Brina merasakan kecupan di kening. Terasa hangat, tapi dia terkejut saat menyadari ada setetes air mata yang membasahi. Ketika dia mendongak untuk menatap Brian, dia melihat air mata menetes dari pelupuk mata suaminya. Bagaimanapun juga dia merasakan hal yang sama. Hatinya hancur, entah karena perpisahan ini atau karena kondisi dirinya yang masih begitu lemah. “Aku akan langsung mengabarimu kalau aku sampai di sana. Sayang, jangan bandel ya. Diminum s**u hamilnya, walaupun belum bisa makan nasi kamu kan sudah bisa makan yang lain. Harus selalu diisi perutnya. Biar dekbay sama kamu sehat.” Usapan pada pipinya membuat Brina mengangguk tanpa suara. Baru kali ini, dia sadar kalau dia tak bisa jauh dari Brian. Suami berondongnya itu selama satu minggu ini terlalu sempurna untuknya. Tapi bagaim

