Atas segala berkat rahmat Tuhan, Pak sialan Pranaji masih hidup setelah telat makan. Bukan berarti aku akan melanjutkan kehidupan normal dan monotonku begitu saja. Sepulang dari mol, kami berakhir di klinik. Sesuai perkiraan, Deva yang mengidap maag terpaksa menerima kalimat penuh cinta ala dokter (baca: bedrest selama beberapa hari) dan sederet tulisan puitis (baca: resep obat dokter). Awalnya aku berpikir absennya Deva di kantor sama dengan aku bernapas lega. Tiada daftar kerja serupa romusha dan tingkah bos super aneh. Akhirnya aku mesti terima takdirku tidak semulus bayangan. Deva memaksaku datang ke rumahnya setiap hari. Beragam alasan diberikan. Entah itu mengirim laporan yang perlu ditandatangani, mengantar berkas rekam jejak keuangan selama sekian periode, sampel barang yang dikiri

