Brina bersyukur akhirnya dia diperbolehkan pulang ke rumah. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Lagipula sejak kedatangan Brian, entah kenapa kesehatannya berangsur pulih. Makannya sudah mulai teratur, meski hanya memakan bubur saja yang baru bisa diterimanya. Tapi setidaknya perutnya tak menolak. Frekuensi muntah juga sudah berkurang, meski masih mengalami hal itu. Brian sendiri selalu menjaganya, membujuknya untuk makan dengan berbagai cara. Sehingga Brina sendiri merasa terlalu dimanjakan oleh Brian. “Kenapa langsung membawaku ke rumah ini? Bukankah di rumah Mama dan Papa saja lebih baik?” Brina mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar rumah Brian. Sudah hampir satu minggu dia tak menginjakkan kakinya di sini. Sejak Brian pamit ke London. Dan kali ini Brian langsung meng

