kamu tidak marah kan?" Sebuah pesan ku kirim melalui gawaiku kepada sang pujaan hati. "Aku ngerti posisi kamu mas!" Jawaban dari Medina membuatku sedikit lega. "Aku akan melakukan apapun sebagai ganti karena tidak mengantarmu pulang" Aku harap Medina bahagia mendapatkan pesan seperti ini. "Termasuk berkunjung kerumahku malam ini?" Aku senang sekali Medina kembali mengajakku kerumah, tapi aku bingung bagaiman caranya??? "Apa ada permintaan lain?" Aku harap Medina tidak memaksaku, Andin pasti curiga jika aku pergi kerumah Medina. "Aku tidak suka penolakan." Tidak mungkin ku biarkan Medina kecewa karena diriku, kali ini aku akan berusaha memenuhi permintaannya. "Baiklah!tunggu aku baby" Obrolan kami melalu aplikasi hijau berakhir, tidak lupa aku menghapus riwayat percakapan untuk menghapus jejak jika gawaiku di periksa oleh Andin, aku tidak boleh ceroboh seperti tadi. Sepanjang jam mengajar aku tidak fokus, memikirkan bagaimana caranya menyelinap keluar rumah Tampa sepengetahuan Andin untuk memenuhi permintaan medina, beberapa kali aku di tegur oleh rekanku karena aku kedapatan melamun. Ahhhhhh! Mengapa waktu begitu lambat, aku sudah tidak sabar menjelang malam tiba. "Tumben pulang malam mas?" tanya Andin sambil menyiapkan makan malamku, sekarang sudah menunjukan pukul 10 malam, aku baru sampai rumah. "Banyak kerjaan di sekolah" jawabku berbohong, padahal aku sengaja melambatkan jam pulang berharap Andin sudah terlelap di alam mimpi, tapi dia rela menungguku hingga larut begini. "Oh, pasti capek banget kan?" Aku mengangguk "Anak-anak sud.." ucapanku terputus saat memandang penampilan andin, melototi tubuhnya dari rambut hingga ujung kaki. "Kenapa mas melotot gitu?' "Kamu tidak masuk angin menggunakan pakaian seperti ini?" "ya enggak lah mas, kalau aku masuk angin dari 3 jam yang lalu juga sudah mual" Andin menjawab santai. Ya ampun! Andin memakai pakaian tidak cukup bahan itu sudah 3 jam, seluruh lekuk tubuh Andin terpampang nyata, termasuk lemak lemaknya, mungkin maksud Andin menggoda tetapi aku malah kehilangan selera, termasuk selera makan. "Aku menggunakan ini buat kamu mas, bukankah kamu tidak menyukai daster? kamu hanya menyukai pakaian sexy dan terbuka bukan?" Andin mengalungkan tangannya pada leherku, bergelayut manja. "Andin! please aku sedang ingin makan, bisakah kau jangan mengganggu ku!" Aku berusaha melepaskan lengan andin yang kokoh melingkar dileherku. "Baiklah. aku akan menunggumu di kamar, aku akan memberikan servis terbaikku malam ini" Andin berbisik di telingaku dengan suara mendesah dan manja membuat bulu kudukku seketika bangkit, bukan karena aku bernafsu tetapi karena aku merasakan Andin sedikit menyeramkan dengan bertingkah seperti ini. Apakah aku sudah tidak normal? melihat Andin bergelayut manja dengan menggunakan pakaian yang hampir menampakan seluruh bagian tubuh tidak membangkitkan napsuku? malah aku terkesan jijik melihat istriku bertingkah seperti itu! Setelah selesai makan aku tidak masuk kedalam kamar, sebisa mungkin aku menghindari Andin malam ini karena tujuanku malam ini adalah bertemu dengan Medina di rumahnya. *** Pukul 1.00 dini hari Aku keluar dari kamar anakku untuk memantau aktifitas Andin! Pelan-pelan aku membuka pintu, kulihat Andin sudah tepar diatas tempat tidur masih dengan menggunakan baju yang tidak pantas di tubuhnya, dengkuran kasar memenuhi kamar kami yang tidak seberapa luas ini. Tuhan! kenapa aku bisa menikahi wanita seperti Andin, dari dirinya terbangun hingga tidur tidak ada satupun titik indah yang bisa menyegarkan mataku. Segera meninggalkan kamar dan bergegas meninggalkan rumah untuk bertemu tetangga cantikku itu, sambil mengawasi keadaan sekitar memastikan tidak ada netra yang memandang, aku segera berjalan setengah berlari menuju rumah Medina. "Baby, mas di luar" aku mengetuk pintu, pandanganku terus mengawasi sekitar berharap tidak ada