Menatap sedih istrinya yang kini berusaha untuk menelan sesuatu. Hanya bubur saja sepertinya susah untuk menelan. Untung saja dia sudah sampai di sini. Karena pesawat yang ditumpanginya sempat mengalami delay. Jadi sedikit terlambat sampai di sini. “Sayang, kalau sudah tak bisa ditelan jangan dipaksakan.” Brian berusaha menyingkirkan mangkuk bubur yang kini ada di atas pangkuan Brina. Setelah tadi tangis istrinya reda, Brian dengan sabar mengganti piyama dan selimut yang kotor. Membantu istrinya untuk membersihkan diri. Dan sekarang membujuk Brina untuk makan. Brian sendiri duduk dengan bersandar di dinding di atas brankar. Lalu Brina berada di atas pangkuannya. Dia tak ingin melepaskan istrinya itu. Terlalu menyakitkan melihat istrinya begitu kesakitan. Mengusap rambut panjang yang kini

