Part 9. Tetanggaku Pelakor

1137 Kata
POV Andin Permasalahan rumah tangga yang aku jalani bersumber dari dua hal sebab akibat, pertama aku yang tidak bisa merawat diriku dan kedua mas andre yang tidak bisa menjaga pandangannya. Sku butuh tempat bersandar untuk menceritakan segala masalahku, tetapi ibuku tidak mungkin menjadi sandaran pasti aku akan rebah mengingat dia memang tidak menyukai mas Andre, bercerita dengan mertuaku juga bukanlah solusi karena dia pasti akan membela anaknya. Aku teringat dengan sahabat ku sewaktu sekolah, Jessi, dia sahabat karibku yang sangat mengerti diriku, selalu ada saat aku membutuhkan bantuannya, teringat saat hubunganku dan mas Andre terhalang oleh restu ibuku Jessi yang membujuk ibuku untuk kami tetap menikah. "Bisaku tebak, kalau kamu sekarang sedang dalam masalah? setelah bermukadimah Jessi masuk ke acara inti, dia bisa membaca maksud dan tujuanku untuk bertemu dirinya. "Kau sahabat terbaikku" aku memuji Jessi di iringi dengan senyuman manis. "Ceritakan." Aku langsung bercurhat dengan sahabatku Jessi, ada tangis yang menghiasi di sela sela ceritaku, Jessi sangat menyimak ceritaku yang cukup khidmat menurutku. "Setidaknya kamu masih beruntung Andin" "Beruntung?" "Iya" jawab Jessi lesu. "Kamu bilang aku beruntung di saat suamiku membandingkan aku dengan wanita lain dan mungkin saja dia sudah menjalin hubungan spesial dengan wanita itu" "Setidaknya kamu punya anak anak yang lucu" Jessi memandangi anak anakku yang ada di ruangan bermain, cafe ini memang menyediakan tempat bermain untuk anak anak sebelum menikmati menu yang ada di cafe. "Aku butuh solusi untuk masalahku Jessi" "Solusi yang bagaimana Andin? emangnya suami kamu terbukti selingkuh?" Aku menggeleng pelan "Jika dia tidak terbukti selingkuh kamu jangan kuatir Andin, mungkin suamimu sedikit bosan kamu hanya perlu improvisasi dalam penampilan kamu dan permainan ranjang kamu" "What?" mendengar saran dari Jessi aku sedikit tidak mengerti. "Kamu tidak paham?" Aku menggeleng. "Ubah penampilan kamu dan saat melayani suami mu itu lakukan dengan agresif dan bermacam gaya, buat suamimu tidak punya waktu sedetikpun untuk memikirkan wanita lain" Aku menatap Jessi terpaku, tidak percaya dengan apa yang di ucapkannya. "Tidak perlu berekspresi berlebihan Andin, yang baru saja aku ucapkan adalah hal yang lumrah dalam hubungan suami istri, jika selama ini kau tidak pernah melakukannya pantas saja jika suamimu melirik wanita lain" "Bagaimana mungkin aku melakukannya Jessi, setelah seharian mengurus anak anak dan suami, mulai dari pakaian, makanan, kebersihan rumah, belanja dapur, mengantar sekolah, mem..." "Jangan di jabarkan semua Andin, semua orang tau pekerjaan rumah tidak akan ada habisnya, tetapi kamu harus ingat kamu juga butuh waktu untuk dirimu sendiri" Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi untuk memikirkan kembali saran dari Jessi. Namun saat mendongakkan kepala mataku tertuju pada meja di ujung, seorang lelaki yang sedang menggenggam tangan seorang wanita, aku mengenalnya... Aku mengenal laki laki itu, dia suamiku. *** Setelah berjuang untuk tidak emosi saat melihat kelakuan suamiku, aku berhasil membawa mas Andre kemeja tempat aku dan anak anakku makan. Bukan Tampa alasan atas tindakanku yang sengaja pura pura tidak tau dengan kelakuan suamiku, aku hanya tidak ingin ayah dari anak anakku itu malu di hadapan masyarakat jika aku melabrak mereka, apa lagi di hadapan anak anaknya aku menjaga itu. Aku pulang bersama mas Andre, di dalam perjalanan tidak ada percakapan yang berati antara aku dan mas Andre, tetapi dapat kutangkap kegelisahan dari wajah dan tingkah mas andre, sepertinya dia mengkhawatirkan sesuatu, berkali kali memperhatikan layar gawai yang tidak menyala. Kami sudah sampai di depan rumah, mas Andre langsung pulang ketempat nya brkerja Tampa