“Iya, Mah. Makanya Brian tanya nih, pas Mamah hamil Brian nih ya, apa ya kayak gitu?” Brian melirik Brina yang masih tertidur lelap. Semalam Brina tak bisa tidur karena terus memuntahkan apa pun yang dimakannya. Brian makin khawatir karena istrinya itu bersikeras tak mau ke rumah sakit. Dia duduk di atas kasur, di sampingnya Brina masih meringkuk dalam selimut. Dia sudah meminta izin lagi ke kantor Brina agar wanita itu diberikan cuti sakit sampai sembuh. “Waah, Mama mau cepat punya cucu ini. Beneran itu, Yan, istri cantikmu itu pasti hamil. Positif, tif ... tif.” Brian langsung memutar bola mata mendengar nada riang mamanya. Kemudian dia melihat Brina menggeliat. Tentu saja dia langsung berpamitan kepada sang mama karena takut kalau dia memberi tahu kepada mamanya tentang kehamilan Br

