Brian hanya menatap nanar flatnya. Semuanya berantakan. Meja dan kursi sudah terbalik dan tak pada tempatnya. Bahkan kaca yang ada di depannya sudah hancur berkeping-keping. Dan Brian hanya mendengus kesal. Dia masih belum puas. Harusnya dia sudah mencekik Revan saat ini. Amarahnya sudah sampai batas maksimal dan sudah meledak sejak tadi. Sejak suara pria b******k itu menjawab ponsel istrinya, . Dan dia hampir menghantamkan kepalan tangannya lagi ke dinding kamarnya saat ini. Mendapati hatinya mencelus membayangkan tubuh Brina disentuh oleh Revan. Pria yang harusnya sudah dibunuhnya sejak dulu, saat pria itu berani menyakiti Brina. Kekasih hatinya. Brian duduk dan menatap jendela kamar flatnya. Langit malam ini tampak kelam. Tadi dia marah-marah kepada istrinya yang rapuh itu