masuk dulu kedalam rumah, takut terlambat katanya. "Hei! " ku dengar seseorang memanggilku sebelum masuk kedalam halaman rumah. "Andin, sini" lambai Bu Maya, tetangga sebelah rumahku. "Ada apa Bu?" aku harus tau dulu tujuannya memanggilku apa, kalau hanya sekedar bergosip ria aku tidak punya waktu, segudang pekerjaan rumah sudah menungguku. "Sini, ada info penting yang harus aku sampaikan kepada kamu" bu Maya nampak berantusias. "Info apa?" tanyaku heran. "Ini penting andin, menyangkut ketentraman kita di komplek ini, yang lain sudah pada tau, kamu saja yang ketinggalan informasi karena tidak ada di rumah beberapa hari" ucap Bu Maya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya. Mendengar ucapan Bu Maya rasa penasaran menyerang ku, informasi seperti apa yang di maksud oleh Bu Maya? "Baiklah." "Dzaki! kamu ajak Abi dan Faiz masuk dulu ya nak, bunda ada urusan sama Tante Maya, jangan lupa ganti pakaian, Cuci kaki dan tangan oke" Dzaki mengangguk "jangan lama lama ya Ibu" Aku segera meninggalkan halaman rumahku untuk menghampiri Bu Maya yang sudah duduk di teras rumah, keadaan sekitar rumah juga sepi karena matahari tepat di atas kepala membuat orang malas keluar rumah. "Kemana saja? hampir 2 Minggu tidak kelihatan?" Bu Maya langsung merongrong aku dengan pertanyaan. "Kerumah ibu, beliau kangen sama cucunya" "lama amat, gak takut ninggalin suami sendiri lama lama? nanti kepincut sama pelakor di sebelah rumah mu" "Di sebelah rumahku ada Bu Maya, masa Bu Maya mau jadi pelakor" ucapku mengandung candaan, tetapi Bu Maya menepis bahuku kalau dia sekarang sedang mode serius. "Bukan aku, itu tetangga baru kita" Bu Maya mencondongkan bibirnya kearah sebelah rumahku, tepatnya rumah mbak Medina. Aku menelan ludah, hampir lupa kalau kami memiliki tetangga baru. "Bu Maya jangan nyebarin gosip, nanti jadi fitnah" aku rasa tidak perlu menanggapi informasi yang di berikan oleh Bu Maya. "Saya tidak fitnah Andin, sebelumnya dia itu tetangga sama saudara saya, suaminya polisi, eh tau taunya selingkuh sama suami saudara saya, dia di labrak oleh saudara saya dan diancam untuk melaporkan kepihak berwajib jika dia tidak segera pindah rumah" Aku kaget mendengarkan cerita dari Bu Maya, firasatku menjadi semakin tidak enak. "Apakah cerita ini benar Bu Maya?" "Benar dong masa saya bohong!, saudara saya sering curhat sama saya, wanita itu seperti ular yang beracun, dia pandai merayu laki laki dengan berbagai cara,, terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas saya sudah menyampaikan hal ini sama kamu" "Ya saya percaya Bu,, terimakasih informasinya Bu.. dengan informasi ini kita harus lebih waspada ya Bu Maya.." aku berusaha terlihat baik baik saja, seulas senyum tidak lupa aku selipkan dalam obrolan kami karena aku tidak mau menceritakan apa yang aku alami, aku tidak mau gosip menyebar tentang hubungan suamiku dan mbak Medina yang belum tentu benar. "awajib waspada, apalagi jika kulihat wanita pelakor itu glowing minta ampun, penampilannya juga sexy, sepertinya kita harus membeli kaca mata kuda untuk suami kita Andin" "Hahahaha " aku tertawa mendengar tutur dari Bu Maya, bisa bisanya dia bercanda. "Kamu jangan tertawa Andin, aku sedang tidak bercanda. kalau suamimu beneran kepincut dengan pelakor itu baru kamu tau." ucapan Bu Maya bagaikan sebuah do'a bagiku. "Amit-amit Bu, jangan ngomong gitu aku takut" jantungku berdetak hebat mendengar ucapan dari Bu Maya, mau marah rasanya juga tidak pantas karena bu maya jauh di atas umurku. Obrolan kami segera berakhir karena aku harus pulang kerumah, kembali mengurus anak anak dan rumah yang aku tinggalkan dalam keadaan berantakan. Meskipun hati dan perasaanku dalam keadaan tidak tentu arah, perkejaan rumah tidak bisa aku abaikan, aku tidak bisa lepas tanggung jawab itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN