Brina menghela napasnya. Masih merasa sesak atas semua yang terjadi. Dia tahu kalau ini menyakiti semuanya. Dia, Revan, dan juga Brian. Dari semua permainan hati ini tidak ada yang mendapatkan kedamaian. Seperti saat ini, dia sudah terlelap begitu lama. Meringkuk di atas kasur di dalam kamar flat milik Brian. Di London. Sejak dia memberikan maaf kepada Brian, dia memang belum keluar kamar. Dia masih butuh waktu untuk bertemu dengan Revan. Masih terlalu rumit untuk mengintai tentang perasaan hatinya. Lukanya masih belum sembuh atas kenyataan ini. Tapi dia tentu saja tak bisa membuat Brian merasa terus bersalah. Meski dia memang bersalah. Menepikan hati untuknya sendiri. Brina belajar dewasa, dan memaafkan. Saat ini, dia terbangun karena hawa dingin yang begitu menusuk. Lupa ka