yang sedang mengawasi ku. Pintu langsung terbuka, Medina muncul dan langsung menarik tanganku untuk masuk. "Kau terlalu lama mas, aku hampir putus asa menunggumu" Medina bergelayut manja di pinggangku dan mendekatkan kepalanya kedadaku. "Maaf ya baby! aku harus menunggu Andin tidur dulu" "Kenapa mbak Andin tidak di suruh pulang saja kerumah ibunya" rengek Medina manja. "Baru kemaren dia kembali, masa di suruh pulang.. nanti ibunya curiga" "Uh, kalau begini kita jadi gak leluasa mas" Medina merajuk, melepaskan pelukan eratnya kemudian menghempaskan tubuh sexy yang di baluti baju tidur tipis keatas sofa. "Baby, kita tidak boleh membuat siapapun curiga dengan hubungan kita, aku sayang kamu Baby, percayalah" Kuraih tangan Medina lalu kukecup punggung tangan yang mulus dan putih bak kapas, kudekap seluruh tubuhnya penuh cinta, Tuhan! Beginikah rasanya jatuh cinta dengan sesuatu yang tidak bisa ku miliki seutuhnya beginikah rasanya memiliki cinta rahasia.. beginikah rasanya jatuh cinta kepada wanita setelah beristri.. "Aku rindu kamu mas, aku sangat rindu, bisakah kau melepaskan dahaga rinduku?" mata yang bulat indah milik Medina mendadak sayu, bibir tipis namun bervolume sedikit terbuka, oh aku tidak bisa menahan hasrat untuk tidak menyentuh surga dunia yang sudah di depan mata. "Akupun sama Baby! " tmTidak ada lagi jarak diantara tubuh kami, bahkan angin tidak bisa lewat di antara aku dan Medina, kami akan melalui malam yang panjang seperti ini. *** Azan subuh membangunkan ku. Pukul 4.45 pagi, aku langsung terduduk menyadari aku sedang tidak berada di tempat tidurku, ahh aku terlambat. Bergegas membuka selimut mendapati tubuhku dalam keadaan polos, mendadak kepalaku pusing mengingat aktifitas kami yang baru saja berhenti setengah jam yang lalu, iya, aku telah melakukan perbuatan haram itu. Dalam perasaan yang bercampur aduk aku berusaha berdiri sempoyongan, memunguti pakaian yang berserak di ubin untuk ku kenakan. "Mas, kamu baik baik saja?' sentuhan lembut sebuah tangan yang sudah melingkar di perutku. "Iya!" aku mengangguk, entah mengapa semangatku tiba tiba menghilang. "Apa kau menyesal telah melakukannya mas?" tanya Medina yang menempel di belakangku seperti gurita. Aku menggeleng namun hatiku mengatakan iya.. Aku manusia berTuhan Takut setelah melakukan dosa besar pasti menghampiriku. Ah mengapa aku melakukan perselingkuhan sejauh ini, sedalam ini, bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan ini semua di depan orang tuaku dan anak istriku. "Aku harus pulang, Andin pasti sudah bangun, dia akan curiga jika aku tidak berada di rumah" aku melepaskan pelukan erat Medina. Baru saja dua kali melangkah tubuhku kembali oleng, Medina menyambar bahuku lalu mendudukan ku di atas tempat tidur. "Sebaiknya kamu di sini saja mas, aku kuatir Andin tambah curiga melihat keadaan kamu seperti ini" aku diam mendengarkan tutur dari Medina. "Aku tau, perasaan kamu pasti sedang berkecamuk, aku tau kamu pasti sedang menyesal telah tidur bersamaku, mas kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku" Aku diam tidak bergeming, semua yang di katakan Medina adalah benar. "Mas, kau bisa meninggalkanku setelah ini, anggap saja semua ini tidak pernah terjadi" Medina berbaring membelakangi aku yang masih duduk. Segera aku berbaring dan memeluk tubuh yang di bungkus oleh selimut, mengecup kepalanya dan menbelai rambut halusnya. "Aku tidak pernah mengatakan akan meninggalkanmu baby! aku hanya belum terbiasa melakukan ini semua". Bukan saja aku, Medina juga pasti merasakan ketakutan hanya saja jika ketakutan ku adalah karena dosa dan tanggung jawab maka ketakutan Medina adalah akan ku tinggalkan setelah aku tiduri. Tidak hanya Medina semua perempuan pasti akan merasa takut di tinggalkan oleh lelaki yang telah menidurinya kecuali perempuan itu adalah p*****r.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN